DIPERBUDAK KOMENTAR, Ridho Manusia itu adalah Tujuan Yang Tidak Akan Pernah Tercapai


DIPERBUDAK KOMENTAR

"Ridhonnasi Ghoyatun Laa Tudrok", Ridho manusia itu adalah tujuan yang tidak akan pernah tercapai".

Alhamdulillah mengikuti Halaqah Subuh Munzalan setiap pagi. Kisaran jam 5.30 WIB halaqah dimulai, direkam dan bisa ditonton kapan saja. Kajiannya setiap hari, jadi wajib luangkan waktu 1 jam setiap hari secara konsisten untuk belajar.

Kali ini saya akan menuliskan kembali satu slide pengajaran penting dari Kiyai Luqmanulhakim, tentang penyakit manusia hari ini: "sibuk dengan penilaian orang lain, lalai terhadap penilaian Allah azza wa jalla".

***

Membuat semua orang senang itu mustahil. Melakukan sesuatu yang membuat semua manusia setuju itu gak mungkin.

Melangkah pada sebuah pilihan yang bikin semua orang happy itu juga sulit. Maka kebersetujuan semua manusia tak layak dijadikan tujuan.

Selama yang dilakukan halal, searah dengan hukum positif, benar, bermanfaat, alangkah baiknya maju terus.

Fokus pada penilaian Allah saja. Fokus pada ridho Allah saja, yang mungkin dicapai, tak perlu fokus pada ridho manusia.

***

Anda punya kemampuan literasi yang kuat, mampu menyampaikan pesan dengan baik, pandai membangun konteks, dan memiliki daya komunikasi yang berpengaruh.

Kemampuan itu membuat Anda memilih jadi trainer motivasi anak muda. Keliling ke SMP-SMP, keliling ke SMA-SMA menyadarkan banyak generasi muda.

Pekerjaan itu halal, baik, manfaat, tidak melanggar hukum. Tetapi Anda berhenti gara-gara komentar orang :

"Halah, ngomong doang, gak ada karya, gak konkret, hidup kok dari ngomong".

Akhirnya Anda kecil hati, berhenti, dan coba yang lain. Banyak anak muda yang kehilangan Anda. Namun Anda tetap berhenti.

***

Karena Anda dikomentarin gak punya karya, akhirnya Anda memilih dagang saja. Agar karyanya kelihatan. Sibuk jualan, apa aja dijual, launching produk terus.

Bisnis Anda bertumbuh, sub dagangan Anda meluas, jual A, B, C D, segala dijual. Akhirnya menuai komentar lagi :

"Ih... Kapitalis banget, jualan terus, budak dunia, padahal harta gak dibawa mati..."

Akhirnya Anda baper lagi, lemes lagi bisnisnya, dikomentarin ahli dunia. Anda jadi males bisnis.

***

Karena Anda berhenti bisnis, Anda coba piliham hidup yang aman. Yang sekiranya gak ada komentar.

Jadilah Anda profesional di perusahaan kawan Anda. Anda digaji per bulan. Bekerja dengan baik. Membangun perubahan, membentuk organisasi yang lincah.

Anda kira hal ini bebas dari komentar, ternyata ada komentar lagi :

"Walah.. Kok kerja sama orang, ya gak jadi apa-apa lah kerja sama orang, terbatas, nasib di tangan orang lain".

Anda bete lagi, Anda berhenti lagi.

***

Selesai jadi profesional, Anda punya pengalaman manajemen, pengetahuan dan keterampilan membangun organisasi.

Anda meniti jalan menjadi konselor bisnis perusahaan menengah. Membantu para owner menemukan celah pertumbuhan, membantu para BOD merumuskan strategi dan langkah.

Anda kira hal ini juga aman, karena bukan panggung, gak kerja sama orang, mudah-mudahan gak ada komentar.

Ternyata ada juga :

"Nasehatin bisnis orang lain kok gak punya bisnis. Ngasih tahu sesuatu yang gak dilaksanakan".

Padahal klien Anda dapat manfaat, padahal itulah value Anda, McKinsey dan Boston Consulting Group saja fokus jadi konsultan lalu  garap proyek ratusan M di negeri ini.

Karena Anda dikomentarin, Anda berhenti lagi.

***

Karena Anda lelah dikomentarin, Anda kesal, akhirnya abdikan hidup di masyarakat.

Pokoknya bantu masyarakat, bantu orang sekitar, gak ada lagi tarif-tarif. Gak ada lagi transaksional. Gak ada lagi aroma-aroma kejar dunia.

Anda kira hal ini terbaik. Anda kira hal ini pasti aman. Aman dari komentar.

Ha ha ha.....

La tudrok... La tudrok... La tudrok...

Akhirnya ada juga komentar :

"Hidup kok gak mikirin diri sendiri, hidup kok mikiron orang lain terus. Hidup kok kerjaannya berkorban, kapan kayanya kalo begitu!"

Karena Anda kesal, dikomentarin terus, dan akhirnya Anda memilih berhenti lagi.

Kali ini setelah berhenti waktu Anda ternyata habis. Malaikat maut datang :

"Ente sampai kapan akrobat terus, mati aja ya... Jadi gak ada yang komentar".

***

Waktu terbatas. Hidup adalah karunia Allah azza wa jalla. Cukup-cukup lah menjadikan komentar manusia sebagai "tuhan" baru dalam hidup mu.

Allah azza wa jalla melarang kita untuk syirik. Syirik itu mensyarikahkan Allah dengan yang lain. Anda bikin koalisi tuhan.

Anda sembah Allah, tapi Anda sembah juga komentar orang lain.

Anda sujud ke Allah, tapi Anda sujud juga kepada tepuk tangan orang lain.

Anda berharap ke Allah, tapi Anda juga berharap kepada dukungan orang lain.

Cukup-cukuplah rusak tauhid.

Hidup itu sederhana, setiap kita kemampuan beda-beda, maka tugas dan misinya pun beda-beda.

Kita sedang membangun perlombaan pada diri kita sendiri. Memacu diri kita untuk mencapai capaian lebih baik dari apa yang kita capai sebelumnya.

Kita tidak dituntut untuk berpacu dengan lintasan orang lain. Karena sejatinya manusia tidak berada di lintasan pacuan yang sama.

Selama yang dilakukan bermanfaat, ada segmen masyarakat yang mendapatkan manfaat, jalan saja terus.

Kalo ada komentar, sabar, dan sebenarnya gak usah juga peduli, karena akan selalu ada yang tidak setuju dan akan selalu ada yang menyumpah serapah.

Menerima masukan itu baik. Terbuka atas nasehat itu bagus. Namun jangan sampai diperbudak penilaian orang lain.

Gak akan mungkin bikin semua orang happy. Impossible.

Semoga lurus tauhid kita semua. Fokus dengam tujuan ridho Allah saja. Fokus dengam Ghayah senangnya Allah saja. Fokus berbuat untuk menyenangkan Allah Rabbul 'alamien.

Fokus berbuat agar Nabiullah Muhammad Shallallahu'alaihi wassaalam tersenyum dengan kita di yaumul akhir nanti. Mendapatkan syafaatnya, dan digenggam nabi masuk surga.

InsyaAllah.

(Ustadz Rendy Saputra)