Kelangkaan Minyak Goreng Bukan Salah "Penimbun", Tapi Salah Pemerintah

Kelangkaan Minyak Goreng Bukan Salah "Penimbun"

Kelangkaan minyak goreng karena banyak produsen yang menahan barangnya itu adalah dampak dari kebodohan pemerintah dalam mengatasi harga minyak yang melambung naik dengan menetapkan Harga eceran tertinggi.

Tingginya harga ecer minyak goreng bukan karena supply and demand minyak goreng, tapi karena supply and demand bahan baku, harga CPO untuk minyak goreng yang juga naik. Sehingga menetapkan harga eceran untuk atasi mahalnya harga minyak itu tidak cukup.

Pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi 14 ribu, tetapi tidak menyelesaikan persoalan mahalnya bahan baku.

Harga bahan baku masih harga lama, tapi dipaksa menurunkan harga ecer, ya rugi..., perusahaan mana yang mau melepas minyak gorengnya kalau sudah jelas bakal rugi...ya akhirnya perusahaan pada nahan barang...

Mahalnya harga CPO sebagai bahan baku minyak goreng karena supply nya terus menurun, langka, karena CPO justru lebih banyak dijual ke Biodisel dibanding ke produsen minyak goreng, karena jika dijual ke biodisel harganya lebih mahal. Karena CPO untuk minyak goreng langka akibatnya harga CPO untuk minyak ikutan mahal yang berdampak harga ecer...

Tahun 2019 hingga tahun 2022 penggunaan CPO untuk pangan tidak pengalami kenaikan, sedangkan, CPO untuk Biodisel tahun 2022 jika dibandingkan dengan 2019 diproyeksi akan naik 60%.

Sudah bahan bakunya langka, harganya mahal, diminta jual ecer dengan harga dibawah harga baku, siapa yg mau melepas barangnya?

Lalu apa yang harus dilakukan pemerintah seharusnya?

1. Kurangi pengggunaan CPO untuk biodisel, batasi, agar supply CPO untuk minyak goreng terjaga dan akan berampak pada turunnya harga CPO untuk minyak goreng.

2. Tetapkan harga eceran minyak goreng, tapi juga berikan subsidi harga CPO dengan batas tertentu sehingga produsen minyak goreng tetap profit.

3. Ganti menteri terkait dengan orang yang lebih pro rakyat bukan pro cuan.

Demikian perlu untuk kami sampaikan.... 

(Oleh: Arka Atmaja)