Perpisahan Anies Baswedan, Awal Sebuah Perubahan Besar

Perpisahan Anies Baswedan, Awal Sebuah Perubahan Besar

Oleh: Fahd Pahdepie 

Ahad, 16 Oktober 2022, adalah hari terakhir bagi Anies Baswedan menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Setelah 5 tahun memimpin ibukota, tiba juga saatnya ia harus mengucapkan selamat tinggal kepada warga DKI. Ia memilih menjalankan momen spesial itu dengan bersepeda dari rumahnya di Lebak Bulus menuju Balai Kota, melewati jalan Sudirman dan Bundaran HI.

Di sepanjang perjalanan, warga sudah menyambutnya dengan antusias. Mereka membentangkan spanduk-spanduk berisi ucapan terima kasih, mengelu-elukan namanya. Seorang pemuda menghentikan sepedanya di bilangan Sudirman, meminta kaos yang dikenakannya ditandatangani Sang Gubernur. Dengan ramah Anies melayani permintaan tanda tangan itu. “Saya doakan semoga 2024 Bapak menjadi Presiden,” ujar pemuda itu sambil menahan haru dan bahagia.

Anies pun melanjutkan perjalanan ke Medan Merdeka Selatan. Pukul 09.10, ia tersendat di kawasan Patung Kuda. Di sana ribuan warga sudah menunggu, menyambutnya bak pahlawan. Anies tak bisa menahan diri untuk tak berbaur dengan mereka, bersalaman, menebar senyuman. “Presiden! Presiden! Presiden!” Warga yang tak sabar terus berteriak, berebut bersalaman dengannya. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar nyanyian dengan lirik yang heroik, “Majulah-majulah menang…”

Keinginan warga yang datang di acara perpisahan ini agar Anies Baswedan maju dalam pilpres 2024 mendatang sepertinya tak bisa dibendung. Mereka tahu, sebagaimana disampaikan Anies sendiri pada pidatonya saat menerima pinangan Partai Nasdem untuk dicalonkan sebagai Presiden 3 Oktober lalu, ia berkata, “Setelah selesai dengan urusan Jakarta, saya akan fokus (maju sebagai calon presiden).” Tampaknya momen itulah yang ditunggu-tunggu mereka. Dan ini adalah harinya.

Tiba di Balai Kota, setelah disambut dengan berbagai tarian, nyanyian dan tabuhan rebana yang semarak, Anies naik ke panggung didampingi istri tercintanya, Fery Farhati. Ia menyampaikan pidato singkat yang heroik. “Hari itu, 5 tahun yang lalu menjadi penanda awal perjuangan dalam menghadirkan kebaikan, menghadirkan keadilan yang diharapkan oleh seluruh rakyat Jakarta, kita ingin kotanya maju dan warganya bahagia. Hari ini, 16 Oktober 2022, tepat 5 tahun kemudian, ini adalah masa penghabisan bagi saya dan Pak Ahmad Riza Patria dalam memimpin Jakarta, izinkan kami berdua mengembalikan mandat ini kembali kepada warga Jakarta,” katanya.

Apakah dalam 5 tahun menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta Anies berhasil mentransformasikan Ibu Kota Republik menjadi lebih baik? Tentu tergantung siapa yang memberikan penilaian. Yang mendukungnya akan mengatakan bahwa Anies berhasil, melampaui kinerja gubernur-gubernur sebelumnya. Tetapi bagi para pengkritiknya, apalagi para pembencinya, kerja Anies dianggap nol besar. Bagi mereka, Anies tak lebih dari sekadar ‘gabener’ yang tak bisa bekerja.

Seolah menyadari semua itu, Anies memberikan pernyataan yang ‘to the point‘. “Biarkan kerja Pemprov DKI Jakarta selama 5 tahun terakhir ini mereka yang berbicara, biarkan karya-karya itu menjadi bukti nyata. Tak perlu dikatakan dalam pidato ini, lihatlah kenyataan yang ada di Jakarta. Tunjukkan di sana, kenyataan. Kita tidak mengirimkan pernyataan, kita kirimkan kenyataaan,” ujar mantan rektor Universitas Paramadina itu dengan suara lantang.

Memang untuk menilai kinerja seorang kepala daerah kita tak bisa mengandalkan opini publik semata. Apakah Anies berhasil atau tidak memimpin Jakarta? Untuk menilainya perlu ukuran-ukuran yang jelas dan diakui oleh otoritas-otoritas yang tak bias, tak berbau politis. Soal kemacetan, banjir, transportasi publik, kualitas udara, tata kota, dan lainnya, harus dilihat secara adil dan menyeluruh. Di tengah nuansa kompetisi politik yang terus panas seperti saat ini, kadang berkelindan dengan sengkarut dinamika politik nasional, berhasil atau tidaknya Anies mengubah ibu kota menjadi kota yang maju dan adil bagi seluruh warga Jakarta menjadi sangat relatif.

Yang jelas, Anies tuntas memimpin Jakarta selama satu periode atau 5 tahun. Itu sudah prestasi tersendiri. Dalam 5 tahun itu, 5 tahun berturut-turut DKI Jakarta mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Di level nasional, DKI pun langganan mendapatkan penghargaan dari berbagai Kementerian dan Lembaga. Di level global, Jakarta dianggap ibu kota yang berhasil dengan baik melewati masa pandemi COVID-19 dan bisa mewujudkan transportasi berkelanjutan. Pencapaian dan perubahan fisik kota Jakarta rasanya tak perlu disebutkan lagi, Anies tampaknya berusaha menepati semua janji-janjinya.

