Tersangka Pembunuh Malah Didukung Publik

OLEH: DJONO W OESMAN

UNIK di kasus Sambo. Sidang pertama digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin, hari ini. Ada karangan bunga mendukung Bharada E, tersangka pembunuh Brigadir Yosua. Publik kok mendukung pembunuh?

Karangan bunga itu warna pink. Bertuliskan: "Fans Bharada Eliezer, Universal. Akan Tetap Mendukungmu dan Selalu Mendoakanmu yang Terbaik."


Karangan bunga besar itu tanpa identitas pengirim. Kecuali menyebut: Fans Bharada Eliezer, Universal. Itu didrop dari mobil bak oleh dua lelaki. Lalu diletakkan di depan PN Jaksel, Minggu, 16 Oktober 2022 sekira pukul 12.40 WIB.

Aneh. Tersangka pembunuh selain didukung, juga didoakan yang terbaik.

Bahkan, karangan bunga dukungan terhadap Bharada Eliezer sudah datang ke PN Jakarta Selatan, sejak sepekan lalu. Diletakkan begitu saja di depan Gedung Pengadilan. Lalu diambil petugas pengadilan. Lalu muncul lagi.

Tanda sangat jelas, publik bersimpati terhadap Bharada Eliezer. Mengapa bisa begitu?

Barangkali itu terkait dengan status Eliezer, tersangka pembunuh yang Justice Collaborator (JC).

JC diatur dalam Surat Edaran Mahkamah Agung nomor 4 tahun 2011. Bahwa JC adalah saksi pelaku (tapi bukan pelaku utama) yang (akan) bekerja sama dengan hakim, mengungkap kejahatan. Dalam perkara ini (pembunuhan berencana, Pasal 340 KUHP) pelaku utama: Ferdy Sambo.

Jadi, kira-kira publik memberi semangat Eliezer agar tidak takut (pada Sambo) untuk mengungkap proses pembunuhan Brigadir Yosua yang terjadi pada Jumat, 8 Juli 2022 petang.

Seandainya dalam persidangan kelak Eliezer dinilai hakim, tidak jujur, atau tidak mengungkap proses pembunuhan secara transparan, maka status JC langsung dicabut. Sebaliknya, dengan status JC, hukuman Eliezer bakal dikurangi.

Jadi, sebenarnya publik tidak perlu mendukung Eliezer. Karena otomatis Elizer akan berjuang sendiri mempertahankan status JC, supaya hukuman diringankan. Ia penembak mati Yosua yang katanya, disuruh Sambo. Akan dibuktikan di pangadilan.

Betapa pun, ini soal kepercayaan publik terhadap Polri. Turun drastis, belakangan ini.

Setelah kasus Sambo, disusul tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 132 orang dan ratusan lainnya terluka. Ketua Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan, Menko Polhukam, Mahfud MD, mengumumkan hasil ivestigasi TGIPF, dan menyerahkan hasil itu kepada Presiden Joko Widodo, Jumat, 14 Oktober 2022, bahwa:

Penyebab utama tragedi adalah tembakan gas airmata polisi. Sehingga puluhan ribu penonton di Stadion Kanjuruhan, Malang, panik lari berdesakan. Mereka tewas terhimpit, terinjak-injak.

Disusul kemudian, Kapolda Sumatera Barat, Irjen Teddy Minahasa, yang sudah ditunjuk Kapolri jadi Kapolda Jatim, jadi tersangka utama peredaran narkoba, bersumber dari barang bukti kejahatan.

Tiga kasus itu berentetan dalam tiga bulan terakhir. Kepercayaan publik terhadap Polri turun.

Ditarik mundur, Kamis, 25 Agustus 2022, lembaga survei, Indikator mengumumkan hasil survei tentang kasus Sambo. Khususnya tentang Bharada Eliezer sebagai JC.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi dalam paparan pers secara virtual, Kamis, 25 Agustus 2022 menjelaskan:

Survei itu digelar 11-17 Agustus 2022. Teknik RDD (Random Digit Dialing). Jumlah responden 1.229. Dipilih nomor telepon secara acak, validasi, dan screening.

Margin of error sekitar 2.9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Wawancara dengan responden dilakukan lewat telepon, oleh pewawancara terlatih.

Salah satu pertanyaan: Apakah Anda (responden) percaya, bahwa Bharada Eliezer membunuh Brigadir Yosua? Jawabnya begini:

"Sebanyak 56,4 persen responden percaya Bharada E membunuh Brigadir Yosua. Selebihnya kurang percaya, atau meragukan," ujar Burhanuddin.

