Pelajaran dari Harun Yahya, Betapa Allah Maha Membolak Balikan Hati

Pelajaran dari Harun Yahya, Betapa Allah Maha Membolak Balikan Hati

Oleh: Arham Rasyid 

Beberapa hari yang lalu, miris baca berita Harun Yahya yang akhirnya divonis lebih 1000 tahun penjara oleh Pengadilan Turki, karena terbukti melakukan kejahatan seksual, penipuan, sekte sesat, kepemilikan narkoba, dan percobaan spionase politik serta militer.

Ambe semuami, kata orang sini.

Lagian 1000 tahun penjara ini kayak bercandaan saja ngasih hukumannya. Entah pengadilan Turki sudah gregetan atau gimana. Yang jelas keluar dari penjara bisa-bisa si Harun ini sudah jadi fosil.

Tapi memang parah sih kelakuannya. Mbahnya begajul. Andai ada hukuman sekunci-kunci dunia, mungkin sudah dikasih juga.

Anak sekarang kayaknya gak paham siapa Harun Yahya, tapi coba tanya anak-anak Rohis atau Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang pernah aktif tarbiyah di awal-awal tahun 2000-an, pasti familiar dengan tokoh ini.

Si Harun ini nama kecilnya Adnan Oktar. Pemikir fenomenal yang buku dan kaset-kaset CDnya beredar bak kacang goreng, mengisi kekosongan jiwa-jiwa anak muda hingga semangat dalam belajar agama. 

Saya sendiri pernah mengoleksi CD-nya tentang teori-teori Penciptaan manusia. Luar biasa mencerahkan, bikin kita nangis menyadari besarnya kekuasaan Allah.
Tapi itu dulu, belasan tahun yang lalu. Karena belakangan ia mulai berubah drastis, higga kemudian mengisi acara TV, joget-joget sambil dirubung perempuan-perempuan seksi yang di koleksinya dan diberi istilah kitten. Ummat pun terhenyak dibuatnya. Tahun 2018 akhirnya ketangkap, dan awal tahun 2021 ini divonis.

Miris dengan keadaannya, tapi saya gak kalah miris dengan logika orang-orang pemuja teori konspirasi.

Kemarin ada beberapa tulisan yang saya baca bahwa mereka gak percaya kalo yang ketangkap ini adalah Harun Yahya. Beberapa ciri fisik pada wajahnya katanya beda, dan Harun Yahya asli kemungkinan sudah lama mati, disembunyikan ataupun dibunuh. Wow, syinetron sekaleee..

Ini mengingatkan saya pada hoax tentang Michael Jackson yang dulu sempat heboh. Disebut Michael sudah lama meninggal, yang tampil di publik adalah orang yang mirip dengannya. Begitu juga Elvis Presley, sempat diragukan kebenaran kematiannya, konon banyak saksi yang melihatnya di hari tua, menyepi di suatu tempat.

Di tingkat nasional juga berlaku hal seperti ini. Kahar Muzakkar contohnya, hingga berpuluh tahun kematiannya pun pengikutnya masih banyak yang meyakini kalo dia masih hidup dan bersembunyi. Yang ditembak mati di hutan Lasolo itu menurut mereka bukan Kahar, melainkan anak buahnya.

Nah, anehnya yang percaya teori seperti ini, bahwa Harun Yahya yang sekarang bukan Harun Yahya ori, banyak juga dari kalangan orang berpendidikan. Mungkin karena kelewat cinta pada manusia, gak masuk logikanya kalo orang seperti Harun Yahya bisa berubah, hingga mereka lupa kalo Allah Maha membolak-balikkan hati dengan teramat mudah.

Sebelum Harun Yahya, dulu juga ada tokoh ulama tersohor bernama Usamah Al-Qushi, seorang syaikh dan da’i yang berdakwah menyeru kepada sunnah. Orang berilmu yang punya banyak jamaah. Namun, beberapa tahun kemudian si Syekh ini tiba-tiba menyimpang dari sunnah. Mengubah penampilannya, memangkas jenggotnya, menghalalkan riba, menghalalkan menyentuh wanita, hingga menghalalkan menggunakan hukum selain hukum Allah. Naudzubillah.. Lagi-lagi Allah maha membolak-balikkan hati sedang menunjukkan kuasa-Nya.

