Antara Jiwa Ksatria dan Keras Hati Tidak Mau Mengakui Kesalahan, Mana Yang Lebih Baik Dipilih?


[PORTAL-ISLAM.ID] Memilih sosok pemimpin salah satunya adalah memiliki jiwa ksatria.

Berani tampil untuk mengakui kesalahan apabila ternyata tindakan atau suatu sikap sang pemimpin tidak sesuai pandangan dan harapan rakyat.

Berani mengakui salah bukan berarti sikap mudah melakukan kesalahan ataupun sikap murahan.

Sikap berani meminta maaf bisa menjadi sebuah pembeda bagaimana pemilih menilai sosok sang pemimpin, apakah pemimpin yang didukung dan dipilih tidak memiliki sikap keras hati dan gengsi untuk mengakui kesalahan baik sikap, putusan atau tindakan.

Sikap berani tampil untuk meminta maaf adalah satu sikap yang dapat menunjukkan sikap ksatria sang pemimpin.

Bagaimana sang pemimpin dapat menaklukkan gengsi dan egoisme diri.

Karena sikap egoisme merupakan motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang hanya menguntungkan diri sendiri.

Egoisme berarti menempatkan diri di tengah satu tujuan serta tidak peduli dengan penderitaan orang lain, termasuk yang dicintainya atau yang dianggap sebagai teman dekat.

Bagaimana menemukan sense of crisis dan sense of belonging pada sosok pemimpin ketika ternyata sudah tidak ada sikap ksatria pada dirinya?

Ini soal sense (rasa), soal bagaimana ikut merasakan, bagaimana sang pemimpin ikut merasakan apa yang dirasakan masyarakat.

Tanpa ada perasaan memiliki dan ikut merasakan krisis bersama, maka sang pemimpin tak ubahnya seonggok boneka.

Boneka yang miskin akan perasaan dan minim ketidakpedulian pada situasi sekitarnya.

Dan  lawan dari pemimpin berjiwa layaknya boneka hanyalah sosok pemimpin ksatria yang berani tampil untuk meminta maaf, apabila diketahui ternyata tindakan ataupun omongannya dinilai melukai perasaan rakyatnya.

Negeri ini sudah lama tidak memiliki pemimpin yang memiliki jiwa ksatria maka hilang sudah rasa memiliki sebuah bangsa.

Bangsa besar juga seharusnya dipimpin oleh pemimpin yang mampu berjiwa besar, yang berdiri diatas semua golongan dan semua kepentingan, tanpa terkotak oleh dukungan relawan.

Dan untuk menjadi pemimpin yang ksatria dan berjiwa besar itu modal utamanya berani tampil sebagai sosok pemimpin, bukan justru melarikan diri dari tanggungjawab yang dibebankan kepada diri sang pemimpin.

Ada pemimpin yang tak mau bersikap ksatria dan berjiwa besar karena takut namanya serta gengsi dirinya menjadi rendah dan murahan.

Padahal, keengganan pemimpin untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan, justru memberitahukan sosok sebenarnya sang pemimpin seperti apa.

Memberitahukan bahwa sang pemimpin adalah pemimpin yang telah hilang hati dan perasaannya.

Sehingga akhirnya hilanglah rasa atau budaya malu sang pemimpin.

Tidak malu telah melakukan kesalahan dan ujungnya terus melakukan kesalahan hingga menempatkan dirinya pada posisi memalukan.

Pemimpin yang memalukan adalah pemimpin yang terus berulang kali melakukan kesalahan seperti berbohong dan ingkar janji, namun tidak pernah terbesit sedikitpun pada diri sang pemimpin untuk meminta maaf atas kebohongan dan ingkar janji yang dilakukan.

Hilang sudah sikap ksatria dan jiwa besar itu.

Berganti sikap tidak jelas, planga plongo dan berjiwa boneka.

Prabowo Subianto serta Sandiaga Uno telah berikan tauladannya, untuk berani tampil sebagai pemimpin yang mau mengakui kesalahannya apabila tindakan serta ucapannya dirasakan melukai perasaan rakyat.

Negeri ini memang telah hilang rasa memiliki pemimpin yang berani tampil dengam sikap ksatria dan berjiwa besar.

Karena negeri ini terlalu lama dipimpin sosok boneka serta para politisi yang bersikap sontoloyo dan berjiwa genderuwo dibelakangnya.

Bukannya meminta maaf atas salah urus atas negara yang telah dilakukan, justru budaya melempar kesalahan dan tuduhanlah yang menjadi andalan.

Sikap-sikap sontoloyo serta jiwa setan seperti genderuwo lah yang akhirnya menjadi tujuan pilihan dan bukan menjadi cerminan pembelajaran untuk lahirnya kesadaran.

Prabowo Sandiaga ibarat penuntas dahaga kerinduan akan keberadaan sosok-sosok pemimpin yang memiliki perasaan dengan sikap ksatria dan jiwa besarnya.

Kalau ada yang lebih baik mengapa masih saja memilih pemimpin boneka yang hanya memiliki sifat keras hati dan tidak mau mengakui kesalahan?

Maka, tidak ada pilihan lain, harus memilih pemimpin yang berani tampil layaknya seorang ksatria berjiwa besar, tampil sebagai sosok pemimpin bukan sebagai boneka

Dan itu hanya ada pada pasangan Prabowo Sandiaga nomor dua.

(Bang dw)

Sumber: https://dw-opini.home.blog/2018/11/14/antara-jiwa-ksatria-dan-kerasnya-sifat-tidak-mengakui-kesalahan-mana-yang-lebih-baik-di-pilih/