Merebut Hati Qaradhawi


Merebut Hati Qaradhawi

Oleh Yusuf Maulana

Dari pertemuan Al-Ittiḥād al-ʻĀlamī li-ʻUlāmāʼ al-Muslimīn, atau International Union of Muslim Scholars (IUMS) ke-5 di Istanbul, ada fakta yang tidak banyak diketahui para al-akh yang beberapa hari ini menyebarkan foto-foto kedudukan figur anutannya di institusi yang dipimpin Syeikh Dr Yusuf al-Qaradhawi itu. Fokus saya adalah pada polah tokoh-tokoh yang menghadapi perpisahan (untuk tidak mengatakan: perpecahan) anasir Ikhwan di negaranya. Tokoh-tokoh yang berpisah ataupun berpecah itu sebenarnya hadir di muktamar Istanbul.

Keberadaan Dr Salim Segaf Aljufri di muktamar dan memberikan pidato selaku dewan pengawas menyita perhatian para al-akh di tanah air. Foto Dr Salim bersama Dr Qaradhawi pun menandaskan kerapatan kedua tokoh di IUMS. Tidak sembarang untuk berbicara di hadapan banyak ulama dari pelbagai negara. Tentunya tidak salah bila ada penghormatan dan kekaguman dari keberadaan Dr Salim di muktamar.

Di antara foto yang banyak edar, posisi Dato Sri Tuan Guru Haji Abdul Hadi Awang (TGHH) di kursi terdepan bersama Dr al-Qaradhawi beredar luas di Malaysia. Sebagai salah satu wakil pimpinan di IUMS, keberadaan TGHH sebenarnya wajar dan normal saja. Namun, kedekatan kedua tokoh ini kemudian diretoriskan oleh lingkaran TGHH melalui foto-foto yang disebarluaskan di media sosial. Kehangatan, keramahan, dan penghormatan penuh adab dari TGHH pada sang atasan di IUMS seperti menahbiskan bagaimana kedudukannya di hadapan Dr al-Qaradhawi.

Dalam kasus Malaysia dan Indonesia, artikulasi kedua tokoh dakwah dari dua partai islamis terkemuka di negerinya masing-masing memiliki permaknaan mendalam dan “politis” di benak anggotanya masing-masing. Posisi dan kehangatan bersama pimpinan institusi yang dipimpin Dr al-Qaradhawi seperti menahbiskan kelegalan mereka dibandingkan faksi Ikhwan “sebelah”, yang memang di muktamar tidak begitu menampakkan diri atau hanya tampil ala kadar.

Delegasi Malaysia lainnya yang hadir adalah Abdul Ghani Shamsuddin. Ia seorang ulama dihormati di jiran, mantan kolega TGHH di Parti Islam se-Malaysia (PAS), dan kini duduk sebagai penasihat Parti Amanah Negara. Ustad Abdul Ghani pun duduk di IUMS, meski posisinya tidak setinggi TGHH, jauh-jauh hari sebelum ada perpecahan di PAS yang melahirkan partai baru: Amanah.

Adapun Indonesia, absennya Anis Matta di sebuah acara ormas yang turut dibidaninya (acara Garbi di Bali -red) patut diduga karena kehadirannya di Istanbul. Orang-orang dekatnya mengaku tidak tahu di mana Anis hari-hari ketika berlangsung muktamar IUMS Istanbul. Ada kemungkinan diam-diam ia datang ke acara tersebut, dan menghindari publikasi bahkan untuk menguatkan psikologi aktivis ormas bentukannya—sebagaimana ditempuh para pendukung Dr Salim di media sosial.

Beberapa tahun terakhir, perhelatan tahunan IUMS sering berlokasi di Istanbul. Bukan rahasia, kuatnya dukungan pemerintahan Recep Tayyip Erdoğan pada institusi di bawah Dr Qaradhawi tidak terlepas dari kerapatan keduanya. Keduanya sering dikaitkan sebagai representasi kekuatan Ikhwanul Muslimun, kendati Erdoğan lebih memosisikan dirinya sebagai seorang Muslim demokrat atau pos-islamisme dalam frasa Asef Bayat, alih-alih membuka diri sebagai cawangan Ikhwan. Erdoğan tahu betul konsekuensi ketika keluar dari Millî Görüş, yang disebut-sebut sebagai cabang Ikhwan di Turki semasa gurunya, Necmettin Erbakan. Justru jalur resmi Ikhwan ada di partai oposisi, para al-akh di rumah lama yang kini bernama Saadet Partisi. Dan inilah yang masih dibanggakan aktivis Saadet, partai pimpinan Temel Karamollaoğlu. Karamollaoğlu sendiri dalam sebuah video yang diunggah sebelum perhelatan IUMS, tidak canggung mengkritik keras Adalet ve Kalkınma Partisi (AKP), partai Erdoğan.

