Sejarah Masuknya Islam di Maroko

[PORTAL-ISLAM.ID] Maroko, sebuah negeri di Afrika utara, memiliki sejarah dan peran penting dalam penyebaran Islam. Orang Arab menyebutnya al-Mamlaka al-Maghribiya atau Kerajaan Barat. Para ahli sejarah dan geografi Muslim di era kekhalifahan Islam menjulukinya al-Maghrib al-Aqsa

Sedangkan, orang Turki memanggilnya Fez. Orang Persia menyebutnya Marrakech (Tanah Tuhan). Negeri berjuluk Tanah Tuhan itu merupakan pintu gerbang masuknya Islam ke Spanyol, Eropa. Dari Maroko inilah Panglima tentara Muslim Tariq bin Ziyad menaklukan Andalusia dan mengibarkan bendera Islam di daratan Eropa

Islam masuk ke Maroko pada tahun 683 M dibawa oleh Panglima Musa bin Nusair dari Kekhalifahan Bani Umayah. 

Selain dikenal sebagai seorang pemimpin yang adil, Musa bin Nushair pun dikenang sebagai seorang panglima perang yang gagah berani dan dai yang tangguh.

Pada 705 M, Khalifah Walid bin Abdul Malik mengangkatnya sebagai gubernur Afrika bagian utara dan sekitarnya. 

Musa memiliki strategi yang sangat bijak, yaitu dengan membaurkan bangsa Arab dan Barbar (penduduk Afrika Utara). Ia melakukan hal tersebut agar bangsa Barbar merasa dihormati. Dengan kekuatan tersebut, Musa dapat memperluas wilayah kekuasaan ke seberang lautan, yaitu Andalusia.

Dalam membuka wilayah tersebut, ia memberi kepercayaan kepada Tariq bin Ziyad sebagai pemimpin invasi. Tariq berhasil membuka wilayah Spanyol dan membagi pasukannya menjadi empat kelompok. Ia menyebarkan pasukan tersebut ke Cordoba, Malaga, Granada, dan Toledo.

Sedangkan, Musa bin Nushair memimpin 10 ribu pasukannya ke Spanyol dan bertemu dengan Tariq di Toledo. 

Penaklukan Spanyol terus berjalan hingga ke Zaragoza, Aragon, Leon, Astoria, dan Galicia. 

Seluruh daratan Spanyol berhasil ditaklukkan pasukan Muslim pada 86 H (715 M), di bawah pemerintahan Khalifah Bani Umayyah Walid bin Abdul Malik. 

Akan tetapi, khalifah meminta Musa untuk menghentikan penaklukan karena mencemaskan masa depan pasukan dan akibat yang ditimbulkan bila masuk terlalu jauh ke dalam wilayah Spanyol. Ia diminta kembali ke Damaskus.

Sebelum kembali ke Damaskus, Musa mengangkat anaknya yang bernama Abdulaziz sebagai penguasa Cordoba. Ia juga mengangkat anaknya yang bernama Abdullah untuk menjadi gubernur Afrika.

Penaklukan Spanyol oleh Musa dan Tariq memberikan pengaruh positif terhadap kehidupan sosial dan politik pada masa itu. Kediktatoran dan penganiayaan yang biasa dilakukan oleh orang Kristen digantikan oleh toleransi yang tinggi dan sikap saling menghormati.

Ketika Musa tiba di Palestina, Khalifah Walid sakit keras. Setelah Khalifah Walid meninggal, takhta Kekhalifahan Umayyah diduduki oleh Sulaiman bin Abdul Malik. Pada masa pemerintahan Sulaiman, Musa tetap dijadikan sebagai panglima angkatan bersenjata. Ia diajak Khalifah Sulaiman menunaikan ibadah haji ke tanah suci Makkah pada 98 H.

Selama penaklukannya di Andalusia, Musa tergolong panglima yang bernasib baik. Konon, ketika ia menaklukkan Andalusia, ada seseorang yang berkata kepadanya untuk mengutus sejumlah pasukan. Orang tersebut akan menunjukkan harta karun yang agung kepadanya. Maka, Musa mengutus sejumlah pasukan mengikuti orang tersebut ke suatu tempat.

Ketika sampai, pasukannya diminta untuk menggali di tempat yang ditunjuk. Setelah menggali, mereka menemukan sebuah ruangan besar berisi permata dan harta yang sangat banyak. Ibnu Asakir meriwayatkan, ketika Musa berkunjung ke Damaskus, Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah bertanya kepadanya mengenai kejadian paling ajaib yang pernah dialami selama berperang di lautan.

