Bukan Freud atau Adler, Melainkan Umar ra.

Bukan Freud atau Adler, Melainkan Umar ra.

“Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu di dari kedua orang yang paling Engkau cintai, dengan Umar bin Hisyām (Abu Jahal) atau Umar bin Al-Khathab.” (HR. At-Tirmidzi)

Demikianlah doa Rasulullah SAW, agar Allah SWT (setidaknya) memberi hidayah kepada salah satu diantara keduanya. Berharap agar barisan kaum muslimin saat itu semakin kuat dengan bergabungnya satu diantara "dua Umar".

Seperti kita ketahui, akhirnya Umar bin Khattab yang dipilih Allah SWT untuk menguatkan barisan pendukung Nabi SAW. Bahkan Umar bin Khattab kelak menjadi khalifah kedua sepeninggal Rasulullah SAW.

Berharap agar Umar ra masuk Islam, tentu ada banyak pertimbangan. Mengapa Nabi tidak menyebut nama lain dalam doa tersebut?

Umar dikenal sebagai salah satu orang kuat di Makkah. Perangainya yang keras dan tegas, saat sebelum Islam, ia gunakan untuk menyerang dakwah Nabi dan para sahabat. Tak segan ia berniat membunuh mereka yang dianggap menyelisihi agama nenek moyang.

Setelah Umar ra masuk Islam, perangai keras dan tegasnya tidak hilang. Namun digunakan dalam kebaikan, meninggikan kalimat Allah, membela yang lemah dan terzhalimi. Tujuanlah yang membedakan keras dan tegasnya Umar sebelum dan sesudah menjadi muslim.

***

Mengingat kembali, pandangan dua orang ilmuwan psikologi Sigmund Freud dan Alfred Adler. Masing-masing memiliki perspektif yang berbeda.

Freud menggunakan hukum sebab akibat (strong why). Perilaku hari ini adalah akibat dari apa yang telah dialami pada masa sebelumnya.

Sementara Adler lebih melihat sebagai sesuatu yang diskontinyu. Apa yang terjadi saat ini, ya karena seseorang ingin melakukannya, bukan karena masa lalunya. Ia melakukan karena tujuan tertentu (what for).

Freud diterima oleh para pemikir modern, sementara Adler lebih diterima dikalangan pos-modern.

***

Sebagaimana cara berpikir ala jaringan sosial, kisah Umar ra tersebut menggambarkan bahwa semua realitas itu penting. Namun tidak semua realitas harus digunakan. Purpose-lah yang menentukan sebuah realitas perlu digunakan atau tidak.

Menggunakan atau tidak menggunakan sebuah realitas itu dilakukan dengan terhubung atau tidak terhubung/terputus. Tidak peduli apakah itu realitas masa lalu, masa kini atau masa depan (imajinasi).

Purpose (niat/tujuan) telah menjadi pemilah dan pemilih apakah sebuah muatan itu diperlukan atau tidak. Semakin pandai dalam meramu dan mengkomposisi muatan-muatan yang diperlukan itu, maka sebuah tujuan akan lebih efektif dan efisien tercapai.

Karena purpose Islam, Umar ra tetap keras dan tegas, namun tidak lagi jahat.

Jadi, bukan Freud atau Adler, melainkan Umar ra.

(Setiya)