Habib Rizieq vs Nikita Mirzani, Pengalihan Isu OmnibusLaw?

[PORTAL-ISLAM.ID]  Sepekan belakangan, publik di tanah air heboh dengan seputar Habib Rizieq, mulai dari euforia sambutan kedatangan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) itu, perseturuan Habib Rizieq dan pendukungnya dengan artis sensasional Nikita Mirzani sampai dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam bentuk pembagian masker di acara maulid di kediaman tokoh sentral FPI itu. Ada isu yang dilupakan seiring heboh Habib Rizieq, apa itu Omnibus Law?

Isu sebelum kepulangan Habib Rizieq yaitu penolakan Omnibus Law atau UU Cipta Kerja. Belakangan seiring hebohnya informasi soal Habib rizieq, isu tolak Omnibus Law seakan tenggelam di telan Bumi. Ini lah yang dikhawatirkan oleh para aktivis.

Aktivis cum feminis Indonesia, Lini Zurlia menyoroti isu penolakan Omnibus Law yang kurang mendapatkan perhatian publik sejak kabar pulangnya Habib Rizieq.

Dalam cuitannyaa dua hari lalu, Lini menyampaikan keresahannya tersebut.

“Tiba-tiba publik dibuat lupa atas skandal Omnibus Law. Tiba-tiba publik dibuat sibuk soal HRS, soal Nikita Mirzani, soal 20K masker dari BNPB. Tiba-tiba panglima TNI pidato soal persatuan. Sementara diam-diam, bumi & semua kekayaan yang terkandung di dalamnya sedang diobral lewat Omnibus Law,” tulis Lini di akun Twitternya.

Lini menuliskan isu seputar Omnibus Law yang penting untuk hajat hidup orang banyak kini kurang mendapatkan perhatian. Misalnya soal pemerintah tak akan menaikkan upah buruh pada 2021. Isu ini kalah dari kehebohan Habib Rizieq.

“Perusahaan-perusahaan mulai mengakali pergantian-pergantian peraturan sesuai Omnibus Law. Para buruh terancam tak akan mendapat kenaikan upah pada 2021. PP 78 yang sebelumnya ditolak, terpaksa dijadikan acuan utk berunding, sebab Omnibus yang menghisap jauh lebih durjana!” tulis Lini.

Belum lagi korporasi yang diuntungkan dengan Omnibus Law. Lini mengatakan isu soal lahan dan masyarakat adat kini kalah dari perhatian publik.

“Hutan adat di Papua dirampas, dibakar, disulap jadi perkebunan sawit. Masyarakat adat digusur, dimanipulasi dengan 100.000 rupiah per/h oleh korporasi raksasa tentu atas restu penguasa yang sekarang diuntungkan oleh Omnibus Law,” tulis Lini.

Saking geramnya, Lini kemudian menyindir para penasehat moral dan peneriak toleransi yang diam melihat praktik ugal-ugalan Omnibus Law. Jangan cuma diam dengan balutan agama dan tidak menolak Omnibus Law.

“Untuk kalian yang teriak soal toleransi, soal agama yang damai apalah apalah hari hari ini, tapi bungkam saat ketidakadilan dilegalkan rezim dengan mengetuk palu skandal Omnibus Law bahkan ikut berperan aktif mendukungnya, terkutuklah!” kata Lini.

Habib Rizieq dan pendukungnya pun kena sindir si aktivis perempuan ini.

“Untuk kalian yg teriak soal akhlaq, soal adab, soal kecintaan pada nabi, tapi mampu menghina manusia lain, menyebutnya dengan hinaan sebagai lonte, mentertawakannya, seolah-olah ia bukan manusia sama sepertimu, terkutuklah!” tutur Lini.

Terakhir, si aktivis ini meminta hentikan mengarahkan penolakan Omnibus Law ini dengan mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi.

“Untuk yang mulai memoderasi gerakan #MosiTidakPercaya #CabutOmnibuslaw dengan mendorong melakukan Judicial Review, tolong hentikan!” kata dia. [hops]