Ketika UNTUNG-RUGI Jadi Faktor Penentu Urusan KEMANUSIAAN, Itulah 'BENCANA" Yang Sesungguhnya


[PORTAL-ISLAM.ID] Sungguh malang nasib warga Lombok dan NTB pada umumnya, karena bencana gempa bumi yang sudah ratusan kali mereka alami selama lebih dari 2 minggu ini tak kunjung dinyatakan sebagai Bencana Nasional dengan alasan yang sangat naif: KHAWATIR RUGI!

Ya, (potensi) kerugian finansial itu diperkirakan akan dialami sektor pariwisata Lombok dan Bali, jika sampai dinyatakan Lombok Bencana Nasional.

Istana Khawatir Indonesia Rugi Jika Tetapkan Bencana Nasional
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180820164818-20-323680/istana-khawatir-indonesia-rugi-jika-tetapkan-bencana-nasional

Sebab, hitung-hitungannya begini: kalau dinyatakan sebagai bencana nasional, kontan para pelancong (baik domestik maupun mancanegara) akan batal datang. Dan itulah kemungkinan ruginya. Kalau dalam bisnis biasanya disebut "potential lost". Kerugian yang masih berupa prediksi.

Astaghfirullah...
400an lebih nyawa melayang, puluhan lagi belum ketahuan atau belum bisa dievakuasi. Infrastruktur sudah tak terhitung yang ambruk dan hancur lebur.

Puluhan ribu jiwa hidup dalam pengungsian yang serba memprihatinkan kondisinya. Bergeletakan dalam tenda-tenda darurat, kekurangan selimut, pakaian dan terutama air bersih.

Anak-anak dan bayi pun kekurangan bahan pangan yang layak bagi anak seusianya.
Bayi baru lahir, ibu-ibu yang melahirkan di tempat pengungsian, semuanya dalam kondisi yang amat sangat memprihatinkan.
Rentan terserang aneka penyakit. Miris...
Tak cukup kata-kata yang bisa dirangkai untuk melukiskan keadaan sebenarnya.

Dan...
Untuk semua penderitaan itu, pertimbangan yang lebih diutamakan adalah "MENGHINDARI KERUGIAN" yang mungkin saja terjadi pada sektor pariwisata.

Penderitaan warga akibat kurang masifnya ekskalasi bantuan, kurang cepatnya distribusi bantuan, sama sekali bukan pertimbangan utama.

Innalillahi wa inna ilaihi roji'uun...
Inilah "bencana" lebih besar sesungguhnya, jika nilai-nilai kemanusiaan harus dikalahkan oleh nilai-nilai materialisme.

Padahal, di era teknologi komunikasi super canggih di abad XXI ini, berita apa sih yang tidak tersebar dengan mudah dan cepat ke seluruh penjuru bumi?!

Ketika Jepang dilanda gempa besar dan tsunami pada Maret 2011, dalam hitungan menit nettizen di Indonesia sudah membincangkan. Termasuk soal bocornya reaktor nuklir akibat gempa.

Ketika gempa besar melanda Tibet dan Nepal pada April dan Mei 2015, hanya hitungan jam seluruh dunia tahu.

Lalu apakah calon wisatawan yang berencana berkunjung ke negara-negara yang sedang dilanda bencana tidak akan membatalkan rencana pelesir mereka?!
Ya tentu saja!
Wajar itu!

Ada atau tidak ada pengumuman dari negara yang bersangkutan, apakah itu bencana nasional bagi mereka or not, pelancong pasti membatalkan rencana perjalanannya.
Yang datang justru relawan kemanusiaan, mereka yang berniat memberikan bantuan.

Apa dikira gempa di Lombok tidak didengar oleh warga negara lain?!
Apa dikira kalau tidak ditetapkan jadi bencana nasional maka mereka masih akan tetap datang berkunjung untuk jalan-jalan?!

Lha, jurnalis asing saja sampai keheranan kenapa dengan kondisi sedemikian parah terdampak bencana gempa, kok masih saja pemerintah Indonesia bergeming tak mau menyatakan sebagai bencana nasional.

Come on, jangan NAIF!!!
Turis - domestik maupun mancanegara - batal datang atau tidak BUKAN karena ditetapkan jadi bencana nasional.
Mereka batal datang karena memang sudah mendengar berita kejadian gempa yang terus menerus tak juga mereda.
Memangnya kalau mereka datang mau nonton apa?!
Hanya relawan yang punya nyali dan tekad kuat yang masih mau datang demi alasan kemanusiaan.

Ayolah pak Jokowi,
Anda Presiden lho!
Andalah yang punya hak untuk memutuskan.
Jangan takut memutuskan karena pertimbangan kiri kanan yang lebih BERORIENTASI BISNIS.

PENDERITAAN KORBAN BENCANA SANGAT TIDAK SEPADAN JIKA DIBANDINGKAN POTENSI KERUGIAN DI SEKTOR PARIWISATA.

Sungguh saya gak habis pikir, jika kita yang orang "timur", yang lebih mengedepankan perasaan, tepo seliro, tenggang rasa, solidaritas, kok malah di saat bencana lebih mengkhawatirkan kerugian materiil karena takut turis bakalan tak jadi datang!!

Saya justru kehabisan kata-kata untuk mewakili keheranan ini.
Cuma bisa istighfar...
Negeri ini bukan makin berkah kalau lebih mengedepankan "materi".
Jangan sampai murka Allah makin menjadi, keberkahan atas negeri ini makin dicabut, karena kita makin jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

😥😢😭😭😭

#Pray4Lombok
#PrayforLombok
#LombokBencanaNasional

(Iramawati Oemar)

*sumber: fb penulis

___
TAMBAHAN: KONDISI LAPANGAN...