Rasulullah Adalah Sosok Lelaki Paling Pemberani, Tidak Ada Keberanian Yang Melebihi Keberanian Rasulullah

Rasulullah shallallahu'alaihi wa 'ala alihi wa sallam adalah sosok lelaki yang paling pemberani.

Tidak ada hal yang membuat Rasulullah takut selain Allah.

Hal itulah yang menyebabkan orang-orang kafir takut kepada Rasulullah.

Rasa takut kepada Allah pada diri Rasulullah, membuat kewibawaan Beliau tidak ada yang menandingi dan membuat gentar orang-orang kafir.

Keberanian beliau adalah keberanian sempurna, yang bersamanya keluhuran akhlak yang paripurna dan sifat welas asih terhadap seluruh hamba-hambaNya.

Tidak ada keberanian yang melebihi keberanian Rasulullah.

Diriwayatkan bahwa ketika Perang Badar berlangsung, sempat terjadi momen ketika kaum muslimin mengalami ketakutan. Semua shahabat merasa takut, karena itu adalah peperangan pertama kali mereka. Maka mereka semua mundur dan berlindung di belakang Rasulullah. Sehingga tidak ada yang lebih dekat dengan orang-orang kafir Quraisy saat itu, kecuali Rasulullah.

Diceritakan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu'anhu, beliau berkata,
“Kuperhatikan diri kami saat Perang Badar. Kami berlindung kepada Rasulullah. Beliau adalah orang yang paling dekat dengan musuh dan orang yang paling banyak ditimpa kesulitan”.
[Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 619 dan Imam Ibnu Abi Syaibah 32614]

•••

Juga pernah terjadi di Perang Hunain.

Saat itu kaum muslimin tengah menyerang orang-orang kafir dari suku Hawazin. Akan tetapi ternyata kaum muslimin sedang dijebak sehingga mereka tercerai berai dan berlari mundur.
Melihat kaum muslimin yang tercerai berai, Rasulullah dengan mengendari keledai maju menyerang musuh hanya bersama Abu Sofyan bin Harits bin Abdul Muthalib.

Abu Sofyan bin Harits saat itu baru mualaf karena sebelumnya beliau adalah termasuk Bani Hasyim yang paling zhalim terhadap Rasulullah.

Meski kakak sepupu Rasulullah, Abu Sofyan bin Harits ini sempat didiamkan oleh Rasulullah ketika menyatakan masuk Islam dan bertaubat, karena memang perbuatan beliau terhadap Rasulullah di masa lalu sangat melampaui batas. Rasulullah sempat enggan berbicara dengan Abu Sofyan bin Harits.

Lha ketika perang Hunain ini, kok malah Rasulullah cuma berdua dengan Abu Sofyan bin Harits menyerang musuh.
Sedangkan Beliau hanya mengendarai keledai yang kalau berlari tentu tidaklah secepat kuda pacu.

Kalau seandainya Abu Sofyan yang mualaf ini membelot dan mengkhianati Rasulullah, pastilah Rasulullah benar-benar sendirian di tengah pasukan musuh. Dan saat itu usia Beliau sudah mendekati 60 tahun, bahkan mungkin sudah mencapai usia tersebut.
Namun nyatanya Beliau tidak takut sedikitpun.

Sambil menyerang ke tengah musuh, Beliau memanggil kaum muslimin untuk kembali, sambil berulang kali Beliau bersabda,

ﺃَﻧَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﻻَ ﻛَﺬِﺏْ ﺃَﻧَﺎ ﺍﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟْﻤُﻄَّﻠِﺐْ

“Aku seorang Nabi yang tidak berdusta. Aku putra Abdul Muththalib.” 

Dari Ibnu Ishaq, ada seseorang bertanya kepada Al Bara’ bin Azib radhillahu ‘anhu,
“Apakah kalian lari dari sisi Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam di Perang Hunain?”

Al Bara’ menjawab, 
“Ya. Akan tetapi Rasulullah tidak berlari mundur, walaupun orang-orang Hawazin adalah pemanah handal. Ketika menghadapi mereka, awalnya kami berhasil memukul mundur mereka. Orang-orang pun berpaling menuju harta rampasan perang. Ternyata, mereka (suku Hawazin), dengan tiba-tiba menghujani kami dengan anak panah sehingga orang-orang (para sahabat) kalah. 

