Histori Muhammadiyah sebagai Gerakan Filantropi dalam Pemaknaan Teologi Al-Maun

Histori Muhammadiyah sebagai Gerakan Filantropi dalam Pemaknaan Teologi Al-Maun

Oleh: Dimas Fitra Aulia
(Mahasiswa Magister Manajemen UMM. NIM 202210280211038)

Suatu hari dalam pengajian rutin, KH Ahmad Dahlan mengajarkan tafsir Surat Al-Ma’un secara berulang-ulang selama beberapa hari tanpa menggantinya dengan surat lainnya. Lalu salah seorang santri KH Ahmad Dahlan penasaran dan ia memberanikan diri bertanya kepada Sang Guru. “Mengapa materi pengajian tidak ditambah-tambah dan hanya mengulang-ulang Surat Al-Ma’un saja?," tanya santri tersebut.

Mendengar pertanyaan itu, Kiai Ahmad Dahlan kembali bertanya kepada santrinya, “Apakah kalian sudah benar-benar mengerti maksud dari Surat Al-Ma’un? Apakah arti ayat-ayat yang sudah dihafal tersebut sudah diamalkan?” Para santri menjawab dengan bertanya, “Apa yang harus diamalkan, bukankah Surat Al-Ma’un sering dibaca ketika salat?”

Kiai Ahmad Dahlan menjelaskan kepada muridnya bahwa bukan itu yang dimaksud dengan mengamalkan, tapi apa yang sudah dipahami dari ayat ini untuk bisa dipraktekkan dan dikerjakan dalam wujud nyata. Oleh karena itu, Kiai Ahmad Dahlan masih mengulang Surat Al-Ma’un sampai santri-santrinya melakukan aksi terhadap ayat ini.

Kiai Ahmad Dahlan pun memerintahkan kepada santrinya untuk mencari orang-orang miskin yang ada disekitar tempat tinggal mereka. Apabila sudah bertemu dengan orang miskin dan anak yatim, mereka harus membawa pulang ke rumahnya masing-masing dirawat dengan baik termasuk diberi sikat gigi yang baik, pakaian yang baik, beri makanan yang baik, minuman yang baik, dan tempat tidur yang baik.
Itulah gambaran singkat mengenai lahirnya Teologi Al-Maun menurut Muhammadiyah yang digagas oleh sang pendirinya, yaitu KH Ahmad Dahlan. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah menamakan dirinya lebih sebagai gerakan (movement, harakah) karena lebih fokus prakteknya dalam kehidupan sosial. Kata gerakan disebut secara eksplisit dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah dan juga dalam lagu Sang Surya yang konon bisa membuat bulu kuduk warga Muhammadiyah berdiri tatkala dilagukan bersama: “Al-Islam agamaku, Muhammadiyah gerakanku”.

Teologi Al-Ma’un merupakan dasar utama berdiri dan berkembangnya Muhammadiyah dari awal berdiri hingga saat ini. Teologi ini didasari oleh 3 pilar kerja yaitu: feeding (pelayanan sosial), schooling (pendidikan), dan healing (pelayanan kesehatan). Dari teologi ini lah Muhammadiyah mampu bertahan lebih dari 100 tahun dengan memiliki banyak sekali Amal Usaha. KH Ahmad Dahlan menerjemahkan teologi ini dengan tindakan yang kreatif sehingga Kiai Dahlan sendiri yang mendirikan amal usaha di bidang sosial, kesehatan, dan pendidikan.

I. PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem)

Implementasi dari jiwa pemurah, dermawan, dan suka menolong sesama itu salah satunya tampak sekali dalam pembentukan PKO atau Penolong Kesengsaraan Oemoem (Assistence for Relief of Public Suffering) pada 1920-an. (Hajriyanto Y. Thohari, Muhammadiyah Sebagai Gerakan Filantropi: Perspektif Historis dan Sosiologis, 2021). Kata oemoem (public) dalam frase Penolong Kesengsaraan Oemoem ini penting untuk digarisbawahi oleh karena penekanannya pada kerja-kerja kemanusiaan tanpa memandang perbedaan agama dan suku atau bangsa.

Ahmad Dahlan dalam pidato pengarahan pada pendirian PKO (1920-an) yang dipimpin oleh salah seorang kawan dan sekaligus muridnya, yaitu Hadji Mohammad Soedjak, malah sempat menegaskan: “Hadjatnja PKO itoe akan menolong kesengsaraan dengan memakai asas agama Islam dengan segala orang, tida dengan membelah bangsa dan agamanja”. Artinya, dari Muhammadiyah yang berasas agama Islam untuk kemanusiaan universal.

Surah Al-Ma’un itulah yang mendorong Ahmad Dahlan dan murid-muridnya ber-manhaj amal (men of action, faith in action) sehingga menjadi orang-orang yang pemurah, dermawan, dan suka menolong pada sesama. Dengan semangat yang dikobarkan oleh teologi Al-Ma’un, pandangan Islam berkemajuan (modernisme), dan puritanisme yang menggebu dengan melakukan reformasi pengelolaan zakat (almsgiving), sedekah (donation) dan Waqf (religious endowment), Muhammadiyah tampil sebagai kekuatan filantropi modern.

