Denny JA Sengaja Menyebarkan Chat Untuk Menekan Luhut?



Denny JA dan Rencananya

Denny JA menjadi sorotan atas tangkapan layar pesan WA yang menurut publik salah kirim. Pesan panjang yang tertuju pada Menko Maritim malah menyasar ke grup WA. Alhasil, pesan tersebut menjadi pembicaraan karena ada permintaan jabatan yang diajukan Denny JA pada menko maritim, Luhut Binsar Pandjaitan.

Tapi, rasanya kok janggal kalau pesan itu dianggap salah kirim.

Denny JA memang kerap mengirimkan pesan ke WA grup dengan bentuk tulisan panjang. Namun untuk pesan yang ditujukan pada Luhut, sepertinya gak masuk logika kalau pesannya benar kesana arahnya.

Luhut adalah Menko dengan kesibukan luar biasa. Apa mungkin ia akan menyiapkan waktu untuk membaca sebuah pesan panjang dari Denny JA? Dan logikanya, apakah mungkin sebuah permintaan jabatan diajukan lewat pesan WA? Walaupun pesannya bersifat follow up atas keinginan yang telah tersampaikan.

Jika Luhut kelasnya seperti netizen sosmed, kemungkinan ia akan membaca pesan Denny JA. Namun dengan kesibukan dirinya sebagai Menko, kemungkinan pesan2 khusus saja yang ia baca. Dan pesan tsb, bukanlah pesan panjang ala curahan hati. Untuk obrolan panjang, pastinya ia memilih melakukan telp atau membuat janji pertemuan. Jelas dan langsung ke titik point obrolan.

Jika kamu menginginkan jabatan pada seseorang, pastinya dirimu akan melihat dulu orang yang dihadapi. Jika hubungannya dekat ala teman, bisa mengirimkan pesan WA. Namun bagaimana jika orang tersebut adalah pihak yang memegang pengaruh penting di perusahaan dan tidak akrab dengan kita sebelumnya? Pastinya membuat janji pertemuan dan melakukan panggilan telp dalam mengutarakan maksud. Atau, mengunjungi yang bersangkutan ke kantornya.

Kemungkinan Denny JA melakukan "presure" pada Luhut. Benar dia meminta jabatan sebelumnya, namun kemungkinan belum ada jawaban. Pesan panjang yang ia buat, tidak pernah sampai ke Luhut. Namun, ia memilih menyebarkannya pada publik agar ada respon.

Respon inilah yang dijadikan senjata oleh Denny JA. Ketika publik heboh dengan menyangkutkan pekerjaan Denny JA di situasi Pilpres kemarin, disitulah permaian babak baru Denny JA dimulai.

Pilpres kemarin menjadi perdebatan panjang mengenai kinerja lembaga survey. Tanpa diduga, hasil quick count yang mereka umumkan mengunggulkan Jokowi. Secara tidak langsung, lembaga survey menjadi pemandu KPU agar mengikuti hasil penghitungan mereka. Lembaga survey menjadi acuan dan kawalan pada hasil KPU.

Ada kecurigaan publik atas satu suaranya lembaga survey dalam merilis hasil quick count. Ada permainan besar yang telah direncanakan dengan matang.

Setelah semuanya tercapai, masing2 bos lembaga survey memainkan peranannya dalam meminta keuntungan. Denny JA bisa jadi benar meminta jabatan seperti klarifikasinya atas capturan chat yang tersebar, dia mengatakan "Apakah salah meminta jabatan?".

Gak salah, tapi mengumbar meminta jabatan ke publik itu salah. Mengumbarnya, sama saja memberikan tekanan pada pihak pemberi agar cepat melaksanakan keinginan diri. Jika tidak diberi, ada ancaman yang ingin disampaikan.

Menurut saya, beredarnya capturan Denny JA adalah taktik Denny ke Luhut dan pihak yang dianggapnya mampu mewujudkan keinginan. Chat itu gak pernah sampai ke Luhut, sengaja disebarkan agar publik bertanya dan memanaskan kembali masalah quick count yg menjadi isu HOT.

Denny JA memegang kunci atas isu yg beredar dulu.

Jika ia bisa sebarkan capturan tsb, maka ia juga bisa menyebarkan kunci jawaban atas apa yang sebenarnya terjadi di Pemilu kemarin. Denny JA sedang menaikkan tawarannya pada pemangku kebijakan. Dia sedang mengancam dengan cara lunak.

Orang lembaga survey, selalu memiliki cara dalam memainkan peranannya. Jika angka bisa memenangkan seseorang, angka itu juga bisa menjungkalkan orang tersebut. Karena yang memainkannya masih orang yang sama.

Boleh gak analisa begini? Takutnya ada yang marah lagi.

By Setiawan Budi [fb]
loading...