Menarik Tulisan Pak Peter F. Gontha yang membandingkan kemajuan China dan Amerika

[Catatan Azwar Siregar]

Menarik Tulisan Pak Peter F. Gontha yang membandingkan kemajuan China dan Amerika (Silahkan ke Akun Beliau dan saya akui tulisan yang sangat membuka wawasan).

Inti tulisan beliau adalah bagaimana seorang Janda dari China yang ketika datang ke Amerika, terkejut, melihat betapa Kereta Api di Amerika masih sangat Kuno dan tertinggal jauh dari China.

Kita akui, Kemajuan China dalam 30 tahun terakhir ini memang sangat mengagumkan. Dari Negara Miskin berubah menjadi Kekuatan Ekonomi dan sekaligus kekuatan Militer Dunia. Setara dengan Amerika.

Kalau dari tulisan Pak Gontha, salah satunya adalah karena Budaya di China yang sedikit bicara tapi banyak bekerja. Lagi-lagi kalau dari tulisan Pak Gontha, karena di China budayanya tidak terlalu religius.

Pak Gontha membandingkan dengan budaya di Amerika yang sangat religius. Dan menurut Pak Gontha, Negara yang cenderung religius, masyarakatnya lebih tertarik kata-kata daripada kerja nyata.

Saya sih tidak yakin kalau Pak Gontha mau mengatakan sistem Komunis jauh lebih efektif daripada Negara sistem ber-Tuhan.

Tapi menariknya, komentar-komentar di Tulisan Pak Gontha, banyak yang memahami ke arah situ. Beberapa orang menarik kesimpulan, seakan-akan kegagalan kita bernegara karena Islam atau Umat Islam. Lebih tepatnya karena sebagian masyarakat kita yang beragama dengan baik dan benar.

Pemikiran ini sangat berbahaya. Dan benar-benar buta sejarah. Karena sejak Indonesia merdeka, justru Negara Pancasila kita lebih cenderung Sekuler dan menjauh dari Islam. 

Dimulai dari awal Kemerdekaan, Negara kita terang-terangan menghilangkan 7 Kata di Piagam Jakarta yang "sangat Islam". 

Rezim demi Rezim yang berkuasa juga tidak pernah merepresentasikan Islam. Mulai dari Orde Lama, Orde Baru sampai Orde Pasca Reformasi, semua Rezim yang Berkuasa cuma Islam KTP. 

Secara bercanda saya pernah katakan, walaupun kita Negara Mayoritas Islam, tapi kita belum pernah memiliki seorang Ibu Negara yang berhijab dengan sempurna.
Tentu saja kita kecualikan Lebaran dan musim kampanye (untuk menarik suara Umat Islam).

Jadi salah besar kalau menganggap kegagalan kita bernegara karena Islam. Justru sejak jaman kemerdekaan, umat Islam lebih sering dijadikan korban.

Saya sendiri berpendapat, andai Negara kita mencerminkan wajah Islam, paling tidak 7 Kata di Piagam Jakarta, yang mewajibkan penegakan syariat Islam bagi pemeluknya, saya yakin kita bisa jauh lebih maju bahkan dibandingkan dengan China sekarang.

Alasan saya dua.

Pertama, kegagalan kita bernegara lebih banyak karena perilaku Korup Pejabat kita. Saking massifnya praktek Korupsi di Negeri ini, Korupsi seakan-akan sudah menjadi Budaya.

Sudah jadi rahasia umum, kalau mau masuk ASN, menjadi Anggota TNI, Polri dan bahkan honor daerah harus menyuap. 

Mengurus ijin bahkan sekedar SIM juga ada yang pakai menyuap.

Maju Pilkada, Pilpres, jadi anggota Dewan, harus bagi-bagi Amplop.

Apakah semuanya wajah Islam?

Tentu tidak. Bahkan semua perbuatan Menyuap dan Disuap. Kasus Korupsi. Dan hal tercela lainnya sangat dilarang dan terlarang dala. Ajaran Islam.

Bayangkan andai 7 kata di Piagam Jakarta tidak disabotase. Indonesia adalah Negara Mayoritas Islam. Sudah pasti para Pejabatnya juga mayoritas Islam. Yang korupsi juga tentu mayorotas beragama Islam. 

Kalau 7 kata di Piagam Jakarta tidak dihapus. Dan hukum Islam jadi hukum positif di Negara kita. Maka kasus suap-menyuap dan praktek Korupsi bisa kita tekan dan minimalisir.

Karena para Penyuap dan yang disuap bisa kita potong tangannya. Bahkan dihukum mati. Para Pejabat yang Korupsi langsung dipenggal lehernya sampai putus.

Semua pasti ketakukan. Tidak seperti sekarang. Pejabat yang Korupsi malah dipotong masa tahanan. Wuenak tenan!

Alasan saya yang kedua adalah berkah. Atau keberkahan dari yang Maha Kuasa.

Saya kira kalau bisa memilih. Saya tidak akan mau jadi Warga Negara China, Amerika atau Jepang. Mereka mungkin saja Negara maju. Tapi manusia disana jadi Budak Perkerjaan. Kerja mati-matian untuk mendapatkan penghasilan dan kekayaan.

Saya lebih memilih jadi Warga Negara Saudi atau Uni Emirat Arab. Duit melimpah. Yang kerja keras bangsa asing tapi warga setempat bisa hidup dengan nikmat.

Saya pernah membaca bagaimana santainya gaya hidup warga Saudi dan Uni Emirat Arab. Kerja bukan kebutuhan. Cuma sekedar mengisi waktu senggang diantara ibadah dan bersantai. Mereka menganggur aja biaya hidupnya ditanggung oleh Negara. Jumlahnya banyak. Pengangguran di Saudi dan Uni Emirat Arab bahkan bisa mempekerjakan Pembantu dari Philipina!
(Saya sebenarnya mau menyebut Pembantu dari Indonesia. Tapi tidak tega.. )

Negara China, Amerika dan Jepang mungkin saja sangat kaya. Rakyatnya makmur. Tapi tingkat bunuh diri disana juga sangat tinggi. Karena tekanan kehidupan yang sangat keras.

Saya sering menonton Video "Percobaan Sosial" di Youtube. Orang Asing yang berpura-pura menjatuhkan Dompetnya. Kecuali di negara Arab, dompetnya langsung lenyap. 

Kenapa dompet jatuh di Uni Emirat Arab tidak ada yang mau mengambil?

Pertama orang sana mungkin takut tangannya dipotong karena mencuri. Tapi saya lebih yakin karena orang sana beranggapan isinya cuma uang recehan. 
Bagaimana tidak. Sekelas Mobil Range Rover yang tergores saja langsung mereka buang. 

Jadi sudahlah. Negara kita bisa jauh lebih makmur dan lebih kaya dibandingkan Amerika dan China. Tidak perlu mengasingkan agama seperti Amerika atau malah membuang Agama seperti China. Cukup kita luruskan kembali sejarah. Kembalikan 7 kata di Piagam Jakarta. Terapkan syariat Islam bagi Pemeluknya.

Paling lama 10 tahun kita akan jadi Negara termaju sepermukaan Bumi ini.

Terakhir buat yang memuja-muji China dan Amerika, kapan kalian pulang kesana?

(Azwar Siregar)