Aku menyaksikan Rasulullah bersama Abu Sufyan bin Harits yang memegang tali kendali keledai putih beliau. Beliau meneriakkan,

ﺃَﻧَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﻻَ ﻛَﺬِﺏْ ﺃَﻧَﺎ ﺍﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟْﻤُﻄَّﻠِﺐْ
“Aku seorang nabi tidak dusta. Aku putra Abdul Muththalib.” 

[HR Bukhari 2709 dan Muslim 1776]

•••

Di masa-masa Dakwah Periode Makkah, ketika kaum muslimin jumlahnya masih sangat sedikit dan kondisinya masih sangat lemah, Rasulullah tidak pernah takut sedikitpun kepada kaum kafir meski Beliau sendirian.

Urwah bin Az Zubair bertanya kepada 'Abdullah bin 'Amr bin 'Ash, 
“Berapa sering engkau lihat orang-orang Quraisy mengintimidasi Rasulullah karena mereka menampakkan permusuhannya?”
 
 Abdullah bin Amr berkata, 
“Aku pernah melihat dalam sebuah majelis mereka, pada suatu hari pembesar-pembesar mereka berkumpul di Hijir Isma’il. Mereka memperbincangkan Rasulullah. Mereka berkata, 
“Kita tidak pernah melihat kesabaran kita dalam menghadapi sesuatu, lebih besar kecuali terhadap orang ini (Rasulullah). Ia menganggap bodoh orang-orang pintar kita, menghina bapak-bapak kita, mencela agama kita, memecah belah persatuan kita, dan mencela Tuhan-Tuhan kita. Sungguh kita telah sabar kepadanya atas suatu perkara yang besar.” atau sebagaimana yang mereka katakan.
“Ketika mereka sedang berbincang-bincang seperti itu, muncullah Rasulullah berjalan. Beliau mengusap rukun Yamani. Sambil mengelilingi Baitullah, beliau melewati mereka. Ketika mereka melihat Nabi shallallahu'alaihi wa sallam lewat mereka menghinanya dengan kata-kata mereka.”

Abdullah bin Amr melanjutkan, 
“Aku mengetahui hal itu dari ekspresi wajah Beliau. 
Kemudian beliau berlalu. Ketika beliau melewati mereka untuk kali kedua, mereka kembali mencelanya seperti semula. Dan aku bisa mengetahui hal itu dari wajahnya. Beliau tetap berlalu (tidak memperdulikannya). 
Lalu beliau melewati mereka untuk kali ketiga, mereka kembali mencelanya seperti semula. Maka Rasulullah bersabda,

ﺗَﺴْﻤَﻌُﻮﻥَ ﻳَﺎ ﻣَﻌْﺸَﺮَ ﻗُﺮَﻳْﺶٍ، ﺃَﻣَﺎ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱ ﻧَﻔْﺲُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻟَﻘَﺪْ ﺟِﺌْﺘُﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟﺬَّﺑْﺢِ

“Dengarlah wahai orang-orang Quraisy, demi Dzat yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman-Nya, sungguh aku datang untuk menyembelih kalian!”

Maka kata-kata itu menjadikan mereka ngeri. Sehingga, tidak ada seorang pun dari mereka kecuali seakan-akan di atas kepalanya ada seekor burung yang hinggap”. 
[HR. Ahmad 6739]

Begitulah saking terdiamnya orang-orang kafir Qurays, burung pun bisa hinggap karena mengira mereka patung.

Sungguh orang-orang Quraisy itu sebenarnya takut kepada (Baginda) Muhammad (shallallahu'alaihi wa 'ala alihi wa sallam) sebagai individu jika Beliau benar-benar marah. Dan mereka tidak mau bermasalah dengan Beliau.

Hanya saja mereka membenci dakwah dan ajakan Rasulullah.
Sehingga mereka mau tidak mau harus memaksakan diri untuk membenci dan memusuhi sosok Muhammad yang sebenarnya mereka sendiri sangat memahami kepribadian dan keutamaan Beliau shallallahu'alaihi wa 'ala alihi wa sallam.

ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﻧَﺒِﻴِّﻨَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺁﻝِ ﻧَﺒِﻴِّﻨَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ

(Oleh: EL Mujtaba)