"Dok, apakah Omicron sudah masuk Indonesia?"

"Dok, apakah Omicron sudah masuk Indonesia?"

Pendapat saya: sudah. Penyebaran sudah sedemikian luas dari laporan awal. Laporan awal itupun sebenarnya kasusnya sudah terjadi setidaknya 2 pekan sebelumnya. 

"Tapi kok tidak terdengar beritanya?"

Karena cenderung yang terkena itu ringan saja gejalanya, bahkan sebagian tanpa gejala. Sehingga tidak terdeteksi dan tidak terlaporkan.

"Kok menduga begitu?"

Kita memang tidak punya data yang mendekati akurat, karena jumlah tes kita juga masih kurang. Tapi prevalensi antibodi (dari infeksi alami, vaksinasi maupun hybrid infeksi-vaksinasi) sudah relatif tinggi setelah melewati Juli kemarin. 

Angka cakupan vaksinasi kita juga sudah di angka 36,37% dari seluruh penduduk. Bila kecepatan pper hari pada pertambahan cakupan dosius 2 ini bertahan sampai akhir Desember, kita akan mencapai setidaknya 42% penduduk sudah mendapat dua kali dosis vaksin. Targetnya minimal 40% di akhir 2021. 

Dengan tetap mempertahankan protes disiplin, ini bekal berharga kita melawan gempuran Omicron. Baik karena yang terkena cenderung ringan, tapi juga penyebarannya tidak leluasa karena sudah banyak yang memiliki antibodi.

"Oh jadi masih bisa menahan Omicron ya?"

Memang saat ini, antibodi dari infeksi alami bulan Juli sudah menurun. Hanya paparan omicron cenderung tidak menimbulkan gejala berat, laporannya gejala ringan, sehingga diharapkan memicu antibodi kembali meninggi. Dengan demikian, dugaan saya, Omicron sudah ada, sudah mulai menyebar di Indonesia.

"Tapi kok belum teridentifikasi?"

Alasanya: pertama, sebagian besar kasus karena Omicron tanpa atau hanya gejala ringan (seperti juga laporan dari Afsel dan beberapa negara lain yang sudah melaporkan kasusnya. Kedua, jumlah test PCR kita di bawah ambang. Memang rata-rata tes kita dilaporkan antara 180-200 ribu per hari. Tapi yang banyak itu tes antigen, sekarang PCR tinggal sekitar 15% saja dari total tes. Rata-rata sekitar 30 ribu/hari. Padahal minimal 39 ribu/hari. Itu minimal. Itu juga dengan syarat merata. Sayangnya, 40-50% dari jumlah PCR itu di Jakarta saja. Sisanya dibagi 33 propinsi lainnya. 

"Lho, bukankah tes antigen juga tetap bisa mendeteksi Omicron?"

Benar, masih bisa, karena targetnya protein N, bukan protein S. Tapi tes antigen itu baru positif bila viral load tinggi. Kalau sudah menurun, PCR yang tepat untuk mendeteksinya. 

Walaupun antibodi sedang atau sudah mulai menurun, tapi yang pernah terinfeksi atau tervaksinasi itu masih memiliki sel memori. Ketika terpaksa terinfeksi lagi, maka cenderung viral load-nya (jumlah virus yang berhasil menginfeksi) rendah dan shedding-nya (masa bertahannya di dalam saluran nafas) signifikan lebih singkat. Maka mudah terjadi terinfeksi tapi "tidak terdeteksi" pada tes antigen. 

"Kenapa mempermasalahkan PCR dan antigen, bukankah Omicron dideteksi dengan sekuensing?"

Sekuensing hanya dilakukan bila ada indikasi awal. Pertama bila didapatkan kasus dengan ct value rendah sekali yang berarti viral load tinggi. Padahal terdeteksinya kasus perlu PCR dan bila terpaksa dengan tes antigen lebih dulu. 

Kedua, bila terjadi S gene target failure (SGTF) pada tes yang memiliiki target gen S. Artinya, PCR mendeteksi 2 target gen lain, tapi target S nya justru negatif. Bila ketemu demikian, curiga kuat bahwa virusnya mengalami mutasi. Tidak pasti varian apa, tapi Omicron salah satu kemungkinannya.

Masalahnya 85% lebih kit PCR di Indonesia saat ini, tidak menggunakan gen S sebagai target (mengingat mmg rentan bermutasi). Yang rata-rata digunakan adalah N, E, RdRp, Orf1b dan Helicase. Jadi lah memang tidak mudah mendapatkan varian omicron walau kemungkinan besar sudah ada di Indonesia. 

"Terus kita boleh santai berarti ya?"

Tidak. Karena kita tidak boleh berhenti pada "dugaan baik". Kita tetap harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Kalaupun benar Omicron sudah ada di Indonesia, atau ternyata belum ada, tetap saja jawabannya satu: harus dicegah penyebarannya. 

Walaupun sebagian besar kasus Omicron menimbulkan gejala ringan, bahkan sampai kemarin, walau tentu harus menunggu dulu setidaknya 1-2 minggu ke depan. belum ada laporan kematian. Tapi risikonya akan membesar bila jumlah kasusnya melonjak tinggi, melampaui kemampuan sistem pelayanan kesehatan, seperti terjadi di bulan Juli kemarin. Maka kita tetap harus cegah, jangan sampai penyeberannya tidak terkendali. 

"Terus sampai kapan harus hati-hati?" 

Sampai kita yakin pandemi benar-benar telah terkendali. Khusus Omicron, sampai terlaporkan bahwa tidak ada lagi laporan kasus dari tempat lain. Apalagi di Indonesia sendiri. 

Jadi, tetap semangat, jangan resah, jangan gegabah. 

Aminn.... 

06/12/2021

(dr. Tonang Dwi Ardyanto)