AEK: Makin ke sini, mengapa bangsa kita dibuat makin kerdil?

Makin ke sini, mengapa bangsa kita dibuat makin kerdil? Dikalahkan sejak dari dalam pikiran sebab dihadapkan dengan nama-nama pihak yang konon besar. 

Apa itu "besar"? Apa buktinya mereka "besar"? Apa untungnya buat kita?

Dalam soal pembangunan Ibukota Nusantara (IKN), pejabat membius kita dengan nama Softbank---yang akhirnya mundur sebagai investor. 

Dalam hal GOTO, obat biusnya ADIA, Google, Softbank, Temasek dkk. 
Apa bukti kebesaran mereka? Mana duitnya? 

Jika kita minder di muka, kalah sejak dalam pikiran, tak heran kalau Negara ini terus-menerus dijadikan objek financial engineering para pelaku bisnis yang seenaknya saja menguarkan narasi-narasi indah investasi. Memunculkan para pengkhianat yang dengan bangga bertepuk tangan mendukungnya. 

Hasilnya adalah Hukum Pareto lestari. Yang sedikit, mengendalikan yang banyak. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. 54,4% perkebunan sawit dikuasai hanya oleh 0,07% swasta tertentu. Pekebun rakyat rata-rata hanya memiliki 2,21 hektare lahan sementara swasta 4.247 hektare, lebih luas dari yang dimiliki Negara sebesar 3.320 hektare (Data BPS dan Kementan, 2022). 

Di bisnis digital, GOTO, pun begitu. Hingga saat ini, 80% lebih saham GOTO dikuasai pihak asing individu maupun institusi (berdasarkan Modal Disetor 31 Mei 2022). BUMN Telkom melalui Telkomsel mengeluarkan Rp6,4 triliun untuk mendapatkan hanya tak sampai 3% komposisi saham di perusahaan start-up berusia 7 tahun yang akumulasi rugi bersihnya Rp85 triliun lebih (per 31 Maret 2022) dan tak bisa menjamin profitabilitas di masa depan. Investasi terjadi ketika Menteri BUMN dijabat Erick Thohir, adik Garibaldi Thohir, Komisaris Utama sekaligus pemegang saham GOTO. Lantas, masyarakat dibuai dengan narasi bahwa keputusan Telkom tepat berinvestasi di GOTO, sebab investor kakap lainnya seperti ADIA (Abu Dhabi), Temasek, Google, Tencent, Astra, Softbank dll juga begitu.

Bodoh betul kita kalau percaya begitu saja tanpa mengecek buku dan bukti lainnya. Para investor itu juga manusia, sama seperti kita, apa istimewanya? Kita musti kritis dan lihat hitung-hitungan mereka. 

Dalam bahan presentasi tertutup pimpinan Telkom dan Telkomsel di Panja DPR pekan lalu, terdapat slide tentang Validasi Investasi TSEL | Investasi TSEL tervalidasi dengan berbagai perusahaan terkemuka dari seluruh dunia yang berinvestasi di GoTo baik sebelum maupun setelah TSEL masuk. Ada Astra yang masuk US$250 juta sejak sebelum 2019. Ada Google, ADIA dkk yang masuk US$1,4 miliar (Rp20 triliunan) setelah Telkomsel setor (Pra-IPO). 
Masyarakat perlu tahu para investor 'kakap' itu tidak selalu setor tunai keras (duit) senilai itu. Permak bukulah yang memungkinkan terjadinya valuasi akibat aksi korporasi yang dimasukkan sebagai Tambahan Modal Disetor. Artinya, revaluasi akan menguntungkan juga pemilik saham lama karena nilainya naik tanpa mereka perlu setor duit tunai lagi.

Duit Rp6,4 triliun Telkomsel sangat signifikan bagi proses valuasi GOTO. Hingga 31 Maret 2022, asal tahu saja, Modal Disetor GOTO cuma Rp1,14 triliun. Tambahan Modal Disetornya yang mencapai Rp225,7 triliun---ini berasal dari valuasi dan revaluasi.

Tak butuh jenjang pendidikan khusus untuk menyadari bahwa bisnis start up ala GOTO adalah bisnis storytelling yang mengandalkan valuasi demi valuasi atas aksi korporasi (merger dsb). Ini membuktikan definisi unicorn versi Investopedia yang menyebutkan bisnis unicorn tidak ada urusannya dengan performa keuangan si start up. Yang mereka jual adalah BUKU. Yang investor inginkan adalah sahamnya dijual pada harga yang lebih tinggi dari pembelian dengan 'merayu' terus menerus investor baru untuk masuk (umur investasi rata-rata 10 tahun). Kendaraannya adalah financial engineering, pembentukan persepsi lewat media massa, dan koneksi politik!

