MAKNA BERSATUNYA UMAT TERDAHULU

MAKNA BERSATUNYA UMAT TERDAHULU

Oleh: Ahmad Syahrin Thoriq

Ketika disebut umat dahulu itu mudah bersatu, bukan berarti di zaman dulu itu tidak ada perbedaan dan juga perselisihan di tubuh umat Islam. Emang kaum muslimin itu malaikat apa? Seribu tahun lebih menjadi pemegang peradaban dunia, lalu semua adem ayem tanpa adanya gejolak sedikitpun?

Ini bahkan ada yang gagal pahamnya akut sekali, menganggap lahirnya madzhab-madzhab dalam keilmuan sebagai indikasi adanya perpecahan yang terjadi di tengah umat Islam seperti halnya munculnya firqah-firqah yang menyimpang.

Sejak kapan adanya madrasah keilmuan dan munculnya kelompok pergerakan menjadi bukti dari perpecahan? Justru itu menunjukkan keagungan dan keluasan keilmuan Islam, yang memang sayangnya agak susah untuk diterima oleh orang-orang kupeh, suka pendek dan patah-patah cara berfikirnya.

Di zaman Nabi shalallahu'alaihi wassalam saja ada kelompok-kelompok seperti Mujahirin dan Anshar. Di tubuh Anshar sendiri masih ada lagi sub suku, yaitu Aus dan Khadzraj. Yang mana masing-masing saling bersaing dan berlomba memberikan yang terbaik untuk Islam.

Dan hal itu tidaklah dicela oleh Nabi shalallahu'alaihi wassalam, justru seringnya diberi motivasi. Barulah ketika ada benih ta'asshub kesukuan, barulah beliau hadir untuk meluruskan dan mengarahkan, tapi bukan dengan cara membubarkan kelompok yang ada.

Di zaman shahabat pun kemudian lahir madrasah-madrasah kelimuan yang berbeda-beda. Dengan corak yang tentu saja tidak bisa sama. Ada madrasahnya Ibnu Abbas yang cenderung luwes, ada madrasahnya Ibnu Umar yang terkenal tegas. Juga ada madrasah Ibnu Mas'ud, Anas bin Malik dan masih banyak yang lainnya.

Tapi semuanya diikat oleh kesamaan visi tentunya, menyebarkan ilmu dan dakwah Islam ke seluruh alam. Hanya orang yang terlalu lugu saja yang kemudian menganggap bahwa perbedaan ijtihad diantara para shahabat, berarti telah terjadi perpecahan dalam Islam.

Secara politik atau pemerintahan lebih dinamis lagi. Terjadi gesekan yang sangat panas, sebagian masih dalam ranah ijtihad, tapi tak bisa dipungkiri sebagian lain sudah masuk ke ranah ambisi. Dinasti pun silih berganti memegang tampuk pemerintahan Islam.

Tapi begitulah, peradaban kaum muslimin di masa lalu seindah dan sehebat apapun, tetaplah itu peradaban para manusia biasa yang tidak ma'shum, yang tentu akan selalu ada cacat dan kekurangannya.

Namun meski demikian, bisa kita saksikan, begitu mereka dahulu terpisah, mudah sekali untuk kembali terhubung. Saat mereka terbelah, tidak sulit untuk menyatukan kembali.

Bacalah sejarah, maka anda pasti akan tahu, bahwa umat Islam di masa lalu tidak akan mungkin mampu membangun peradaban yang tinggi memukau, kalau mereka tidak mau bersatu.

Dan kegagalan anda ketika memahami bahwa persatuan hanya bisa terwujud ketika tidak ada perbedaan. Kapan dan di mana pernah ada persatuan dengan model yang anda maksudkan itu?

Karena realitanya secara dalil dan fakta bersatu itu tidak harus melebur menjadi satu. Tapi bisa berpadu meski berbeda corak, warna dan perannya, itulah persatuan.

Karena memang sebagian perbedaan itu ada yang sudah sunnatullahnya begitu. 

Ah anda ini koq begitu saja nggak (mau) tahu, jadi orang mohon jangan terlalu lugu. Lucu tahu....

(*)
Baca juga :