Deddy Corbuzier, Keceplosan atau Watak Aslinya?

ð˜ŋ𝙚𝙙𝙙ð™Ū

Kekaguman seseorang terhadap orang lain bisa dengan mudah rontok seketika. 

Sepotong komentar Deddy Corbuzier tentang para santri yang menutup telinga ketika terganggu oleh musik adalah contohnya. 

Pelajaran yang bisa kita petik adalah: hati-hatilah dengan sikap impulsif kita. 

"Impulsif" adalah berkenaan dengan sikap dan pengendalian diri kita sendiri. Ia akan ditandai orang dari hal yang "remeh temeh"... justru pada saat kita bereaksi spontan terhadap sesuatu yang kita anggap sepele.

Sepotong komen Deddy itu adalah sikap impulsif. Ia lontarkan dengan enteng, tanpa beban. Kental sekali terlihat bahwa ia ingin menampakkan kedekatannya terhadap orang yang dikomenin. Tapi berhubung dia publik figur...  dan -- ini yang penting -- obyek komennya adalah hal sensitif... maka jutaan pasang mata dan telinga tiba-tiba seperti kamera yang melakukan zooming close up. Menyorotnya dengan sangat ekstrim-dekat. Lalu spontan menganggap sikap impulsifnya sebagai "sikap asli"nya... suara lubuk hatinya... terhadap para santri. Jangan heran jika kemudian ada yang mengaitkan dengan kemualafannya.

Bisakah itu dianggap sebagai "keceplosan"? Bisa. Sangat bisa. Dan gak ada salahnya Deddy minta maaf. Mengapa? Ya tadi itu... justru karena dia publik figur. Mutlak bagi publik figur untuk peka mana hal-hal yang sensitif bagi publik dan mana yang tidak. 

So, hati-hatilah dengan sikap impulsif kita.

(Joko Handipaningrat)