KISAH BUYA HAMKA DI PENJARA


[PORTAL-ISLAM.ID]  Ustadz Tengku Zulkarnain menceritakan tentang kisah Buya Hamka di penjara.

Buya Hamka itu dipenjara rezim Bung Karno hampir 2 tahun. Tidak dikasih minum di penjara, sampai Buya Hamka terpaksa minum air kencing.

Setelah bebas, suatu hari ajudan Bung Karno datang menemuinya, mengabarkan kalau Bung Karno baru saja meninggal dunia.

Sang Ajudan membawa surat wasiat dari Bung Karno yang ditujukan kepada Buya Hamka. Dalam suratnya, Bung Karno meminta agar Buya Hamka mau men-sholatkan jenazahnya ketika wafat.

Walaupun Buya Hamka telah didzolimi oleh Bung Karno, namun Buya Hamka mau mensholatkan jenazahnya.

Bung Karno dan Buya Hamka sebetulnya awalnya merupakan sahabat.

Dua tokoh ini sudah saling mengenal sebelum Kemerdekaan Indonesia. Hamka pernah mengunjungi Bung Karno di Bengkulu saat diasingkan ke daerah tersebut pada 1938-1942.

Bung Karno dan Hamka juga pernah bertemu di beberapa acara Muhammadiyah, maklum Hamka dikenal sebagai salah satu tokoh organisasi itu, sementara Bung Karno sejak remaja memang bersinggungan dengan Muhammadiyah.

Dikutip dari buku "Ensiklopedia Keislaman Bung Karno" karya Rahmat Sahid disebutkan bahwa Bung Karno acap kali mengundang sahabatnya itu untuk berceramah di Istana Negara dalam rangka memperingati hari besar keagamaan.

Bahkan, Rahmat Sahid menuliskan dalam buku tersebut, Bung Karno sendiri yang mengajak Hamka untuk Hijrah dari Medan ke Ibukota Jakarta pada 1946. Ajakan itu sempat tertunda karena adanyanya Agresi Pertama pada 1947. Namun kemudian Hamka benar-benar datang ke Jakarta pada 1949 setelah Bung Karno mengujungi di Buktitinggi, Sumatra Barat.

"Karena kealiman dan luasnya ilmu Hamka, Bung Karno tak segan-segan meminta sahabatnya itu untuk ceramah di Istana merdeka. Sejumlah acara besar kenegaraan terkait hari besar agama pun pernah dipimpin oleh Buya Hamka," seperti dikutip dalam buku Ensiklopedia Keislaman Bung Karno.

Namun seiring memanasnya kondisi politik kala itu, hubungan kedua tokoh nasional ini sempat merenggang. Hal itu tidak lepas dari pengaruh PKI yang mulai memperalat secara politik posisi Bung Karno, dan Hamka saat itu aktif di Masyumi, partai yang paling dibenci oleh PKI.

Puncaknya saat Buya Hamka ditangkap dan dipenjara atas tuduhan dugaan keterlibatan percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno dan Menteri Agama saat itu.

"Pada tanggal 27 Januari 1964, bertepatan dengan awal bulan Ramadhan 1383 H, kira-kira pukul 11 siang, Hamka dijemput di rumahnya, ditangkap dan dibawa ke Sukabumi. Hamka dituduh melanggar UU Anti-Subversif Pempres No. 11. Atas dugaan terlibat dalam upaya pembunuhan Soekarno dan Menteri Agama saat itu, Syaifuddin Zuhri," tulis Rahmat Sahid.

Meski begitu, Hamka yang pernah dipenjara itu tidak pernah menyimpan dendam terhadap Bung Karno. Justru sebaliknya, Hamka lah yang mengimami salat jenazah Bung Karno ketika wafat.

Kisah tersebut terekam jelas saat Kafrawi, Sekjen Departemen Agama dan Mayjen Soeryo, ajudan Presiden Soeharto, datang ke rumah Hamka membawa pesan dari keluarga Sukarno pada 16 Juni 1970. Pesannya, Buya Hamka dengan sangat hormat diminta mengimami salat jenazah Sukarno.

[Video penuturan Ustadz Tengku]