Gujarat dan Sisa Peradaban Islam di India

Gujarat dan Sisa Peradaban Islam di India

Persentuhan Islam dengan penduduk pesisir Gujarat terjadi jauh sebelum kekuasaan politik tegak di kawasan anak Benua India. Hal itu berjalan secara alami bersamaan dengan kontak-kontak dagang antara penduduk Arab atau Timur Tengah yang sudah terjalin sejak masa pra-Islam. Bagaimana Gujarat era sekarang?

Bagi umat Islam di Indonesia, nama Gujarat bukanlah nama asing. Nama ini kerap disebut-sebut sebagai daerah asal penyebar Islam di wilayah Nusantara.

Sebetulnya, ada banyak teori yang menyebutkan tentang bagaimana awal mula masuknya Islam ke Indonesia. Sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya, Api Sejarah, halaman 99, menyebutkan setidaknya ada lima teori tentang masuknya agama Islam ke Nusantara, yakni Teori Gujarat, Teori Makkah atau Teori Arab, Teori Persia, Teori Cina, dan Teori Maritim.

Menakar Teori Gujarat

Teori Gujarat dikembangkan oleh sarjana Belanda Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje, penggagas sekularisasi di Aceh atau Nusantara pada masa kolonialisme Belanda. Teori ini mengatakan bahwa Islam tidak mungkin masuk ke Nusantara langsung dari Arabia tanpa melalui ajaran tasawuf yang berkembang di India, khususnya dari Gujarat.

Namun, Mansur tampaknya meragukan kebenaran teori ini. Selain karena fakta sistem penulisan sejarah di Indonesia harus mengikuti hasil penulisan sarjana Belanda (yang notabene penjajah), juga karena teori ini menyebutkan bahwa daerah yang pertama dimasuki adalah Kesultanan Samudera Pasai pada abad ke-13. Padahal, tidak mungkin Islam masuk ke Samudera Pasai lalu langsung mendirikan kekuasaan politik atau kesultanan di sana.

Sejarawan-sejarawan terkenal lainnya seperti TW. Arnold, J.C. Van Leur, N.A. Baloch, dan Syekh Ar-Rabwah juga menemukan fakta lain yang diangkat dalam Berita Dinasti Tang Cina pada 618—907 M. Berita ini menyebutkan bahwa sekitar abad ke-7 telah ditemukan daerah hunian (settlement) wirausahawan Arab Islam di pantai barat Sumatra.

Oleh karenanya, disimpulkan bahwa ajaran Islam masuk ke wilayah Nusantara langsung dibawa oleh para pedagang sekaligus dai yang berasal dari Arab pada abad ke-7 tersebut, bukan oleh pedagang Gujarat. Sementara bukti-bukti kehadiran para pedagang dan dai Gujarat di Samudera Pasai pada abad ke-13 hanya menunjukkan tentang perkembangan Islam di Nusantara saja.

Mansur juga menganalisis bahwa meski pada abad-abad tersebut (abad 1—11 H/622—632 M) situasi di Makkah dan Madinah dalam kondisi perang, tetapi jalan laut niaga yang telah menjadi tradisi dan membentang antara Timur Tengah, India, dan Cina memang tidak pernah terputus.

Bahkan, pada masa Khulafairasyidin (11—41 H/632—661 M), khususnya pada masa Utsman bin Affan, kontak niaga antara bangsa Arab dengan wilayah lainnya termasuk Cina berjalan makin lancar. Oleh karenanya, kontak-kontak dengan wirausahawan di kepulauan Nusantara, termasuk Selat Malaka yang menjadi jalur termudah untuk sampai ke Cina, otomatis terjadi dan berjalan lancar.

Mengenal Gujarat

Meski Teori Gujarat terbantahkan, tidak ada salahnya kita mengenal sejarah Islam di wilayah Gujarat. Terlebih, Gujarat merupakan wilayah Hindu yang kini masih menyimpan sisa-sisa kejayaan peradaban Islam di wilayah anak Benua India.

Saat ini, Gujarat merupakan salah satu negara bagian Republik India. Letaknya ada di sebelah barat India, berbatasan dengan negara Pakistan di Barat Laut, serta berbatasan dengan negara bagian India lainnya, yakni Rajashtan di bagian utara.
Persentuhan Islam dengan penduduk pesisir Gujarat terjadi jauh sebelum kekuasaan politik tegak di kawasan anak Benua India. Hal itu berjalan secara alami bersamaan dengan kontak-kontak dagang antara penduduk Arab atau Timur Tengah yang sudah terjalin sejak masa pra-Islam.