Stabilnya pengaruh IUMS dan Dr Qaradhawi tidak bisa dipisahkan dari rezim Turki dan Qatar (negeri bermukim Qaradhawi). Perseteruan AKP dan Saadet bukanlah drama politik penuh taqiyya—sebagaimana pernah disangkakan para sekularis Turki. Saadet masih memandang diri lebih Ikhwani, sementara AKP dan Erdoğan bukan. Menariknya, acara IUMS dan keberadaan penyintas Ikhwan dari (terutama) Mesir adalah ada andil dan sokongan pemerintahan Turki di bawah AKP. Secara karikatural, Saadet bisa dikatakan memenangi klaim sebagai cawangan Ikhwan, hanya saja aksi nyata dan konsisten ada pada seterunya di AKP.

Indonesia dan Malaysia, dengan Partai Keadilan Sejahtera dan PAS, menempatkan kedua partai di Turki itu dalam posisi yang relatif sama. Saadet, selaku oposisi, ditempatkan sebagai al-akh yang kokoh kemiripan dan laju pergerakan mereka. Itu sebabnya, TGHH tidak lupa untuk bersilaturahmi dengan pemuka Saadet, Harun Macit, bahkan bertandang ke markas partai ini bersua dengan Karamollaoğlu. Kunjungan ke para tokoh Saadet ini tidak lupa diiringi pula bertemu dengan Ibrahim Kalin, juru bicara kepresidenan Turki. Mereka berbincang seputar perkembangan politik dan peranan kedua negara dalam mewujudkan kestabilan di dunia Islam.

Sejauh ini, Dr Salim belum terdengar melakukan manuver sebagaimana ditempuh TGHH. Ini semacam tindakan politik untuk mengokohkan legitimasi partai sekaligus pribadi mereka di antara kalangan terpandang di dunia Islam. Terutama dalam konteks ini di kalangan Ikhwan ‘alamy. Meski mursyid ‘am Ikhwan resmi ada pada Dr Mahmoud Ezzat Ibrahim Eissa, sejatinya organisasi ini efektif di tangan perwakilannya di London, Ibrahim Mounir. Wajarnya lantaran Dr Ezzat, menurut sebuah sumber, berada di Turki setelah diburu penguasa hasil kudeta Mesir dan dimasukkan sebagai teroris oleh Arab Saudi. Ada geopolitik yang juga bakal terusik—ditambah soal isolasi Qatar oleh kedua negara pembeo Washington ini—apabila Turki secara vulgar membiarkan bebas Ikhwan bermanuver.

Praktis Ikhwan hari ini efektif di tangan Mounir, yang berjalan bersama Qaradhawi, dan disokong dua penguasa yang kental atau berlatar pemikiran sama: Erdoğan dan Rached Ghannouchi. Nama terakhir merupakan sosok penting di balik Ennahdha, partai “cawangan” Ikhwan di Tunisia tapi lebih menyebut diri serupa AK Partisi di Turki. Juga ada nama lain Youssef Moustafa Nada, seorang pebisnis ulet yang pernah dimasukkan sebagai teroris tapi belakangan dicabut karena tiadanya bukti yang mendukung kuat. Nama-nama inilah yang tidak luput dari perhatian lembaga intelijen dan pemasok informasi untuk mengawasi pergerakan Ikhwan; sebut saja semisal The Global Muslim Brotherhood Daily Watch.

Kalau disaksamai pola-pola pergerakan AKP dan Ennahdha di satu sisi, dan pemikiran al-Qaradhawi dalam buku-buku maupun pidato politiknya, bisa dikatakan banyak sejalan. Islam dengan wajah moderat dan tidak menampilkan sisi eksklusivitas lagi mengisolasi inilah yang belum begitu kental menjadi ciri khas di PKS ataupun PAS, terutama dalam perkembangan terakhir di kepemimpinan Dr Salim dan TGHH. Kedua tokoh ini lebih menyerupai pola gerak Saadet dan jalur Ikhwan ke Dr Ezzat, yang bisa dikatakan antitesis Ikhwan jalur Mounir. TGHH malah tidak menutupi kedekatan dengan Saadet. Soal ikhwah PKS menarik; bisa dikatakan kedua kaki dipasang di Saadet dan tentu saja AKP.

