ROCKY GERUNG, Bukan Idola Saya

ROCKY GERUNG

By Azwar Siregar

Sejak dulu saya tidak pernah mengidolakan Rocky Gerung. Saya juga menganggap beliau biasa-biasa saja. Pintar secara akademis, yes. Pintar berdebat, iya. Tapi cuma sebatas itukan?

Saya justru saya bingung, khususnya dengan kawan-kawan yang konon merasa sangat relijius, tapi begitu mengidolakan sosok Rocky Gerung. Mereka meyakini semua yang disampaikan Bung Rocky adalah kebenaran.

Padahal setahu saya, semua pemikiran Bung Rocky selalu bersumber dari Pemikiran Filsuf Barat. Di setiap talkshow, beliau selalu mengatakan "berdasarkan perkataan si ini dan si itu, ahli ini dan ahli itu". 

Tidak ada yang salah. Tapi saya secara pribadi, tidak pernah menganggap luar biasa pendapat-pendapat yang bersandar dari ahli filsafat manapun. Mereka semua cuma manusia biasa. Plato, Socrates, Aristoteles, atau siapapun.

Sebagai Muslim, saya cuma ikut dan pastinya kagum dengan pendapat yang bersandar kepada Al Quran dan Hadist Nabi. Para Ulama sudah pasti. Tapi Pengamat Politik sekalipun kalau menyandarkan pendapatnya kepada Al-Quran dan Hadist, menurut saya itu keren. Sesederhana itu...

Sekarang kalau berkaitan dengan ucapan Bung Rocky yang dianggap menghina Presiden Jokowi, menyebutnya "bajingan tolol", menurut saya memang jelas-jelas penghinaan kepada Presiden. "Bajingan Tolol" adalah dua kata makian. Namanya memaki sudah pasti tujuannya menghina.

Tapi saya juga tidak sepakat kalau Bung Rocky sampai harus dilaporkan ke Polisi. 

Dari dulu sampai sekarang, pendapat saya tidak akan berubah. Namanya Presiden dan semua jabatan publik yang digaji oleh Negara memang harus siap dimaki dan dihina. Termasuk Pak Jokowi. Bahkan termasuk Pak Prabowo sebagi Menhan. Sekalipun misalnya Pak Prabowo tidak pernah mengambil Gajinya sebagai Menteri.

Bagi saya pribadi, makian dan hujatan kepada Pejabat bukanlah bentuk kejahatan. Sekalipun bagi sebagian orang tidak sesuai dengan adab ketimuran kita, tapi seharusnya setiap Pejabat harus siap dengan resiko ini. Jadi "keranjang sampah" kekesalan rakyat yang tidak puas. 

Para Pejabat kita sudah kita berikan berbagai macam fasilitas dan kemewahan. Diberikan berbagai macam keistimewaan. Di Jalan saja mereka diberikan prioritas dan pengawalan. Mereka adalah kelompok elit dan berada dipuncak strata bermasyarakat kita. Semua kemewahan itu dibayar oleh rakyat.

Jadi sudah sewajarnya kalau ada rakyat yang kurang puas, atau bahkan sekedar hanya iseng, kemudian memaki-maki atau menghujat para Pejabat. Anggap saja resiko Jabatan. Kalau tidak siap dengan resikonya, ya jangan jadi pejabat. 

Lagipula menurut saya sudah hukum alam. Kalau ada yang menghujat, sudah pasti ada yang memuji. Atau sebaliknya, kalau ada yang memuji, pasti ada yang menghujat. 

Yang memuji belum tentu terpuji, dan yang menghujat juga belum tentu jahat.

(fb)
Baca juga :