Saya contohkan Google. Ia masuk GOTO pakai dua entitas: Google Asia Pacific PTE., LTD dan Google International LLC. Per Akta 128/29 Oktober 2021, mereka pegang saham Seri I, M, P, Q, Z yang nominalnya Rp1 per saham. Total lembarnya 43,1 miliar, nilai nominalnya Rp43,1 miliar. Google pegang lebih banyak dibanding Telkomsel yang memiliki saham Seri P 23,7 miliar lembar. Google sudah bercokol sebagai investor GOTO sejak Januari 2019.

Masalahnya, jika Telkomsel setor duit tunai Rp6,4 triliun (Rp2,1 triliunnya obligasi konversi tanpa bunga), Google setor apa? Google kasih utang GOTO Rp9,4 miliar yang dijaminkan dengan garansi bank (per 31 Maret 2022); GOTO membeli layanan Google Cloud dan layanan lainnya Rp509 miliar; GOTO dan Google membuat perjanjian kerja sama (komitmen kontraktual) penggunaan layanan Google Maps dan Google Cloud senilai Rp2,49 triliun. 

Jadi, tidak ada setoran tunai seperti Telkomsel yang dilakukan oleh Google (jika ada, di mana dicatatnya). Dugaan kuatnya adalah Google jual layanan Google Maps dan Google Cloud seperti vendor pada umumnya, tapi dibeli GOTO pakai saham. 

Lalu di mana duit US$400 juta (Rp5,8 triliun kurs Rp14.500) ADIA? Ya, buktikanlah oleh para pihak sana di mana dicatatnya sebagai modal disetor. Jangan cuma bisa bikin rilis berita yang membius orang seolah-olah Rp5,8 triliun itu 'nyata adanya'. 

Termasuk Astra, yang ditulis dalam slide Telkom/Telkomsel, investasi sebesar US$250 juta di GOTO. Sementara LK Triwulan I 2022, ASII mencantumkan investasi efek di GOTO melalui perusahaan asuransi grup Astra sebesar Rp12 triliun dan investasi perseroan lainnya Rp3,5 triliun. Patut diduga juga ini sebagian besar berupa barang/layanan yang dinilai sebagai saham. Kan, orang beli kendaraan pakai leasing juga ada asuransinya.

Bisnis storytelling start up ala GOTO ini perlu disimak cermat dan hati-hati, terutama cara mereka menghitung valuasi. Penggunaan nama penilai yang konon bereputasi tidak menjamin prosesnya benar selama tidak ada pembanding, apalagi ada potensi afiliasi dan benturan kepentingan di dalamnya. Mereka, misalnya, menghitung aset tak berwujud berupa hubungan pelanggan dan goodwil dst hingga ratusan triliun rupiah. Tapi, proyeksi penerimaan komisi dari transaksi Gofood pada aplikasi Gojek, sudah dijadikan jaminan pinjaman di Bank Permata sebesar US$50 juta (Rp705,2 miliar).

Mengapa Telkomsel setor tunai Rp6,4 triliun? Mengapa Telkomsel tidak 'menjual' pulsanya saja ke GOTO lantas dinilai saham, misalnya, seperti Google yang laksana vendor itu? Berinvestasi di perusahaan itu keuntungan diperoleh dari dua hal saja: dividen dan/atau capital gain (selisih harga beli dan jual). Bagaimana bisa dapat dividen kalau fundamental bisnisnya tidak untung? 

Jadi, bagi saya, investasi Telkomsel di GOTO ini patut diwaspdai potensi 'tipu-daya-nya' akibat berbagai kemungkinan tindakan pelanggaran hukum dan financial engineering. Ini bisnis permak buku dan merayu investor seterusnya selayaknya Skema Ponzi dan BUMN kita terjun di dalamnya---yang tentunya menjauh dari fungsi dan peran BUMN.

Ya, masak sebegitu bodohnya kita percaya bahwa ini semua demi kedaulatan digital, demi karya anak bangsa, demi kebangkitan bangsa bersama Menteri BUMN Erick Thohir---yang spanduk onlinye beredar di berbagai platform medsos itu?

Ingat, kita bisa dijajah 350 tahun oleh negara sekecil Belanda bukan karena Belanda hebat melainkan karena terlalu banyak pengkhianat yang berasal dari anak bangsa sendiri. TERLALU BANYAK PENGKHIANAT!

Begitulah yang pernah saya lihat dari satu publikasi di medsos.

Salam.

(Agustinus Edy Kristianto)