KETIKA MEDIA BARAT NYINYIR JUBAH ARAB MESSI

Ketika Emir Qatar hendak memberikan Piala Dunia kepada Messi selaku kapten Argentina, ia memakaikan Bisht, jubah tradisional yang ribuan tahun dipakai masyarakat Arab oleh tokoh, raja, pejabat, dan orang yang dianggap terhormat.

Messi sendiri tidak tampak keberatan, bahkan ia kemudian membawa Piala Dunia dan berfoto bersama tim Argentina masih dengan menggunakan jubah yang transparan itu.

Namun ada cukup banyak jurnalis di media Inggris yang nyinyir, bahkan dengan nada mengolok. Mark Ogden ini adalah wartawan senior di ESPN, ia menyayangkan mengapa Messi dipakaikan jubah itu, seolah mau potong rambut. Setelah banyak yang protes, ia menghapus tweetnya. 

Padahal bagi masyarakat Arab, jubah ini adalah bentuk penghormatan. Hanya digunakan pada saat yang istimewa, kepada orang istimewa. Dan kemarin adalah kepada pemenang Piala Dunia. Apalagi yang diberi jubah adalah megastar yang banyak fansnya dari berbagai penjuru dunia. 

Dan tidak hanya Ogden, Gary Lineker yang bekerja untuk BBC juga ikut menyuarakan nada nyinyirnya.

Yang lebih parah adalah host di TV Denmark yang menunjukkan foto monyet berangkulan, sejenak sesudah video pemain Maroko yang berpelukan dengan ibunya. TV itu pun kemudian harus meminta maaf sesudah diprotes banyak orang. 

Kita tahu bahwa beberapa media UK memang sejak awal Piala Dunia rajin membombardir issue negatif kepada Qatar. Ada issue yang memang bisa menjadi persoalan, seperti meninggalnya pekerja selama pembangunan infrastruktur. (Meskipun angka kematian 6500  pekerja yang disebut oleh The Guardian itu ternyata disebut oleh Deutsche Welle sebagai FALSE/HOAX).

Namun tentu sikap bigotry jurnalis sport di beberapa media Inggris sudah kelewat batas. Mereka tidak lagi menghargai orang yang berbeda dengan mereka, mereka sibuk mencari kesalahan sekecil apapun dari orang yang tidak mereka suka. Mereka ibarat pepatah, mengukur baju orang lain dengan badan sendiri. 

Mereka mengira masyarakat dunia akan mengikuti jejak mereka untuk membully negeri kecil seperti Qatar ini. Mereka salah besar, fans yang datang ke Qatar dan hidup beberapa pekan disana, meluruskan stigma negatif itu dengan membuat ribuan konten di berbagai platform media sosial.

Banyak yang menang dari Piala Dunia 2022 ini, tapi yang jelas menjadi pecundang adalah mereka yang tidak mampu menghormati kebudayaan dan keragaman orang lain.

(Muhammad Jawy)