Angka 56,4 dibanding 43,6. Kelihatan publik bimbang. Antara percaya dan tidak.

Itu disebabkan, sebelumnya Sambo terbukti merekayasa perkara ini, dengan skenario seolah terjadi tembak-menembak antara Bharada Eliezer dengan Brigadir Yosua.

Skenario Sambo yang terpatahkan oleh bukti-bukti penyidik itu, membuat publik tidak percaya Polri. Tapi, Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo tegas, memerintahkan tim membongkar pembunuhan itu. Lalu terbongkar.

Di saat Polri memulihkan kepercayaan publik, meletus Kanjuruhan. Disusul kasus Irjen Teddy Minahasa. Dan, lagi-lagi Kapolri bersikap tegas. Menurut Menko Polhukam, Mahfud MD, bisa saja Kapolri melindungi Irjen Teddy, jika mau. Tapi Kapolri pilih bersikap tegas.

Chris D. Lewis dalam karyanya, "Impacts of Leadership on Professionalism and Public Trust in Policing" (2012) menyebutkan:  

"Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap pelayanan polisi, jauh lebih besar daripada yang dapat dikendalikan oleh petugas patroli."

Maksudnya, kepercayaan publik terhadap polisi tidak hanya dibangun dari adanya patroli polisi di jalanan. Tapi lebih dari itu.

Chris D. Lewis adalah Komisaris Polisi di Ontario Provincial Police (OPP) Kanada sejak 1 Agustus 2010. Provinsi Ontario membawahi 324 kota. Ia kemudian memimpin Badan Intelijen Kriminal Ontario. Ia pensiun April 2014. Setelah pensiun, ia dosen bidang kepemimpinan kepolisian di seluruh Amerika Utara.

Ketika Lewis menulis buku itu (2012) di sana terjadi krisis kepercayaan publik terhadap polisi. Diurai demikian:

"Selama beberapa tahun terakhir, telah terjadi peningkatan tingkat komunitas dan diskusi media mengenai berkurangnya tingkat kepercayaan publik terhadap kepolisian."

Sebagian besar dari ini muncul setelah polisi tingkat tinggi menggunakan insiden kekuatan mematikan. Beberapa pejabat kepolisian melakukan tindakan kriminal terang-terangan yang mengakibatkan protes nasional.

Pada saat yang sama, setiap tuduhan perilaku kriminal oleh polisi – yang sedang bertugas atau tidak – dimuat media massa dan mendapat perhatian besar publik. Misal, tindakan polisi yang tidak disiplin pada tugas.

Semua itu, baik terbukti palsu atau tidak, meninggalkan noda pada profesi. Dan, itu harus dipikul oleh polisi yang jujur ​​dan berkomitmen.

Lewis: "Polisi tidak dapat bertahan hidup tanpa kepercayaan publik. Polisi sudah disumpah untuk melayani masyarakat.  Sangat penting, bahwa strategi pemolisian dan kepemimpinan yang efektif, harus diterapkan dari atas ke bawah untuk dipertahankan terus-menerus."

Dilanjut: "Kepercayaan personil polisi terhadap pemimpin adalah yang terpenting. Jika petugas tidak mempercayai pengambilan keputusan pemimpin mereka, mereka tidak dapat diharapkan bisa melaksanakan tugas dengan benar. Tugas yang tidak benar, tergambar dari perilaku mereka yang buruk di mata publik."

Kutipan terakhir ini, persis seperti dikatakan Kapolri Jenderal Listyo, begini:

"Ada pepatah, ikan busuk mulai dari kepala. Kalau pimpinannya bermasalah, bawahannya akan bermasalah juga. Pimpinan harus jadi teladan sehingga bawahannya akan meneladani. Karena kita tidak mungkin diikuti kalau kita tidak memulai yang baik. Kita tidak mungkin menegur, kalau tidak jadi teladan, harus mulai dari pemimpin atau diri sendiri.”

Itu dikatakan Jenderal Listyo di acara penutupan pendidikan Sespimti Polri Dikreg ke-30, Sespimen Polri Dikreg ke-61, dan Sespimma Polri angkatan ke-66 di Lembang, Jawa Barat, Rabu, 27 Oktober 2021.

Nasihat Jenderal Listyo kepada bawahan, setahun lalu itu, terbukti sekarang. Kepercayaan masyarakat terhadap Polri merosot, akibat kelemahan moral petinggi Polri.

Merosotnya kepercayaan publik terhadap Polri, antara lain, menghasilkan logika publik: Mendukung Bharada Eliezer yang tersangka pembunuhan. 

(Penulis adalah Wartawan Senior)