Kenapa kita prihatin liberalisasi Saudi, karena Tempat dua tanah suci, Tempat kiblat umat Islam, Tempat yang seharusnya menjadi cermin untuk peradaban Islam

Sekularisasi negara-negara muslim sangat tampak berlangsung dengan massal. Tidak usah kita sebut Saudi, banyak negara Arab, Afrika dan Asia yang mayoritas muslim mulai jengah dengan syariat dan nilai-nilai Islam. Seruan kepada liberalisasi negara terdengar dimana-mana, bahkan mendiskreditkan Islam dan nilai-nilainya. 

Hanya saja apa yang terjadi di Saudi sangat membuat kita risau dan resah. Negara yang sebelumnya mendeklarasikan diri sebagai negara Islam konservatif yang berpegang teguh dengan syariat, tiba-tiba menjadi negara yang mempunyai visi menjadi negara moderen (dalam artian sekuler, liberal dan bebas). Hal yang ditekankan sendiri oleh MBS (Mohammed bin Salman - putra mahkota/penguasa de facto) sebagai visi Saudi 2030.

Dengan itu berbagai perayaan, konser, tempat hiburan, bahkan permainan yang dulu dianggap tabu bagi masyarakat Saudi, dihelat dengan begitu meriah dan terorganisir oleh pemerintah. Kebebasan juga mulai tampak di tempat-tempat wisata dan jalanan Saudi. Ciri khas Saudi sebagai negara Islam konservatif sudah hilang sama sekali kecuali di dua kota suci umat Islam. 

Jangan kita katakan: "Lah hal yang lebih buruk dari itu ada di negara-negara lain, bahkan di sekitar kita". Tidak, bukan soal itu. Kita sedang berbicara tentang negara Saudi tempat dua tanah suci. Tempat kiblat umat Islam. Tempat yang seharusnya menjadi cermin untuk peradaban Islam.

Perubahan Saudi terjadi dengan sangat radikal karena disokong oleh pemerintah bertangan besi. Siapa saja yang bersuara dan mengkritisi kebijakan baru akan dibungkam dan tidak jarang dijebloskan ke balik jeruji besi. Ini bukan negara demokrasi yang siapa saja bisa bersuara. Ini negara diktator yang bertekad untuk menjadi liberal dan sekuler. Siapa yang bisa menghambat? 

Saya tidak mengatakan bahwa kita menolak modernisasi Saudi dalam hal ekonomi, kesehatan, pendidikan, infrastruktur, rekreasi dan pariwisata. Tapi modernisasi tidak mesti diartikan menjauh dari syariat dan nilai-nilai Islam yang luhur. Kita doakan yang terbaik bagi semua negara Islam dan umatnya.

(Oleh: Yahya Ibrahim)