Sedikit Bocoran dari ‘Halaqah Off The Record’ Dzurriyah Para Pendiri NU

(Dari kiri tampak KH Salahudin Wahid (Gus Solah), Cak Anam, KH Hasib A Wahab, KH Luthfi Bashori, Gus A Muzammil)

[PORTAL-ISLAM.ID] Intinya, Halaqah Penegakan Khitthah NU 1926 yang digelar dzurriyah (anak-cucu) para pendiri Nahdlatul Ulama (NU) itu, sangat amat penting. Karenanya tidak semua bahan diskusi patut diketahui publik, termasuk warga nahdliyin.

“Sepakat! Forum ini kita nyatakan off the record alias tertutup bagi awak pers,” demikian keputusan bersama dalam acara yang berlangsung di Dalem Kasepuhan PP Tebuireng, Rabu (24/10/2018).

Kendati begitu, bukan berarti memberangus setiap peserta untuk bicara ke publik. Hari ini, Kamis (25/10/2018) di media sosial mulai ramai membahas soal usulan KH Luthfi Bashori dalam forum tersebut yang, diunggah melalui laman facebook. Dan itu adalah pendapat pribadi, sekali lagi, pendapat pribadi bukan keputusan halaqah.

KH Luthfi juga menyampaikan tiga inti kesepakatan yang boleh dipublikasikan melalui juru bicara halaqah (Drs H Choirul Anam). Intinya, pertama, organisasi NU harus kembali kepada ketentuan Khitthah 1926. Kedua, organisasi NU tidak berafiliasi kepada Capres mana pun dalam Pilpres 2019.

Ketiga, warga NU dipersilahkan untuk memilih Capres sesuai hati nurani masing-masing berpegang pada 9 pedoman politik bagi warga nahdliyin. Demikian KH Luthfi menyertakan link berita duta.co. (https://duta.co/ini-tiga-keputusan-penting-dzurriyah-pendiri-nu-tentang-khitthah-dan-pilpres )

“Dalam kesempatan emas itu saya atas nama kawan-kawan Komunitas Garis Lurus, menyampaikan beberapa poin dari hasil bincang-bincang intern, untuk dijadikan bahan diskusi oleh para tokoh NU yang hadir dalam Halaqah,” tegasnya.

Enam Poin Usulan KH Luthfi yang Menyebar di FB:

Pertama, kami merasa prihatin, setelah mencermati, bahwa sudah banyak pengikut aliran/paham/perilaku sesat yang ternyata dilindungi oleh PBNU, seperti kasus Ahok penghina Almaidah-51, saat ia mendapat perlawanan dari umat Islam, ternyata dibela oleh PBNU.

“Seperti juga keberadaan aliran sesat Liberalisme yang tumbuh subur di kalangan pengurus NU karena mendapat back-up dari PBNU. Keberadaan Syiah Indonesia juga mendapat dukungan dari PBNU. Padahal, di jaman Mbah Hasyim Asy’ari, visi dan misi PBNU adalah memberantas aliran sesat, sedangkan saat ini terkesan menjadi pelindung aliran sesat,” tulisnya.

Kedua, kami mengharap kepada pihak PP. Tebuireng, atau Gerakan NU Khitthah, untuk MENERBITKAN ULANG secara resmi, tulisan Qonun Asasi NU (Arab & terjemahan), serta Risalah Aswaja karya Mbah Hasyim (Arab & terjemahan) untuk menghindari banyaknya upaya pemalsuan yang dilakukan oleh tangan-tangan Liberal, yang mana mereka sengaja dan berambisi ingin membelokkan dari makna yang sesungguhnya, hingga warga NU menjadi jauh dari ajaran asli para pendiri NU.

Ketiga, kami mengajak warga NU agar kembali ke Khitthah Aqidah Aswaja sesuai ajaran para ulama Salaf dan tidak tergiur dengan pemikiran-pemikiran baru yang bertentangan dengan ajaran para pendiri NU, di samping berupaya mengembalikan visi dan misi keorganisasian NU kepada Khitthat 1926.

Keempat, kami mohon agar para ulama sesepuh NU bersedia menata ulang eksistensi Banom NU, seperti aktifitas Banser yang sering jaga gereja, karena bukan seperti itu Banser didirikan, termasuk kasus yang terbaru dan menjadi sorotan dunia Islam, ada anggota Banser telah membakar bendera Tauhid, hingga umat Islam marah bahkan warga negara Siriya, Presiden Turky Erdogan, dll ikut mengecam aksi pembakaran tersebut. Namun sayangnya pimpinan Ansor serta beberapa tokoh Struktur NU malah mencari pembenaran atas ulahnya.

“Masyarakat awwam pun bertanya-tanya: Apakah tidak ada sesepuh NU yang berani mengingatkan mereka?,” tegasnya.

Kelima, kami merasa prihatin terhadap gerakan PKPNU (Pendidikan Kader Pergerakan NU) yang kini dijadikan sebagai alat liberalisasi dan politisasi pemikiran tokoh/kader muda NU).

Keenam, kami berharap hendaklah  NU juga menfasilitasi dan merangkul mayoritas para  alumni Timur Tengah (Makkah, Madinah, Yaman, Mesir, Maroko, dll) yang  beraqidah dan berpaham masih lurus sesuai ajaran Mbah Hasyim Asy’ari, karena Mbah Hasyim Asy’ari juga alumni Timur Tengah yang beraqidah lurus.

“Mereka itu hakikatnya adalah aset NU, namun jika tidak diwadahi oleh pengurus NU secara baik dan benar, maka mereka akan bergerak sendiri-sendiri, sekalipun mereka itu berasal dari keturunan tokoh-tokoh NU,” tambahnya.

“Poin terakhir yang kami sampaikan bahwa sesuai dengan hasil musyawarah intern para aktifis Komunitas Garis Lurus, maka kami bersepakat pada pilpres 2019 akan mendukung pasangan Prabowo-Sandi,” tutupnya.

Seperti diberitakan duta.co halaqah yang dimulai pukul 10.00 wib itu, ditunggui langsung KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) sekaligus sebagai sohibul bait dan KH Hasib A Wahab Chasbullah (Gus Hasib) dari PP Tambakberas. Hadir juga Gus Irfan Yusuf, KH Agus Solachul A’am Wahib Wahab (Gus A’am), Gus Rozaq, KH A Wachid Muin, KH Muhammad Najih Maimoen (Gus Najih) dari Sarang, KH Abdul Zaini (Besuk, Pasuruan), KH Abdul Hamid (Lasem).

Tampak pula KH Abdullah Muchid Pendiri IPIM (Ikatan Persaudaraan Imam Masjid Seluruh Indonesia), Prof Dr KH Ahmad Zahro, MA al-Chafidh Ketua IPIM, Drs H Choirul Anam, cucu menantu dari KH Achmad Dahlan (Pendiri Taswirul Afkar Kebondalem, Surabaya), Prof Nasihin Hasan, Prof Aminuddin Kasdi, KH Muhammad Idrus Ramli (Jember), KH Luthfi Bashori Alwi (Malang), Gus Ahmad Muzammil (Yogyakarta), Gus Mukhlas Syarkun, dll. 

Sumber: https://duta.co/sedikit-bocoran-dari-halaqah-off-the-record-dzurriyah-para-pendiri-nu/