SHALAT NABI ISA

SHALAT NABI ISA

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

Tidak  diragukan lagi, Nabi Isa sudah pasti melakukan syariat shalat sebagaimana Nabi Muhammad ﷺ . Nabi Isa sendiri menegaskan bahwa beliau diperintahkan shalat selama hidup. Allah menceritakan ucapan Nabi Isa sebagai berikut, 

﴿‌وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا ﴾ [مريم: 31] 

Artinya,

“Allah berpesan kepadaku untuk menegakkan shalat dan membayar zakat selama aku hidup.” (QS Maryam: 31)

Jadi, ayat ini sangat jelas dan lugas menunjukkan Nabi Isa melakukan shalat sebagaimana  nabi Muhammad.

Kita juga bisa membayangkan bahwa Nabi Isa saat salat beliau meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya, karena ada riwayat al-Ṭabaranī dengan sanad sahih bahwa Allah memerintahkan para Nabi melakukan shalat dengan cara meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri.

Bahkan, tidak salah jika kita menegaskan bahwa Nabi Isa itu shalatnya 5 waktu sebagaimana  nabi Muhammad!

Sebab ada riwayat dari Salmān al-Fārisī (Sahabat Nabi yang dulunya Majusi kemudian Nasrani sebelum bertemu Nabi) bahwa beliau menyaksikan gurunya yang mengikuti din Nabi Isa melakukan shalat dengan tekun dan khusyuk sebanyak 5 kali dalam sehari. Salmān berkata,

«فَمَا رَأَيْتُ رَجُلًا لَا يُصَلِّي الْخَمْسَ، أَرَى أَنَّهُ أَفْضَلُ مِنْهُ، أَزْهَدُ فِي الدُّنْيَا، وَلَا أَرْغَبُ فِي الْآخِرَةِ، وَلَا أَدْأَبُ لَيْلًا وَنَهَارًا مِنْهُ، قَالَ: فَأَحْبَبْتُهُ حُبًّا لَمْ أُحِبَّهُ مَنْ قَبْلَهُ، فَأَقَمْتُ مَعَهُ زَمَانًا، ثُمَّ حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ». [«مسند أحمد» (39/ 142 ط الرسالة)]

Artinya,

“Tidaklah aku melihat seseorang yang shalat 5 waktu yang lebih baik daripada beliau. Juga tidak ada yang lebih zuhud terhadap dunia daripada beliau. Juga tidak ada yang lebih  berminat terhadap akhirat daripada beliau. Juga tidak ada yang lebih tekun beribadah siang-malam daripada  beliau. Akupun jadi sangat cinta kepada beliau dengan sebuah cinta yang  belum pernah kurasakan sebelumnya. Akupun tinggal beberapa waktu bersama beliau hingga akhirnya beliau wafat.” (H.R. Ahmad)

Dalam Injil (versi terjemahan Inggris), mungkin shalat Nabi Isa ini hanya diungkapkan dengan kata “pray” yang diterjemahkan “berdoa”. Oleh karena itu, generasi belakangan sangat dimungkinkan mengalami kesamaran cara pelaksanaannya sehingga di masa selanjutnya sejumlah orang “berijtihad” sendiri cara 'berdoa' tersebut karena memang tidak ada tradisi penukilan cara shalat Nabi Isa yang teliti dan ketat sebagaimana di kalangan kaum muslimin. 

اللهم اجعلني مقيم الصلاة ومن ذريتي