Musa berkata, Suatu ketika kami sampai di sebuah pulau. Di sana kami menemukan 16 kendi yang disegel dan dicap oleh Sulaiman bin Dawud. Maka, kuperintahkan untuk mengambil empat kendi dan melubangi salah satunya. Dari lubang itu muncul sosok setan yang menepuk-nepuk kepalanya sambil berkata, Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan berbuat kerusakan lagi di bumi.

Sesaat, setan itu melihat ke sekelilingnya dan berkata, Mengapa aku tidak mendapati kemegahan Sulaiman dan kerajaannya? Lalu, setan itu menghilang. Musa lalu memerintahkan agar ketiga kendi tadi dikembalikan ke tempat semula. Musa meninggal pada 97 H di Lembah Qura.

Panglima yang Saleh

Musa bin Nushair tak hanya seorang panglima perang yang gagah berani. Ia juga dikenal sebagai seorang dai ulung. Berkat dakwahnya yang memukau, penduduk di Afrika Utara berbondong-bondong memeluk Islam. Musa mengajari mereka tentang Alquran.

Ia memang dikenal sebagai pribadi yang saleh dan tawakal. Musa juga turut meriwayatkan hadis dari Tamim bin Aus ad-Dari. Ketika Afrika mengalami panceklik, ia memerintahkan kaum Muslim untuk melakukan shalat Istisqa, sekitar 93 H.

Setelah shalat, ia keluar menemui orang-orang dan memisahkan antara yang Muslim dan non-Muslim, demikian pula antara induk binatang dan anaknya. Kemudian, ia memerintahkan orang-orang meratap dan menangis, sementara ia berdoa kepada Allah hingga menjelang siang.

Ketika ia turun dari mimbar, seseorang bertanya, “Tidakkah engkau berdoa untuk Amirul Mukminin?” Ia menjawab, “Di tempat seperti ini yang layak disebut hanyalah Allah.” Maka, Allah pun menurunkan hujan setelah ia mengucapkan kalimat tersebut.

Musa memberikan kebebasan yang sangat luas terhadap penduduk di daerah yang ia taklukkan untuk mengamalkan ajaran agamanya masing-masing. Ia juga memberikan kemerdekaan individu, dengan syarat mereka tetap membayar jizyah. Batas minimal jizyah yang harus mereka bayarkan adalah makanan pokok. Musa juga membiarkan harta-harta tetap menjadi milik penduduk tersebut.

Selain dikenal sebagai panglima, ia juga masyhur sebagai ahli di bidang bangunan. Di sebuah bukit di Pegunungan Bani Hassan yang terletak di lokasi Tatwan, ia membangun sebuah masjid. Penduduk kota tersebut sepakat menamakan masjid tersebut Masjid Musa bin Nushair.

Musa merupakan orang yang sangat pemberani, cerdas, dermawan, bertakwa, dan berpendirian kuat. Belum pernah sekali pun pasukan di bawah pimpinannya kalah dalam berperang. Ia sangat menjunjung tinggi agamanya. Sebagai Muslim yang taat, ia sangat menghargai kesetaraan hak setiap manusia, latar belakang, dan ras.

Hal tu diperlihatkannya ketika memilih Tariq bin Ziyad yang merupakan penduduk Barbar sebagai gubernur Tangier.

Musa bin Nushair terlahir pada 19 H. Ia menghabiskan masa kecilnya di Damaskus. Ia sempat menyaksikan berbagai peristiwa penting dalam sejarah Islam, seperti tragedi pembunuhan Khalifah Usman bin Affan dan Perang Sifin antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sofyan.
 
Musa bin Nushair lahir dari bangsa Arab yang tinggal di perbatasan Kerajaan Persia, di sebelah barat Sungai Eufrat. Keluarganya berasal dari etnis Arab hitam dan tumbuh selama masa kejayaan Khalifah Umar Bin Khathab. Nama lengkapnya adalah Musa bin Nushair bin Abdurrahman bin Zaid al-Lahmi.

Ayahnya bernama Nushair. Sang ayah berprofesi sebagai komandan pengawal pribadi Khalifah Muawiyah, penguasa pertama dan pembentuk Dinasti Umayyah. Pada waktu Muawiyah menjabat gubernur Syam, ia dipercaya menjadi kepala penjaga. Ketika Khalifah Muawiyah memimpin angkatan laut kedua melawan Roma, Musa saat itu baru berusia 15 tahun.

Ia banyak belajar dan tak pernah lupa memperhatikan bagaimana strategi dan persiapan angkatan laut. Pada beberapa titik dalam kariernya, Musa mempraktikkan apa yang telah ia pelajari untuk ekspedisi angkatan lautnya sendiri.

Ketika sudah beranjak dewasa, Musa mulai bergabung dalam sebuah ekspedisi militer dalam sebuah pertempuran melawan angkatan laut Roma. 

(*)