Joko itu punya tanah luas. Suatu hari Koh Apeng lewat....

Hikayat 2 Babak

Joko itu punya tanah luas. 

Suatu hari Koh Apeng lewat. Mampir. 

"Pak Joko, ini tanah luas, sayang kalau tidak dibangun. Mau saya buatkan rumah baru?"

"Tapi saya tidak butuh rumah baru, rumah lama sy masih cukup."

"Wah, Pak Joko harus visioner. Besok-besok pasti butuh rumah baru."

"Tapi saya tidak punya duitnya."

"Tenang, Pak Joko, saya kasih pinjam, 40 tahun, bunga murah, cincai lah? Paling hanya habis 2 milyar deh."

Joko diam, tapi dia pengin juga. Biar dibilang keren, maju. Maka, deal.

Itu rumah dibangun. Pakai tukangnya Koh Apeng, pakai duit Koh Apeng. Eh, awalnya cuma 2 milyar, ternyata bengkak 3 milyar. Tapi gimana dong, sudah terlanjur minjam 2 milyar, harus terus. Hingga selesai, ternyata habis 4 milyar.

Rumah baru itu jadi dengan megah. 

Koh Apeng tertawa lebar. Karena dipakai atau tidak itu rumah, dia tetap dapat cicilan+bunga pinjaman. Dia juga sudah untung besar pas proses bangunnya. Karena material beli dari dia semua.  

Joko mati.

Betulan, Joko mati beberapa tahun kemudian.

Yang pusing sekarang, anak cucunya, harus bayar utang 40 tahun. Belum lagi biaya perawatan, biaya ini, itu. 

Koh Apeng terus tertawa lebar. Karena dia tahu, itu hutang terpaksa dibayar. Tidak bisa dibayar, dia akan ambil itu rumahnya. Kan serba susah jadinya bagi anak cucu Joko. 

***

Di tempat lain.

Luhut punya tanah luas juga.

Suatu hari Tuan Anton datang. Mampir.

"Om Luhut, itu tanah luas sayang banget tidak ditanam apapun? Boleh sy tanam pohon cilok?"

"Boleh. Tapi saya dapat apa?"

"Tenang. Kan kalau sy yg tanam, itu investasi. Keluarga Om Luhut jadi maju, ekonomi juga tumbuh. Kalau keluarga Om Luhut mau makan cilok, murah deh, dari tanah sendiri. Daripada impor."

"Betul juga ya."

"Iya, Om Luhut, kasih sy konsesi 50 tahun."

Deal.

Maka tanah luas itu ditanami pohon cilok. 5 tahun berlalu, pohon cilok mulai panen. Tapi nasib, harga internasional cilok naik tinggi. Tuan Anton jual itu cilok pakai harga internasional deh. 

Tuan Luhut mati.

Betulan mati. Anak cucunya, aduh, lupakan bisa makan cilok murah. Mereka harus membeli cilok yg ditanam di tanah mereka sendiri. Dengan harga mahal. Antri pulak. 

Hingga lupa, siapa sih yg sebenarnya punya tanah?

(By Tere Liye)

*fb