2 Januari, Akhir Kekuasaan Islam di Andalusia

Akhir Kekuasaan Islam di Andalusia

2 Januari, 531 tahun lampau tepat. Sebuah airmata kesedihan yang teramat sangat hadir. 

Masa keemasan Islam di Spanyol selama 781 tahun berakhir tragis. Setelah terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil (taifa), kekuatan Islam semakin lemah. Konflik antra kerajaan kecil terjadi, saling serang, dan sering sekali mereka meminta bantuan tentara Kristen.

Pusat-pusat kekuatan dan kejayaan peradaban Islam, tumbang satu demi satu. Pada 1238 Cordoba jatuh ke tangan Kristen, lalu Seville pada tahun 1248 jatuh.

Granada yang dalam kekuasaan Bani Ahmar (1232-1492), satu-satunya yang bertahan. Namun, konflik internal menjadikan kerajaan Granada ini pecah. Abu Abdillah Muhammad bin al-Ahmar ash-Shaghir yang kecewa pada ayahnya atas penunjukan saudaranya sebagai raja, melakukan pemberontakan. Dia meminta bantuan Raja Ferdinand dari Aragon dan Ratu Isabella dari Castile, yang menguasai Andalusia dengan kekejaman.

Sultan Abu Abdillah Muhammad menang dan naik tahta. Namun, ini tidak bertahan lama. Abu Abdullah Muhammad disingkirkan oleh raja Katholik yang tadi membantunya, Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Abu Abdillah Muhammad menyerah pada 2 Rabi`ul Awal 897 Hijriyah (02 Januari 1492). Dia menyerahkan kunci gerbang kota Granada dan Istana Alhambra.

*lukisan: Sultan Abu Abdillah Muhammad menyerah kepada Ferdinand dan Isabella
Berakhirlah Granada sebagai benteng terakhir Islam di Spanyol, berakhirlah kekuasaan Islam selama 781 tahun. Setelah itu, pembunuhan besar-besaran terjadi terhadap kaum Muslim dan Yahudi. Mereka dipaksa meninggalkan agamanya atau mati.

Setelah tersingkir, seperti ditulis David Levering Lewis dalam buku The Greatness of al-Andalus, Sultan Abu Abdillah Muhammad meninggalkan Granada pergi ke Afrika Utara. Dalam perjalanan, sultan yang kalah itu berhenti di sebuah bukit. Di sini dia memandang kembali Granada yang indah. Air matanya menetes.

Ibunya, Aisyah, yang ikut rombongan, berkata pada Abu Abdillah Muhammad: “Menangislah seperti wanita, terhadap apa yang tidak bisa engkau pertahankan selayaknya laki-laki.”

Bukit tempat Abu Abdillah Muhammad menangis itu diberi nama Puerto del Suspiro del Moro — Bukit tangisan orang Arab terakhir.

(*)