Kecerdasan Imam Al Baqilani vs Pendeta

Kecerdasan Imam Al Baqilani

Imam Abu Bakar Al Baqilani (950 - 1013 Masehi) yang terkenal sebagai ahli debat pernah berjumpa dengan seorang pendeta Nasrani. 

Tiba-tiba pendeta tersebut berkata; "Kalian, kaum muslimin mengidap penyakit fanatisme". 

Imam Al Baqilani bertanya; "Apa maksud anda?"

Pendeta tersebut menjawab; "Kalian membolehkan pernikahan dengan wanita ahli kitab (Yahudi/Nasrani), namun kalian melarang kami menikahi anak-anak gadis kalian".

Lalu imam Abu Bakar Al Baqilani menjawab: "Kami boleh menikahi wanita Yahudi karena kami beriman kepada Musa As dan kami diperbolehkan menikahi wanita Nasrani karena kami beriman dengan Isa As. Jika kalian mau beriman dengan Nabi Muhammad Saw, pasti kami nikahkan kalian dengan putri-putri kami."

Maka terbungkamlah mulut pendeta kafir tersebut. 

Sebagai ulama terkemuka, Imam Abu Bakar Al Baqilani juga pernah diutus oleh penguasa Iraq untuk berdebat dengan orang-orang Nasrani di Kostantinopel pada tahun 371 H. 

Saat mendengar kedatangan Imam Abu Bakar Al Baqilani, penguasa Romawi memerintahkan para pembantunya untuk merendahkan tinggi pintu istana. Hal ini dilakukan agar Imam Abu Bakar Al Baqilani terpaksa membungkuk kan badan saat memasuki istana Romawi tersebut. 

Tatkala Al Baqilani sampai di depan istana beliau mengetahui siasat licik tersebut, maka beliau membalikkan badan lalu berjalan sambil membungkuk dengan posisi mundur membelakangi raja. Beliau menghadapkan pantatnya terlebih dahulu kepada sang raja daripada wajahnya. 

Saat itulah, raja Romawi tahu siapa yang sedang dia hadapi.

Saat beliau memasuki ruangan istana itu, beliau mulai menanyakan kabar para pendeta tersebut dan keluarganya. "Bagaimana kabar kalian dan keluarga serta anak-anak kalian?" tanya Imam Al Baqilani.

Mendengar hal itu, maka murka-lah sang raja: "Bukankah anda tahu kalau pendeta-pendeta kami tidak menikah dan tidak memiliki anak?"

Lalu Abu Bakar berkata; "Allahu Akbar! Kalian mensucikan para pendeta kalian dari pernikahan dan keturunan lalu kalian menuduh Tuhan kalian menikah dan melahirkan Isa???" 

Mendengar jawaban ini, sang raja makin murka lalu ia berkata: "Lalu bagaimana pendapat mu terkait Aisyah (tuduhan selingkuh yang pernah menimpa Aisyah Ra)?"

Abu Bakar Al Baqilani menjawab: "Jika Aisyah Ra pernah dituduh berzina (oleh kaum munafik) maka Maryam pun pernah dituduh (oleh kaum Yahudi) padahal keduanya adalah wanita yang suci. Bedanya; Aisyah menikah dan tidak dikaruniai anak sedangkan Maryam tidak menikah tapi dikaruniai anak. Menurut kalian; siapa yang lebih layak dituduh (meskipun keduanya jelas-jelas wanita yang suci)?"

Makin gila lah sang raja mendengar jawaban Imam Al Baqilani rahimahullah tersebut. 

Raja Romawi tersebut kembali bertanya; "Apakah Nabi kalian berperang?" 
Al Baqilani menjawab: "Iya" 
Raja kembali bertanya: "Apakah ia menang?" 
Al Baqilani menjawab: "Iya"

Sang raja bertanya kembali: "Apakah Nabi kalian pernah kalah (perang)?"
Al Baqilani menjawab: "Iya"
Raja berkata: "Aneh, Nabi kok kalah perang??!!"
Al Baqilani menjawab: "Tahukah Anda, ada yang lebih aneh daripada itu; bagaimana bisa tuhan mati di tiang salib?" 

Maka terbungkamlah mulut orang kafir tersebut!! 

Referensi: Tarikh Baghdad (5/379) karya Al Khatib Al Baghdadi 

Hikmah yang bisa dipetik:

(1) Dulu para ulama sibuk berdebat untuk meluruskan kesesatan orang kafir, sedangkan saat ini sebagian ulama sibuk memuji dan mencari titik-titik kompromi dengan orang kafir. 

(2) Agama ini harus dipikul oleh orang-orang yang cerdas agar wibawanya terjaga. Oleh sebab itu siapa saja diantara kita yang memiliki putra/putri yang cerdas, jangan semua diarahkan untuk jadi dokter atau arsitek. Harus ada yang disekolahkan agar menjadi ulama, penjaga akidah umat.

Wallahu a'lam bishawwab....