PSIKO-SOSIOLOGIS "HAYYA 'ALAL JIHAD"

PSIKO-SOSIOLOGIS "HAYYA 'ALAL JIHAD"

Oleh: DR. Moeflich Hasbullah (Dosen UIN Sunan Gunung Djati)

Adzan "hayya 'alal jihad" kalau dalam era kolonial pasti akan dibenarkan bahkan dipuji. Sekarang kontroversi karena dianggap tidak sedang dalam penjajahan atau dalam situasi perang. 

"Kondisi berperang" bisa dipahami dan dirasakan berbeda-beda tergantung penghayatan. Ada yang merasakan situasi sekarang ini benar² sedang dalam penjajahan atau perang (bukan fisik), ada yang menganggap dan merasakannya biasa² saja, damai² saja. 

"Hayya 'alal jihad" yang dikumandangkan oleh mereka yang merasa sedang dalam penjajahan atau situasi perang, menjadi wajar. Dirasakan aneh oleh mereka yang tidak merasakannya. Disitu persoalannya. Ini soal perasaan dan penghayatan situasi. "Hayya 'alal jihad" lebih sebagai ekspresi ketertindasan sosial politik budaya ekonomi ketimbang sebagai persoalan syariat atau kelaziman adzan.

"Sangat lazim sakit hati dijajah," kata Cak Nun. "Dalam menghadapi penjajahan ini, ada yang sabar ada yang tidak sabar. Ini muncul alamiah akibat ketertindasan," jelas Mbah Nun, sementara makna jihad itu luas. Hayya alal jihad, katanya, tidak bisa dilepaskan selama 4 - 6 abad yang selalu diremehkan alias terjajah.

[Video - Tanggapan Cak Nun Soal Hayya 'Alal Jihad]