Kedua elit partai di Asia Tenggara sadar kepemimpinan kokoh “islamis” di Turki dan Tunisia tidak bisa dinafikan. Turki malah riil dan diakui dunia. Menepi dari pengaruh AKP jelas bodoh dan tidak realistis. Di sinilah langkah pragmatis dan taktis ditempuh para al-akh yang sebenarnya tidak begitu kompatibel dengan pendekatan politik AKP. Mereka hanya memetik benefit dari kekuasaan AKP kendati dalam praktik politik tidak menempuh sepenuhnya. Kesadaran dekat di hati pada AKP dan sosok Erdoğan, imbasnya, lebih sering sebagai ekspresi emosi ketimbang kesadaran hasil pembelajaran serius. Tidak berbeda antara yang di Indonesia dan Malaysia. Seturut itu, mereka pun mengeksklusi, menepikan, pihak al-akh seteru di negerinya. Bahwa mereka bukan ikhwah terakui; bukan yang dekat dengan Ikhwan ‘alamy dan seterusnya.

Inilah yang kemudian dijaga betul ketika para tokoh kunci Ikhwan “resmi” Indonesia dan Malaysia tadi menghadiri perhelatan IUMS. Penandaan dekat dengan wakil resmi alamy dan disokong penguasa Turki, namun saat yang sama mengokohkan pijakan kaki ke al-kah konservatif (Saadet). Malaysia, dalam hal ini TGHH, lebih vulgar memainkan politik dua kaki di faksi-faksi Ikhwan ‘alamy. Tentu saja ini masih berkaitan dengan kepentingan PAS dalam konstelasi politik Malaysia di tengah menguatnya pengaruh Amanah, dan sekaligus posisi PAS yang jadi oposisi bersama UMNO.

Adapun Indonesia, Dr Salim dan anasir PKS sepertinya masih percaya diri bahwa mereka lebih kuat dan kredibel ketimbang “sempalannya”. Pendekatan balik layar dan kerapatan Dr Salim dengan Dr al-Qaradhawi menyeruak untuk mencukupi dari cara-cara yang malah membesarkan sang pesaing tersebut. Maka, dengan sekadar naik di podium, para pendukungnya pun langsung mengeksklusi, menepikan, legalitas dan keabsahan pihak sebelah. Kepercayaan diri PKS ini bisa benar tapi bisa juga sebaliknya. Anis Matta bukan figur asing dan tercurigai menyimpan agenda di mata sosok Mounir dan faksinya di London. Bantuan sigap dari Inggris bagi korban gempa tsunami di Palu-Donggala melalui ormas Anis buktinya. Belum resmi deklarasi tapi ada sokongan donasi dari jalur London. Sesuatu yang masih dilacak apakah PKS pun menerima hal serupa dalam kejadian Palu-Donggala.

Politik pendekatan para elit ikhwah PKS dan PAS demi menguatkan posisi dalam konstelasi konflik lokal merupakan hak mereka. Hanya saja, IUMS sejatinya ingin mempertemukan semua kalangan. Toh di forum itu banyak dihadiri para ulaman yang bukan berafiliasi ke Ikhwan. Tidak sebagaimana berita yang dibagikan para al-akh PKS, nama Hamid Fahmy Zarkasy selaku delegasi dari Gontor luput dari perhatian. Dr Hamid jelas akademisi dan bukan seorang ikhwani. Kehadiran di IUMS tidak terlepas dari satu iktikad memenuhi latar dibentuknya IUMS. Dan terlebih di senja usia Dr al-Qaradhawi, sebagaimana tercermin di pidato pembukaan, sebuah momen penting menguatkan kembali ukhuwah.

Semestinya di forum berisikan orang-orang mulia itu semua hati bisa bersatu. Ini tak berarti konflik dilupakan begitu saja. Namun, akan lebih baik bila konflik sesama umat, terlebih sejamaah dari umat ini, dikelola sebagai cara kompetisi dalam kebaikan dakwah; bukan untuk saling menikam. Saling menghormati untuk bertegak diri dengan rumah masing-masing. Sayangnya, ini memang lebih mudah dibaca di karya-karya Dr al-Qaradhawi ketimbang mengamalkannya. Bukan kapasitas bahasan di bukunya yang salah, melainkan pikiran dan hati kita yang masih lebih suka memelihara perbedaan.

Moga saja, selepas perhelatan IUMS tersebut, ada perubahan berarti agar semua batu bata gerakan dakwah ikhwah fokus dengan agenda dan idealisme masing-masing. Baik yang menuju dua digit elektoral ataukah yang sibuk menggapai visi Indonesia 5 besar dunia. Mestinya ini yang didebat serius di meja-meja kopi mereka sekelompok; bukan menyoal agenda al-akh di jendela berbeda. []