Baca yang beginian, kita gak perlu kecil hati. Sebab islam sama sekali gak luntur kemuliaannya hanya dengan kelakuan orang-orang seperti Harun Yahya ataupun Usamah Al-Qushi. Banyak orang sholeh yang kemudian murtad, sebaliknya gak sedikit pula pendeta yang muallaf. Ini semua dinamika, woles aja menghadapinya.

Di circle pertemanan saya juga banyak saya temui kuasa Allah soal ini.

Jaman kuliah dulu saya berteman dengan seorang pemuda berandalan kampus, kerjanya kalo gak mabok, ya mukul orang. Kalo main ke rumah, saya pasti dimarahin emak, karena si berandal ini gak pernah mau sholat. Namun Allah kemudian melembutkan hatinya menjemput hidayah. Sekarang jadi orang sholeh, getol berdakwah, menikahi adik seorang ustadz di Bulukumba.

Tetangga saya dulu di sini seorang cewek seksi. Hanya terpisah satu dinding dengan rumah saya. Ke mana-mana pake tanktop atau rok mini yang kebangetan pendeknya, kerjanya hura-hura dan keluyuran mulu pulang malam sampe subuh. Sembarang laki-laki jadi tamunya. Istri saya baru bisa merasa lega setelah cewek ini pindah entah ke mana, sayapun ikut lega secara saya jadi korban perasaan disuudzoni mulu disangka suka melirik-lirik.

Qadarullah bertahun kemudian kami menemuinya di tempat ngaji. Gak kenal, hingga ia menegur duluan. Gimana mau kenal kalo orangnya sudah bercadar dan jubah hitam nyaris tertutup semua, menikah dengan pria jenggotan bercelana cingkrang.

Di Jakarta saya juga punya teman dengan kisah hijrah yang masya Allah. Orangnya normal-normal saja sebagaimana orang sholeh pada umumnya. Tapi suatu malam saat nginap di rumahnya, saya benar-benar speachless mendengar curhat masa lalunya. Berkali-kali kabur dari pesantren, putus sekolah karena terjerumus narkoba, bolak-balik di rehabilitasi, hingga keluarga yang habis-habisan dan akhirnya pasrah dengan keadaannya yang gak bisa diperbaiki lagi.

"Saya sampe pada tahap di mana ibu saya nangis-nangis mencari keberadaan bandar dan mendatanginya untuk beliin saya barang haram itu, bang. Karena gak tega lihat anaknya sakaw parah" ujarnya bercerita terbata-bata.

Qadarullah Allah masih menyayanginya. Lepas dari narkoba, aktif di komunitas hijrah, dan sekarang bareng istrinya mendirikan rumah tahfidz untuk orang-orang tuna netra.

Gak ada yang gak bisa berubah kalo Allah menghendaki. Ingat gimana Umar bin Khattab menghunus pedangnya di hadapan Rasulullah? toh di akhir hayat ia justru dimakamkan berdampingan dengan manusia yang dulu nyaris dibunuhnya, manusia paling mulia yang pernah ada di dunia.

Inilah pentingnya mendoakan kebaikan pada seseorang sebagaimanapun besar dosanya, karena kita gak pernah tau bagaimana akhir hidupnya.

Doa agar diberi hidayah, sebenarnya redaksinya belum cukup tanpa didoakan istiqomah atau ketetapan dalam hidayah tersebut, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sering berdoa, dalam hadits yang diriwayatkan Tirmidzi.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat pembolak-balik hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu.”

Istri Rasulullah Ummu Salamah berkata; wahai Rasulullah, betapa sering anda berdoa: "YAA MUQALLIBAL QULUUB, TSABBIT QALBII 'ALAA DIINIKA" (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamaMu). 

Beliau SAW berkata: "Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya tidak ada seorang manusia pun melainkan hatinya berada diantara dua jari diantara jari-jari Allah, barang siapa yang Allah kehendaki maka Dia akan meluruskannya dan barang siapa yang Allah kehendaki maka Dia akan membelokkannya." 

(HR.Tirmidzi: 3444)