Namun, yang masih kurang tentu banyak juga. Kemacetan belum sepenuhnya bisa diatasi, masih menjadi sumber stres utama warga Jakarta. Kualitas udara juga masih menjadi PR besar yang belum terlihat penyelesaiannya. Banjir masih terjadi di mana-mana, apalagi saat curah hujan tinggi seperti saat ini, meski konon lebih cepat surut. Semua ini harus diakui masih tersisa dan menjadi persoalan besar Jakarta, belum tuntas meskipun Anies sudah memimpin selama 5 tahun terakhir.

Patut kita apresiasi bahwa Anies mengakui semua kekurangan itu. Ia sadar bahwa transformasi Jakarta harus dilakukan secara terus menerus. 

“Alhamdulillah saya bersyukur bahwa selama 5 tahun ini, apa yang kita rencanakan dari awal, apa yang kita janjikan, bisa kita laksanakan. Sempurna? Belum. Tapi kita merasa bersyukur bahwa begitu banyak transformasi bisa kita kerjakan di Jakarta. Kami bersyukur atas apa yang sudah dijalani di Jakarta. Sempurna? Kami jauh dari sempurna. Tapi capaian-capaian ini boleh kita syukuri. Dan ini bagian dari membangun Jakarta berkelanjutan,” ujarnya kepada Fitri Megantara dalam ‘Special Dialogue: Anies Baswedan Tuntas Pimpin Ibu Kota‘ di Metro TV, Jumat (14/10/2022).

Tentu saja, sikap semacam ini harus kita apresiasi dari seorang Anies Baswedan. Di satu sisi ia bekerja keras melakukan yang terbaik sebagaimana yang ia janjikan, tetapi di sisi lain ia mengakui bahwa dalam mencapai yang terbaik itu terdapat kekurangan-kekurangan dirinya yang tak bisa ia hindari.

Dalam pidato perpisahannya, Anies menyampaikan permohonan maaf kepada warga Jakarta. “Saya mohon ampunan kepada Allah SWT dan mohon maaf kepada semua yang hadir dan semua yang mendengar… khilaf saya, khilaf keluarga saya, dan seluruh jajaran yang bekerja di bawah kepemimpinan saya selama 5 tahun ini,” katanya.

Menjelang pukul 12.00, Anies mengakhiri pidatonya dengan berpamitan kepada warga Jakarta. Ia berhenti sejenak di penghujung pidatonya. Melemparkan senyum dan menebar pandangan ke semua sudut. “Izinkan saya pamit,” katanya. “Kami datang tampak muka, kami pulang tampak punggung. Semoga Allah merahmati Kota Jakarta dan melindungi kita semua,” tutupnya. Kemudian hadirin bergemuruh memekikkan dukungan dan tepuk tangan. “Presiden! Presiden! Presiden! Majulah, majulah, Presiden!” teriak mereka.

Bagi para pendukungnya, Anies adalah pahlawan, simbol bagi harapan. Bagi mereka, harga mati Anies menang dan menjadi Presiden pada pemilu 2024 mendatang. 

Selepas Zuhur, terlihat berbagai elemen relawan termasuk para raja dan sultan dari berbagai daerah di Nusantara menyampaikan dukungannya agar Anies maju dan menang pada Pilpres nanti. Tetapi, di linimasa media sosial, pendapat terbelah. Yang mencintai Anies memberikan dukungan penuh haru, tetapi yang membencinya menebar umpatan dan caci maki. Tagar #AniesEnd menggema di jagat Twitter.

Demikianlah, semua orang tahu memimpin Jakarta bukanlah perkara yang mudah. Selain masalah kompleks yang dimiliki ibukota Republik ini, memimpin warga DKI juga tentu berbeda dengan memimpin bagian negeri yang lainnya. Jakarta adalah ‘spotlight‘, pusat perhatian, dihuni orang-orang teratas bangsa ini, yang paling terdidik dan paling kritis, dari pejabat hingga selebritas, akademisi hingga aktivis, ‘top of the top‘.

Barangkali itulah salah satu di antara alasan-alasan yang menyebabkan posisi Gubernur Jakarta selalu berbeda dengan posisi kepala daerah lainnya. Jabatan Gubernur DKI adalah ‘hot seat‘, kursi panas, boleh jadi setara dengan ‘Gubernur Indonesia’ karena semua orang memperhatikan sekaligus mengincarnya. Konon, jika berhasil menaklukkan Jakarta, setengah pekerjaan untuk menaklukkan Indonesia sudah selesai.
Dulu Jokowi berhasil menjadi Presiden Republik Indonesia melalui ‘tangga’ Balai Kota DKI, meski ia tak selesai menjabat selama 5 tahun. Tetapi, diakui atau tidak, posisi inilah yang mendongkrak popularitas dan elektabilitasnya. Banyak yang mengelu-elukannya, tetapi banyak pula yang membencinya.

Kini, Anies Baswedan sedang menapaki jalan politik itu. Memulai sebuah perjalanan baru yang lebih besar. Jika Jokowi pernah berhasil, akankah Anies juga berhasil, dari Balai Kota ke Istana Negara, dari Medan Merdeka Selatan ke Medan Merdeka Utara?

Di atas panggung Anies mengajak pendukungnya bernyanyi ‘Maju Tak Gentar’. Ia mengulang-ulang bagian akhir lirik lagu itu: “Majulah, majulah, menang!” pekiknya.

Tabik!

*Penulis CEO Inilah.com

(Sumber: Inilah)