Namun, pada 15 H/635 M, yakni pada masa kepemimpinan Khalifah Umar, gubernur Bahrain yang posisinya ada di dekat pesisir barat Teluk Persia secara resmi mengirimkan ekspedisi ke Thana dan Bharuch Gujarat. Sejak saat itu, kontak-kontak penduduk Gujarat dengan kaum muslim dari kawasan Arab itu terus berlanjut selama beberapa abad dalam bentuk perdagangan, migrasi, dan futuhat.

Disebutkan bahwa sebelum tegak kepemimpinan Islam di Gujarat, kaum muslim sudah memiliki kehidupan yang terhormat di bawah raja-raja Hindu. Mereka dibolehkan membangun sejumlah masjid untuk mendirikan salat berjemaah.

Justru dengan itulah, aktivitas dakwah berjalan secara alamiah. Agama Islam pun berkembang pesat di Gujarat hingga muncullah benih-benih kekuasaan politik di sana. Bahkan, disebutkan setelah Sindh di Pakistan, kekuasaan Islam pertama yang berdiri di sub-Benua India adalah di Gujarat, khususnya di daerah pelabuhan bernama Sanjan.

Selama beberapa masa berikutnya, Gujarat diperintah oleh kesultanan-kesultanan Islam. Gujarat sempat masuk dalam Kesultanan Delhi (tegak pada 1206—1555 M) yang menginduk pada Kekhalifahan Utsmaniyah di Turki.

Lalu saat Kesultanan Delhi diserang oleh pasukan Timur Lenk pada 1398 M, Gujarat melepaskan diri dari kesultanan Delhi dan menjadi kekuasaan independen di bawah kepemimpinan Zafar Khan.

Pada masa berikutnya, saat Kesultanan Mughal (tegak antara tahun 1526—1857 M) berada di bawah kekuasaan Jalaluddin Akbar (1573—1605 M), daerah-daerah bekas Kesultanan Delhi pun tunduk di bawah kekuasaannya, tidak terkecuali wilayah Gujarat dan sekitarnya.

Sisa Peradaban Islam

Di Gujarat terdapat masjid tertua bernama Jama Masjid Bharuch yang terletak di Kota Baruch. Konon masjid ini selesai dibangun pada 1065 M. Di tempat ini juga ditemukan sebuah situs yang disebut Madrasah Maulana Ishaq yang konon dibangun pada 1038 M.
Pada masa kekuasaan Sultan Ahmad I atau Ahmed Shah I (1411—1442 M), penguasa dari Dinasti Muzaffarid yang memerintah di Gujarat dan berposisi sebagai salah satu wali bagi kesultanan Delhi, dibangunlah ibu kota baru yang dikenal dengan namanya sendiri—Ahmedabad. Pada masa Hindu, kota ini dikenal dengan nama Anahilwada.

Selanjutnya pada 1424 M, Sultan Ahmed Shah I membangun sebuah Masjid Jami di kota itu. Pada saat ini Masjid Ahmedabad menjadi salah satu saksi bisu sejarah peradaban Islam di Gujarat, India. Bahkan, kota Ahmedabad merupakan kota warisan dunia pertama di India yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai kota yang menyimpan banyak warisan peninggalan masa lampau yang indah, salah satunya Masjid Jama Ahmedabad.

Saat Gujarat berada di bawah kekuasaan Mughal (1573—1756 M), wilayah ini mengalami kemajuan yang luar biasa. Hal ini sejalan dengan kekuatan politik dan peradaban yang berhasil dibangun kepemimpinan Mughal, terutama pada era kepemimpinan Jalaluddin Akbar yang membawa Dinasti Mughal pada puncak kejayaannya.

Saat itu, Akbar membagi wilayah kekuasaan Mughal dalam 12 dan berkembang menjadi 15 wilayah administratif yang disebut sebagai subah dan dipimpin oleh seorang subahdar dari angkatan bersenjata. Gujarat menjadi salah satu di antara semua subah tersebut dengan ibu kotanya Ahmedabad.

Kekuasaan Dinasti Mughal di Gujarat berakhir pada 1756 akibat kalah perang dengan Kerajaan Maratha (Maratha Empire) yang beragama Hindu. Setelah itulah sekira satu abad Gujarat berada di bawah kekuasaan Hindu.

Lalu ketika datang Kongsi dagang Inggris (The British East India Company) terjadilah Perang Anglo-Maratha pada 1803—1805. Pada perang ini, Maratha kalah dan mulailah penjajahan Inggris di berbagai wilayah kekuasaannya, termasuk di Gujarat.

