Agar Organisasi (Jamaah) Tak Bernasib Seperti JT 610


[PORTAL-ISLAM.ID] Agar Organisasi Tak Bernasib Seperti JT 610

(1) Lion Air Penerbangan 610 adalah sebuah penerbangan penumpang domestik dari Jakarta menuju Pangkal Pinang yang hilang kontak pada 29 Oktober 2018.

(2) Pihak SAR menyatakan bahwa pesawat tersebut jatuh di Tanjung Pakis, Karawang. Bangkai pesawat ditemukan di lepas pantai utara Laut Jawa Karawang.

(3) Data dalam black box itu menunjukkan adanya kerusakan teknis pada penunjuk kecepatan di pesawat, istilahnya air speed indicator.

(5) Tiga jadwal penerbangan sebelumnya menggunakan pesawat Boeing 737 Max yang diduga mengalami kerusakan itu adalah rute sebagai berikut:

1. Jakarta-Pangkalpinang, 29 Oktober 2018. Jatuh di Tanjung Karawang, Jawa Barat.

2. Denpasar-Jakarta, sehari sebelum kecelakaan atau 28 Oktober 2018.

3. Manado-Denpasar, masih di tanggal 28 Oktober 2018.

(6) Di media daring lainnya disebutkan, penerbangan sebelumnya dari China. Boeing 737 MAX 8 digadang-gadang memiliki banyak keistimewaan: mesin baru, interior baru.

(7) Keanehan JT610, mirip kendaraan darat (mobil, motor) yang masih masa inreyen atau Break-in menjadi masa awal yang wajib dilalui setiap pemilik mobil baru. Proses adaptasi terjadi antar komponen mesin untuk saling menyesuaikan antara satu dengan lainnya.

(8) Perawatan rutin, tidak overaktivasi, tentu faktor adaptasi pilot juga menentukan. Dalam laporan AlJazeera, tak sedikit pilot yang gagal di simulasi Boeing, tapi pulang ke INA mendapat lisensi terbang dari Kemenhub.

(9) Jadi secanggih apapun organisasi, jika abai pada evaluasi rute, malas cek rutin, tidak mau mendengar advis teknisi, dan pelit mengupgrade karyawannya, nasibnya bisa jadi seperti JT610.

(10) Efek dari kesalahan sedikit saja sangat fatal. Korban insan-insan yang jadi penumpang. Mereka adalah manusia yang punya keluarga besar. Tapi boss Jt610 malah tetap arogan.

(By: Ust. Nandang Burhanudin)