Aku Tak Terima Santri Tahfidz Dilabeling "Radikal"

Radikal!

Aku sebenarnya sudah berjanji dalam diri sendiri untuk tidak tertarik komentari terkait isu Agama. Masyarakat kita anggap Agama itu believe. Sementara, pada saat ini terjadi distrust luar biasa jika kita membahas isu agama. Aku sudah bertekad diam untuk hal ini: diam adalah emas.

Hanya saat baca Share di WAG yang kuikuti tentang "Label Radikal" terhadap Santri yang Vaksin dan di-framing dengan framing yang kuanggap tidak benar, maka jiwaku ora terimo. Aku speak out!

Ini labelling yang TIDAK ADIL sama sekali. Isu radikal yang ditiupkan ini bukan isu diskursus tulus untuk Sintasa vs Anti Thesa, tapi lebih pada mendeskriditkan dan memojokkan; "membully" dengan labelling pada orang yang berbeda dengannya. 

Jika sang santri menyakini itu pilihan sikapnya, dan toh itu pilihan yang sah, kenapa harus ada yang terganggu dan me-labelling jelek? Mestinya kita beri respek atas pilihan hidup setiap orang selama itu dalam koridor kita bermasyarakat. 

Lah tak jelasin se-logis itu, malah berbagai tuduhan masuk ke aku, telunjuknya diarahkan ke aku: termasuk labelling radikal pun terlekatkan, lalu plus tuduhan TFC - Taliban Fans Club hahaha...

Piye jal, ku pikir aku iki kih "the Real Free Thinker". Kok iso yo sejuta topan badai bak semburan mitralyur, dapat tuduhan Radikal dan Taliban Fans Club?!  😃 😛 😛 

Uwes angel, angel, angel... Ra iso tenin diajak rasional obyektif. Aku pun terpaksa iso ne cuma ngekek2 wae mengutuki diriku sendiri atas "kebodohan" terlibat dalam insiden diskusi ini. 

Umpatku dalam hati ke diriku sendiri: 

"Fer, Fer kapokmu kapan Fer?!" 

"Lah wong kemarin sudah memutuskan ambil jalan hidup "Sufi" wae di usia setengah abad, untuk tidak perlu komentari tema sensitif di masyarakat kita, kok yo tetap kecelakaan je aku terlibat perdebatan tsb." 

Lah piye jal, soalnya aku gregetan tenin je. Nurani rasional obyketifku terganggu je saat ada yang main labelling sana-sini. Mosok hanya karena orang melakukan memilih meyakini sesuatu berbeda, mesti di-labelling macam2. Di masyarakat kita ini memang sedang amat distrust saat ini. Labelling dan Bullying menjadi komunikasi sehari-hari yang berseliweran. Pilihan apapun akan disalahpahami. 

Yo uwes, Kapok, Kapok ra bakal aku menanggapi isu-isu sensitif ini. Mungkin sekarang saatnya Cooling Down dan memberikan sebuah aksi-aksi yang bermanfaat saja...

#dariTepianLembahSungaiRheinRuhr

(Ferizal Ramli)