IKLAN LOWONGAN KERJA RASIS?

IKLAN LOWONGAN KERJA RASIS?

Oleh: Azwar Siregar

Saya cuma bisa ngakak membaca kehebohan di Media Sosial tentang Penolakan Iklan Lowongan Kerja dengan persyaratan "harus Muslim" dari sebuah Agen JNE di Tamiang Layang.

Langsung buru-buru para Pentol Kurapan eh, Pentol Korek membully JNE dan menyuarakan Pemboikotan terhadap JNE.

Lha, bukannya Bisnis Kurir JNE itu model Waralaba?

Artinya, Setiap Agen JNE memiliki kemandirian dalam Pengelolaan Kantor Keagenan masing-masing.

Dan saya yakin, mitra JNE yang Non Muslim pasti banyak. Apalagi karyawan yang bekerja di cabang-cabang atau Agen-agennya.

Secara pribadi saya memang menyayangkan adanya persyaratan keagamaan khusus untuk Lowongan Kerja di Perusahaan atau Bisnis yang bukan berkaitan dengan Agama.

Kalaulah misalnya Bisnis yang berkaitan dengan agama, misal Travel Umroh, ya wajar persyaratannya harus Muslim. Atau Usaha Rumah Makan Bipang Ambawang yang kemarin dipromosikan Pak Jokowi, wajar kalau syarat Pekerjanya harus Non Muslim.

Lha, inikan cuma Bisnis Kurir. Kenapa mesti mewajibkan persyaratan harus beragama Islam?
Lha wong pelanggannya aja saya yakin pasti banyak juga yang non Muslim. Apalagi setahu saya di daerah Tamiang Layang-Kalteng yang sekaligus perbatasan Kaltim dan Kalsel, banyak juga warganya yang Non Muslim.

Tapi saya juga tidak sepakat dengan kelompok Pentol Kurap, eh Pentol Korek yang terlalu membesar-besarkan masalah ini.

Selain alasan yang sudah saya sampaikan di atas, masalah persyaratan "rasis" di Iklan Lowongan Kerja sudah lama terjadi.

Saya dulu pernah mengupas masalah ini di Kompasiana. Berujung Opini dan Tulisan saya diblokir Kang Pepih.

Waktu itu saya menyorot maraknya Iklan Lowongan Kerja yang saya anggap rasis di Harian Analisa Medan. Beberapa tahun yang lalu Harian Analisa adalah Koran Terkemuka di Kota Medan.

Berkali-kali Iklan di Harian Analisa sangat rasis. Mulai dari persyaratan "Diutamakan WNI Etnis Tionghoa" sampai persyaratan wajib lancar berbahasa Hokkien. Biasanya ini persyaratan untuk Lowongan kerja dengan jabatan Level Managerial.

Giliran Lowongan Kerja buat level Office Boy dan bagian pesuruh-suruh, sering juga ada persyaratan "Diutamakan etnis Jawa".

Lha, buat Manager diutamakan etnis Tionghoa, giliran lowongan buat pesuruh diminta etnis Jawa. Kurang rasis apa lagi bentuk Iklan seperti ini.

Persyaratan mahir berbahasa Hokkien juga saya anggap rasis. Sejak kapan bahasa Hokkien masuk ke Kurikulum Nasional?

Belum lagi kalau berbicara tentang gaji dan fasilitas. Coba tanya orang Medan. Pasti sudah tahu dan menjadi rahasia umum. Seringkali terjadi perbedaan mencolok gaji dan fasilitas antara Pekerja Pribumi dan Non Pribumi di Perusahaan-perusahaan milik Cimed.

Tentu saja semakin lucu, ketika kita sekarang pura-pura tidak tahu terjadi gerakan rasisme terang-terangan mengatasnamakan negara.

Ormas satu diangkat, ormas lain dipijak. Mengaku paling NKRI hanya berdasarkan dukungan kepada Presiden. Menggelikan!

(fb)