II. AM (Amal Muhammadiyah), AUM (Amal Usaha Muhammadiyah), dan Lazismu

Zakat, sedekah dan waqaf menjadi motor sekaligus tulang punggung Muhammadiyah sebagai gerakan filantropis dengan mendirikan sekolah, panti asuhan yatim, dan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO). Rumah Sakit sebagai pengejawantahan semangat “semangat PKO” misalnya, berhasil didirikan pada tanggal 15 Februari 1923. Penolong Kesengsaraan Oemoem adalah aktivitas dan pekerjaan Muhammadiyah yang paling otentik dan original lebih dari yang manapun juga. Kegiatan-kegiatan amal ini berupa pendirian sekolah, panti asuhan yatim, klinik atau rumah sakit, dan lain-lainnya yang dibeayai atau digerakkan dari Zakat, Sedekah dan waqaf. Inilah “Amal Muhammadiyah” yang disingkat AM.

Belakangan seiring dengan perubahan lingkungan strategis dalam berbagai bidang kehidupan, apa yang disebut Amal Muhammadiyah (AM) berkembang menjadi Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). AUM dalam bidang pendidikan mengambil bentuk pendirian TK ABA, sekolah-sekolah, universitas, danlain-lainnya; dalam bidang kesehatan (klinik, rumah sakit dan rumah bersalin), penerbitan (majalah, surat kabar, radio, televisi, dan lain-lain), biro perjalanan haji dan umroh, dan bisnis keuangan (koperasi, Baitut Tamwil, bank perkreditan, bank), dan lain-lainnya. 

Pertanyaannya adalah dari mana Muhammadiyah memperoleh dana untuk menolong orang-orang tersebut? Jawabnya adalah dana-dana yang dihimpun oleh Muhammadiyah dari orang-orang yang berjiwa filantropis, yakni orang-orang Muhammadiyah yang pemurah, dermawan, dan suka menolong sesama melalui zakat, infak, sedekah yang dihimpun oleh Lazismu. Walhasil, Lazismu pada hakekatnya adalah reinkarnasi dari Penolong Kesengsaraan Oemoem alias PKO. Lazismu lahir sebagai motor sekaligus tulang punggung Muhammadiyah sebagai gerakan filantropis.

III. MPM (Majelis Pemberdayaan Masyarakat) dan MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center)

Semangat filantropi tidak pernah surut dari keluarga  Muhammadiyah. Kini setelah PKO menjadi PKU (Pembina Kesejahteraan Umat), dan sebagian (besar) sekolah-sekolah Muhammadiyah telah menjadi sekolah-sekolah unggulan dan favorit, Muhammadiyah masih tetap memiliki RS/PKU dan sekolah-sekolah gratis yang masih bisa diposisikan sebagai lembaga penolong kesengsaraan oemoem. Di samping Panti Asuhan Yatim (PAY) yang tetap setia menjaga semangat filantropi Muhammadiyah, kini Muhammadiyah telah melembagakan gerakan penolong kesengsaraan oemoem melalui MPM (Majelis Pemberdayaan Masyarakat) dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).

MPM dirintis oleh almarhum Dr. Moeslim Abdurrahman dan almarhum Dr. Said Tuhuleley. Keduanya merupakan kekuatan operasional dari gagasan teologi Al-Ma’un yang Ahmad Dahlan gagas, sekaligus peletak dasar-dasar gerakan pemberdayaan masyarakat. (M. Khusnul Khuluq, Trisula Baru Gerakan Kemanusiaan Muhammadiyah Abad Kedua: LAZISMU, MDMC dan MPM, 2022). Langkah-langkah keduanya yang sangat fenomenal berhasil mendorong ekspansi dan ekstensifikasi gerakan Muhammadiyah sehingga merambah dunia buruh, tani, dan nelayan, bidang-bidang yang selama ini berada di luar arus utama Muhammadiyah.

Adapun MDMC memiliki spirit Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang fenomenal sejak 100 tahun yang lalu itu. MDMC bergerak dalam kegiatan penanggulangan bencana baik pada kegiatan kesiapsiagaan, tanggap darurat, maupun rehabilitasi. MDMC mengadopsi kode etik kerelawanan dan piagam kemanusiaan yang berlaku secara internasional dengan mengembangkan misi pengurangan risiko.

MPM, MDMC, dan LAZISMU adalah tiga lembaga filantropisme yang merupakan manifestasi baru dari semangat Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO). Itu akan semakin mengokohkan Muhammadiyah sebagai salah satu gerakan volunterisme yang bekerja secara profesional dan modern. Muktamar ke-47 Muhammadiyah pada tanggal 3-7 Agustus 2015 di Makassar yang lalu merupakan Muktamar pertama di abad kedua usianya menjadi momentum pengembangan Trisula Baru gerakan kemanusiaan Muhammadiyah ini.

(*)