Sejak saat itulah, isu agama menjadi isu sensitif di Gujarat sebagaimana di wilayah-wilayah lain di anak Benua India. Bahkan, posisi umat Islam di Gujarat makin tersingkirkan hingga lama-kelamaan jumlahnya menjadi minoritas. Praktis, ketika India dimerdekakan pada 1946, Gujarat pun menjadi salah satu negara bagian dari negara India modern.

Gujarat Era Sekarang

Saat ini nama Gujarat sering muncul dalam kasus konflik keagamaan di India. Isu paling besar biasanya menyangkut pembangunan kuil Rama di kompleks Masjid Babur (Babri) di Uttar Pradesh (Ayodhya), India yang memicu kemarahan umat Islam di sana.

Masjid ini merupakan warisan peradaban Islam, khususnya Dinasti Mughal di India. Dibangun oleh Jenderal Babur keturunan kelima dari Timur Lenk yang berhasil menegakkan kekuasaan dinasti ini pada 1527. Namun, orang-orang Hindu meyakini bahwa posisi masjid ini merupakan tempat kelahiran Dewa Rama hingga pada 1992, ekstremis Hindu berusaha menghancurkannya.

Kekerasan berdarah yang terburuk terjadi pada 2002 lalu. Selama dua bulan di awal tahun itu situasi Gujarat benar mencekam. Setidaknya lebih dari 2.000 warga muslim tewas. Mereka dibantai secara keji oleh massa dari warga Hindu. Rumah-rumah dan tempat usaha mereka dijarah dan dibakar. Warga muslim pun dibunuh satu per satu, bahkan kaum perempuannya diperkosa dan dilecehkan.

Kerusuhan dipicu oleh rombongan orang Hindu yang hendak berziarah ke Ayodhya. Saat kereta api yang mereka tumpangi berhenti di salah satu kota di Gujarat, para aktivis Hindu itu dilaporkan meneriakkan slogan-slogan keagamaan yang pada akhirnya memicu ketegangan dengan warga muslim yang ada di sana.

Lalu diberitakan bahwa kereta Api itu diserang dan dibakar oleh kaum muslim hingga puluhan warga Hindu tewas terbakar sehingga insiden ini pun memicu kekerasan dan balas dendam dari warga Hindu dengan pembalasan yang jauh lebih besar. Bahkan, hingga memicu kerusuhan besar di India yang menarik perhatian dunia internasional.

Banyak pihak yang menengarai bahwa situasi penuh konflik ini memang dipelihara oleh penguasa India yang beraliran Hindu nasionalis radikal sejak India dimerdekakan. Bahkan, penguasa Indialah yang sengaja mempertajam konflik dengan cara menginisiasi dan mendorong warga Hindu se-India untuk mendukung pembangunan kuil di kompleks Masjid Babur tadi.

Di luar itu, ketakadilan dan diskriminasi pun dengan telanjang diperlihatkan oleh para pemimpin politik India. Salah satunya, mereka sengaja membiarkan para pelaku kerusuhan dari kalangan Hindu hingga tidak bisa tersentuh hukum.

Sementara, pelaku dari pihak muslim, mereka segera tangkap dan penjarakan. Padahal, beberapa tahun kemudian terbukti bahwa insiden kebakaran kereta api di Ayodhya itu terjadi bukan karena perbuatan kaum muslim, melainkan akibat terjadinya arus pendek.

Khatimah

Pada 2019, Mahkamah Agung (MA) India secara hukum menyerahkan situs yang disengketakan di Ayodhya kepada umat Hindu. MA pun mengizinkan pembangunan kuil Rama di bawah pengawasan pemerintah.

Situasi ini menunjukkan betapa lemah posisi umat Islam di India, termasuk di negara bagian Gujarat. Banyak kebijakan dan undang-undang diskriminatif dan represif yang diberlakukan atas muslim India. Antara lain yang terjadi pada 2021 lalu adalah kasus penangkapan beberapa warga muslim yang mengislamkan warga Hindu dan pemberian subsidi bagi warga Hindu Gujarat yang ingin berziarah ke Ayodhya.

Sungguh, nasib muslim Gujarat tidak akan berubah manakala mereka tidak memiliki kepemimpinan Islam. Mereka akan tetap menjadi bulan-bulanan orang-orang kafir Hindu sebagaimana yang terjadi hingga sekarang. Bahkan, menjadi korban propaganda islamofobia yang diaruskan Barat secara global. Wallahualam.

(Penulis: Siti Nafidah Anshory. M.Ag.)