Akibat Logika Tolol, Jokower Pendukung Proyek Kereta Cepat JKT-BDG Dikuliti Netizen

[PORTAL-ISLAM.ID]  SEJAK AWAL Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang digarap kerjasama dengan China ini sudah banyak ahli yang menolak karena TIDAK LAYAK.

Ekonom senior Faisal Basri menyebut proyek ini sudah bermasalah sejak awal, dan dirinya sudah mengingatkan.

Dan kini biaya Proyek Membengkak gila-gilaan. 

Proyek ini awalnya estimasi biaya Rp 87 Triliun.

Kini membengkak jadi Rp 114 Triliun.

Perhitungan untuk Balik Modal (BEP) dengan harga tiket sekali naik Jakarta-Bandung Rp 400 ribu, perlu 425 juta tiket untuk bisa BEP.

Andai per hari laku 10 ribu tiket (5 trip Pulang Pergi), perlu 42.500 hari alias 110 tahun untuk BEP!

Jadi, secara hitungan awal saja (estimasi biaya Rp 87 Triliun), perlu 110 tahun untuk bisa balik modal. Apalagi sekarang proyek membengkak jadi Rp 114 Triliun.

TAPI... ada jokower yang goblok membela proyek china kereta cepat ini.

"Itungannya ga kesitu juga bung. Tapi pemerataan ekonomi & mengurangi kepadatan penduduk jakarta. Cost karena macet di jakarta itu juga trilyunan. Coba bayangkan bila pekerja pendatang itu bisa PP Jakarta-BDG kan dijamin JKT agak lowong. Polusi udara jg cost. Ekonomi jg lbh nyebar," kata akun @nicho0218.

YA... logika tolol ini langsung dikuliti netizen.

"Lo ngk mikir ya, klo sehari 800 rb buat ongkos sebulan misal 25 hari kerja udah 20 jt."

"Lagi mabuk apa lu? Kok asal ngejeplak? Pekerja pp Jakarta-Bandung?!"

"Apa ya ada orang pekerja yang pp jakarta bandung dengan tarif minimal 800 rb setiap hari...?"

"Dan udah ada kereta biasa yang ke Bandung juga, dan stasiun kereta cepat ini jauh di luar kota Bandung, musti cari transportasi lagi buat nyambung, jadi bisa jadi nyampe duluan kereta yg biasa, lebih murah pula, jadi siapa yg mau naik kereta cepat kalau gitu,110 tahun uda rubuh." 

"Ongkos transportasi tiap hari pekerja bisa Rp 1 juta lebih (kalau naik kereta cepat), ini argumen guoblok macam apa @nicho0218, 110 tahun belum tentu masih ada bangunan itu bahkan perusahaan yg investasi, ini lebih parah dari monorel, setidaknya proyek kereta cepat ini berhenti sebelum keluar uang banyak."