Kaum Yahudi-Kristen hidup damai dilindungi ketika dipimpin Khilafah Islam

[PORTAL-ISLAM.ID] Andalusia yang dulu meliputi bagian Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) pernah menjadi saksi sejarah kekuasaan Khilafah Islam yang menaungi semua agama dengan damai.

Islam berkuasa di Andalusia selama 7 abad antara tahun 711 dan 1492 setelah dibebaskan oleh Penglima Islam Thariq bin Ziyad dari Dinasti Umayyah. Thariq dikenal sebagai sosok pemimpin yang sangat menghormati umat agama lain, yaitu kaum Nasrani dan Yahudi.

Kaprodi Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Bastian Zulyeno mengatakan 17 tahun sebelum Thariq menaklukkan Andalusia, kaum Yahudi terpojok oleh penguasa Kristen. Kala itu yang berkuasa adalah Raja Roderick. Konflik internal yang berkepanjang membuat masyarakat semenanjung Iberia sangat mengharapkan kedatangan tentara Muslim. Sebab, mereka berharap dapat bebas dari penderitaan yang panjang.

“Berangkat dari hubungan yang tidak harmonis inilah Thariq ibn Ziyad atas perintah dari Musa ibn Nushair melakukan penaklukan ke Andalusia. Pada saat penaklukan, Thariq justru memberi kebebasan kepada kaum Yahudi dan Kristen untuk tetap melakukan aktivitas keagamaan, artinya tidak ada pemaksaan untuk memeluk Islam,” kata Bastian, dikutip dari Republika.co.id.

Bastian menjelaskan cara penaklukan yang tidak bermotif penjajahan ini memang kerap dilakukan oleh para penguasa dahulu. Misal, Cyrus the Great yang berhasil menaklukan Babilonia. Dia tidak memaksa penduduk Babilonia untuk memeluk agama Zoroaster. Pendekatan sosial budaya seperti ini juga menguntungkan kaum Yahudi karena mereka menjadi budak.

Dalam sejarah Islam, salah satu tokoh yang berjasa membawa Islam keluar dari tanah Arab adalah Umar bin Khatab. Ini berarti, di tangan Umar, agama Islam berhasil keluar dari wilayah asalnya karena Islam datang untuk membebaskan bukan menjajah.

Lebih lanjut, Bastian menyebut di bawah pimpinan Thariq, dasar-dasar perdamaian mulai dibangun. Masyarakat Spanyol tidak hanya hidup damai, tapi juga sejahtera. 

Saat Thariq memimpin, umat Nasrani memiliki hakim sendiri untuk memutuskan perkara mereka. Semua komunitas mendapat kesempatan yang sama dalam pelayanan umum.

“Pemerintahan penguasa-penguasa Islam sangat baik dan bijak dalam menjalankan pemerintahannya. Hal ini membawa efek luar biasa terhadap kalangan Kristen termasuk para pendetanya,” ujar dia.

Awalnya, para pendeta bersembunyi dan meninggalkan rumah mereka dalam keadaan ketakutan karena khawatir adanya tindakan balas dendam dari umat Islam. Namun, nyatanya tidak. Mereka dapat kembali ke kampung halaman mereka dan mulai hidup baru di bawah kekuasaan Islam yang adil.

Komunitas Kristen dan Yahudi tetap memegang dan menerapkan hak hukum otonom dalam setiap perselisihan yang tidak melibatkan hak kaum Muslim. Mereka juga mempunyai pemimpin-pemimpin mereka sendiri, seperti uskup dan komite (bangsawan yang ditunjuk) untuk mewakili mereka dalam pemerintahan Muslim.

Sejarawan mencatat masa keemasan Yahudi-Muslim di Andalusia mencapai puncaknya pada masa khalifah Abdurrahman III yang memerintah pada 912- 961 dan puteranya al-Hakam II pada 961-976.

#SejarahKejayaanIslam

Baca juga :