Kerut Muka dan Rambut Putih ala Jokowi... Jokowi mulai khawatir Anies bakal leading (unggul) atas jagoannya?

Kerut Muka dan Rambut Putih Ala Jokowi

By Setiya Jogja

Membaca pidato yang disampaikan Jokowi di depan relawan Gerakan Nusantara Bersatu (Sabtu, 26/11/2022) ada banyak sekali makna yang bisa didapatkan. Setiap makna itu menjadi kebenaran pada jaringan masing-masing. 

Hati-hati, pilih pemimpin untuk 2024. Jangan pilih yang wajahnya bersih, kinclong. Karena maunya duduk manis di ruang ber-AC. Pilih yang ada kerutan di wajah dan rambutnya putih, karena mikir rakyatnya. 

Oh, Jokowi memaknai berpikir dan kerja untuk rakyat itu ditandai dengan kerutan wajah dan rambut putih? Sementara ada yang wajahnya penuh kerutan dan rambutnya putih, bukan karena mikirin rakyat. Tapi karena mikirin istri tua yang marah-marah karena ada istri muda, misalnya. 

Sementara ada yang tampilan necis, wajah bersih kinclong, tapi bener-bener mikir rakyat. Mengerti dan mampu menyelesaikan apa masalah rakyat. Karena kemampuannya memang mumpuni, sehingga bisa bekerja bahkan cukup dari dalam ruang saja. Apa iya pemimpin perusahaan misalnya, harus ngechek lapangan setiap saat? Ada tugas dan kewenangan strategis yang semestinya banyak dilakukan dalam ruangan-ruangan ber-AC. Yang lebih penting, itu semua untuk kepentingan rakyat. 

Ada juga yang memaknai, ungkapan Jokowi itu sebenarnya untuk menyindir Anies. Muka bersih, itu tanda dia tidak berpikir dan bekerja untuk rakyat. Makanya hati-hati sama Anies! 

Eh, tapi kenapa harus hati-hati? Apakah benar, Anies dianggap tidak cukup akomodatif terrhadap kebhinekaan Indonesia? Atau karena Jokowi mulai khawatir Anies bakal leading (unggul) atas jagoannya? Jadi yang perlu hati-hati itu siapa?

Okelah, katakan sepakat dengan kriteria Jokowi, wajah berkerut dan rambut putih. Lalu, apakah itu hanya dimiliki Ganjar misalnya? Ah, jangan Ge-eR dulu. Prabowo juga berkerut dan rambut putih lho. Jadi, semua kemungkinan bisa saja terjadi.

Termasuk, bila anda memiliki pemaknaan lain lagi. Misalnya, ini Presiden Jokowi kok sibuk bikin acara dengan relawan. Bukankah lebih baik dia menuntaskan tugas-tugasnya sebagai presiden. Itu lho, kayak SBY yang tidak cawe-cawe berkaitan calon presiden selanjutnya! Jangan-jangan Jokowi takut presiden berikutnya tidak lagi sejalan dengan dirinya. Tidak bisa "mikul dhuwur, mendhem jero". Dia sebenarnya sedang khawatir?

Ah, bisa banyak makna. Dan setiap makna hanya akan benar pada jaringannya. 

So, nikmati saja setiap makna pada jaringan anda. Tidak usah ngotot memaksa orang lain untuk membenarkan makna yang ada pada jaringan anda.

[VIDEO]