Bak Film House of Cards, "Perang Intelijen" Pemerintah Jokowi Makin Seru

Bak Film House of Cards, Perang Intelijen Pemerintah Jokowi Makin Seru

Oleh: Hendrajit*

Bedanya kalau di House Of Cards, karakter Luhut adalah Frank Underwood, anggota kongres yang berhasil merebut jabatan wapres karena berhasil membujuk sang pendahulunya wapres Mathew melepas jabatannya untuk menjadi gubernur Pensylvania, sehingga Underwood berhasil merekayasa dirinya mengisi jabatan yang lowong itu.

Ternyata wapres Underwood menjadi musuh dalam selimut bagi Presiden Walker. Sehingga melalui intrik gedung putih dan capitol hill yang cukup rumit, Walker akhirnya memilih mengundurkan diri sebelum dimakzulkan oleh Kongres di tengah jalan. Dan kemudian Underwood menjadi presiden meneruskan sisa masa jabatan Walker.

Dalam film House of Cards, di Amerika yang katanya demokratis pun, perang senyap atau perang intelijen di internal istana juga kerap terjadi.

Yang mana masing-masing kubu punya barisan di dalam dan di luar pemerintahan, yang mengarah pada perang dua tema sebagai bahan bakar perang politik senyap untuk berebut penyusunan skenario politik.

Menyelami karakter Underwood yang kompleks, mengingatkan saya pada karakter Luhut. Bedanya kalau Underwood sasaran akhirnya adalah menggusur Walker, lantas menjadikan dirinya sebagai presiden penerus.

Sasaran Luhut lebih kompleks daripada Underwood. Karena menjadi presiden menggantikan Jokowi jelas bukan agendanya yang utama.

Gerakan Luhut tanpa bola, itu yang harus dibaca secara cermat. Desakan mas Amien Rais dan bung Masinton Pangaribu yang notabene dari kubu yang berbeda, agar Luhut dicopot dari jabatannya, menggambarkan adanya kegelisahan di internal pemerintahan, betapa berbahayanya menyatu paketkan Jokowi dan Luhut.

Bukan gelisah kalau jokowi dilengserkan, tapi gelisah pada skenario-skenario liar yang mungkin muncul tak terduga ketika wacana pelengseran didasari penilaian bahwa Jokowi dan Luhut sejatinya two in one alias satu paket. Sehingga pemakzulan tidak cukup hanya sampai Luhut, tapi juga Jokowi itu sendiri.

Nah makanya, wacana desakan agar Luhut mundur atau dicopot seturut aksi demo 11 April lalu, ketutup dengan pagelaran Ade Armando. Karena kalau tidak ada aksi Armando, sebenarnya kubu yang ingin mencegah menyatupaketkan Luhut dan Jokowi, akan memenangkan perang intelijen.

Tapi setidaknya, intrik istana untuk memainkan skenario ala Frank Underwood seperti dalam film House of Cards, tidak berjalan mulus. Sebab menyatupaketkan Jokowi dan Luhut bisa saja mempercepat lengsernya Jokowi. Tapi belum tentu skenario ini menguntungkan rakyat.