"Manisa"


"Manisa"

Pada usia 11 tahun, Muhammad Al Fatih diangkat menjadi putra mahkota setelah kakaknya Alauddin meninggal pada usia 22 tahun. Sejak itulah, Muhammad Al Fatih yang telah dididik untuk disiapkan menjadi pemimpin besar terus dibina oleh para ahli.

Hingga ketika usianya menginjak 14 tahun, ia diangkat oleh ayahnya menjadi pemimpin Kota Manisa. Ini bagian dari praktek lapangan dari ilmu yang telah didapatkannya. Apakah ia mampu mengaplikasikannya pada sebuah kota. Tentu di bawah panduan dan bimbingan ayahnya langsung yang masih memimpin kesultanan saat itu.

Mungkin aneh di telinga kita. Bagaimana anak usia 14 tahun diamanahi sebuah kota. Masih terlalu kecil untuk sebuah amanah sebesar itu.

Tapi kita akan segera berkata wajar ketika melihat keahliannya di usia tersebut. Ia telah menyelesaikan hapalan Al Qurannya sebelum usia 8 tahun. Selanjutnya ia belajar hadits dan ilmu-ilmu syariat Islam. Kemudian mendalami sejarah. Selanjutnya menguasai berbagai macam bahasa yang menopang ilmu dan masa depannya. Ia pun setelah itu belajar berbagai ilmu pengetahuan umum. Yang perlu diasah selanjutnya adalah belajar kepemimpinan, setelah bekal ilmunya mumpuni untuk memimpin.

Maka usia 14 tahun yang telah diserahi sebuah kota, merupakan kelanjutan dari pendidikannya. Kali ini pendidikan aplikasi di lapangan. Tentu masih di bawah supervisi ayahnya dan para gurunya.

Dalam Islam memang ada pembahasan tentang usia Ar Rusyd. Di mana pada usia itulah seorang anak baru boleh diserahi harta besarnya. Para ulama menjelaskan bahwa usia ini baru bisa didapat seseorang setelah baligh. Ada sebagian anak yang telah mendapatkan usia kematangan harta ini sesaat setelah ia baligh. Tetapi sayangnya, hari ini usia kematangan harta ini sulit untuk didapatkan bahkan ia telah berumahtangga. Faktornya adalah salah didik. Mereka tidak dibesarkan dalam pendidikan Islami.

Maka usia 14 tahun yang hari ini anak-anak kita mungkin telah baligh, sudah waktunya diberi harta besarnya. Jangankan hanya kendaraan atau harta lainnya, kota pun sudah boleh diserahkan kepadanya.

Tapi catat dan garis bawahi yang tebal: Asalkan telah dididik seperti Muhammad Al Fatih dibesarkan. Asalkan telah stabil jiwanya dengan Al Quran. Asalkan telah matang pertimbangannya dengan ilmu-ilmu syariat. Asalkan telah luas cara berpikirnya dengan berbagai ilmu yang bermanfaat. Asalkan dikelilingi oleh para ulama dan ilmuwan. Dan asalkan dikawal langsung oleh orangtua cerdas yang mengerti pendidikan Islam.

Jika semua ‘asalkan’ tersebut tidak ada, jangan pernah diserahi amanah dan harta besar. Kalau anda nekad juga melakukannya, ia akan menjadi generasi asal-asalan.

Oleh: Ust. Budi Ashari Lc,