FIRAUN YANG MEMINDAHKAN IBUKOTA

FIRAUN YANG MEMINDAHKAN IBUKOTA

Di masa lima tahun menjabat, Firaun bernama Akhenaten memindahkan ibukota sejauh 300 km dari Thebes. Nama kota itu adalah Akhetaton (artinya "cakrawala Aton"), atau dikenal juga dengan Tell el-Amarna. Belum pernah Firaun sebelumnya yang melakukan hal semisal itu. Nama aslinya sebenarnya Amenhotep IV, namun setelah menjabat ia mengubah namanya.

Firaun ini paling kontroversial karena kecenderungan religiusnya berbeda dari Firaun-Firaun sebelum dan sesudahnya. Salah satunya adalah kebijakannya menghancurkan patung-patung Mesir, tidak mengikuti mitologi dewa-dewa Mesir, melainkan menyembah satu sesembahan. 

Mesirologi barat memandang, dia menyembah matahari, sebagian lainnya memandang dia menyembah kekuatan yang menciptakan matahari. Tidak hanya itu, sebagian peneliti Muslim, Akhenaten ini orang mengikuti ajaran para Nabi terdahulu (!). Bahkan tidak sedikit para Penulis mengaitkannya dengan era Nabi Yusuf (!)

Bahkan seorang penulis dari KSA dalam karyanya berjumlah sekitar 500 halaman juga mengaitkan dia dengan Dzulqarnain, dan sejumlah karya cendekiawan Muslim juga mengaitkannya dengan seseorang yang dekat dengan monoteisme, dan sebagian karya itu belum diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia.

Karena kontroversial, seluruh catatan mengenai dirinya dihapus dan dibanned di rezim-rezim setelahnya (damnatio memoriae), dan di saat yang sama, para Fir'aun setelahnya merestorasi hirarki tuhan-tuhan Mesir Kuno. 

Begitu kontroversialnya, hingga Sigmund Freud, seorang psikoanalis Jerman mengatakan, Moses adalah pendeta dari Akhenaten, sebagaimana Haman terhadap Ramses II. Karena itu, Sigmund Freud menganggap, monoteisme lahir dari Firaun!

Kembali ke pemindahan ibukota; tidak lama setelah rezimnya usai, ibukota itu hancur, ditinggalkan, dicampakkan, dan ditemukan kembali oleh para peneliti barat berabad-abad kemudian.

The rebel Pharaoh!

(Written for historical purposes only)

*Dirangkum dari buku "Firaun, Haman, dan Misteri Piramida". Pustaka Al Kautsar, 2021.

(Wisnu Tanggap Prabowo)