TANAH BORNEO & KASUS EDY MULYADI -- Tulisan Yang Bagus dari Azwar Siregar

TANAH BORNEO

Oleh: Azwar Siregar

1. Apa saya boleh memberikan pandangan ketiga atas Polemik dari Ucapan Bang Edy Mulyadi tentang IKN Baru di Penajam yang beliau sebut sebagai Tempat Jin Buang Anak? Tapi mohon maaf sebelumnya. Ini adalah pandangan pribadi saya.

2. Sebelumnya saya sudah merantau dan mencari nafkah di Tanah Borneo khususnya Kaltim. Tapi saya sudah ke Kaltara, Kalteng, Kalsel dan Kalbar. Semua daerah sudah saya kunjungi. Merasakan betapa hangatnya sambutan masyarakat disana. Baik suku Banjar, Kutai, Dayak, Paser, Melayu dll

3. Semua masyarakat disana sangat mencintai Tanah Borneo. Dulu adalah hal yang biasa saya membaca di @busamsamarinda perantau yang diusir dari Samarinda karena dianggap melecehkan Kota Samarinda. Dari situ saya berusaha menjaga sikap dan ucapan saya.

4. Saya kebetulan pertama menginjak Tanah Samarinda adalah Divisi Manager sebuah Perusahaan Marketing. Membangun Perusahaan Marketing dari Nol. Anak buah saya hampir semuanya adalah Orang Kaltim. Kalaupun Perantau, sudah lama tinggal dan hidup di Kaltim.

5. Diawal-awal saya merasa ada "culture shock" yang membuat saya bingung menghadapi anak buah dan tim saya. Budaya saya yang Sumatera yang lugas, terus terang, cenderung mereka anggap Kasar. Karena di Budaya Borneo, adab dan sopan santun adalah nomor satu.

6. Misalnya ada istilah "Kapuhunan". Kalau ada orang mengajak makan, kita tidak boleh menolak. Minimal ambil sebutir nasi. Kalau tidak bisa terjadi kecelakaan atau Kapuhunan tadi.

7. Dari situ saya mulai memahami, adab berucap dan bertindak adalah sangat penting. Di daerah lain juga pasti penting. Tapi khusus di Tanah Borneo, kalau istilah bahasa jawanya, selalu pakai "krama inggil".

8. Saya melihat, di Polemik Bang Edy Mulyadi, hal ini yang terjadi. 

9. Secara pribadi saya percaya pasti tidak ada niat beliau (Edy Mulyadi) untuk menghina Tanah Borneo dan Orang-orang Borneo. Karena tidak ada alasan beliau untuk memusuhi Borneo dan Orang-orang Borneo.

10. Pernyataan Beliau menurut saya adalah sikap atau "Perlawanan" terhadap rencana Pembangunan IKN Baru di Sepaku/Penajam. Atau lebih tepatnya, sikap kritisnya yang menjadi Oposisi Rezim Pak Jokowi.

11. Sebelum ada yang menuduh saya agen PKS atau Pendukung Bang Edy, ijinkan saya mengenalkan diri. Saya adalah Founder #PrabuMaharani. Loyalis Pak @prabowo. Artinya secara sikap, saya juga marah karena di Video yang sama Bang Edy juga melecehkan Pak Prabowo.

12. Tapi perbedaan pandangan dan sikap Politik tidak mesti membuat kita bersikap tidak adil. Apalagi sampai numpang tertawa di musibah "musuh" kita. Salah dan Benar ukurannya harus Objektif, tidak boleh Subjektif.

13. Jadi poinnya, Polemik ini terjadi karena Kultur yang berbeda. Baik Bang Edy maupun Saudara-saudara kita dari Borneo yang marah, sama-sama tidak bersalah. Di Tanah Jawa istilah Jin Buang Anak mungkin saja sangat biasa. Tapi bisa dianggap Penghinaan Serius di Tanah Borneo.

14. Justru yang salah adalah orang-orang luar yang berusaha memprovokasi masalah ini menjadi semakin memanas. Baik yang mati-matian mendukung Bang Edy karena Anti Pak Jokowi, atau sebaliknya yang mati-matian menginginkan Bang Edy "mati" padahal alasan sebenarnya karena benci oposisi.

15. Jadi saya bisa memahami kemarahan sebagian kawan-kawan di Borneo, misalnya Akun @PakkatDayak. Tapi harapan saya, jangan sampai Polemik yang sebenarnya sangat bagus untuk pembelajaran kedepan untuk saling memahami kultur dan budaya, akhirnya berubah jadi saling benci.

16. Saya membaca beberapa Komentar di Akun Saudaraku @PakkatDayak yang ditumpangi Penumpang Gelap. Malah mulai menyudutkan Islam. Padahal setahu saya Suku Dayak juga banyak yang muslim. Khususnya di Penajam/ Dayak Paser.

17. Lebih tepatnya lagi, jangan sampai ada kesan seakan-akan hanya Suku Dayak yang marah atas masalah ini. Padahal sahabat-sahabat saya yang asli dari Jawa tapi sudah ber KTP Kaltim juga ikut marah dan tersinggung.

18. Harapan terbesar saya, semoga Polemik ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Kalau bisa Bang Edy datang meminta maaf ke Tanah Borneo. Percayalah, hati orang-orang Borneo selembut salju. Sampaikan kultur shock yang mengakibatkan kesalah pahaman ini.

19. Kalau perlu saya akan dampingi. Walaupun Bang Edy juga terhutang maaf kepada Pak Prabowo yang beliau sebut Macan jadi Meong. Tapi saya tidak ingin memanfaatkan apalagi tertawa diatas "musibah" yang menimpanya.

20. Salam hormat buat Saudara-saudaraku di Tanah Indatu. Borneo adalah Kita dan Kita adalah Indonesia.

[Sumber: Twit @azwarsiregar]