Tidak Usah Membahas Lesti Kejora

Tidak Usah Membahas Leslar

11 tahun silam, beberapa saat sebelum menuju ke Asmat melalui Bandara Mozes Kilangin, berdua dengan seorang teman, kami menyaksikan seorang ibu tersungkur, roboh, kena kepalan tangan seorang laki-laki, yang ternyata suaminya sendiri. Otomatis kami ingin melerai. 

Pak Ainun, penghubung yang kami andalkan untuk mencari tiket, segera meminta kami untuk mundur. Dia meminta kami dengan tegas untuk tidak ikut campur. Katanya, nanti malah bisa disalahin.

Ibu yang sempat roboh tadi sudah bangun lagi ketika kami masih mempertanyakan mengapa tidak boleh membantu orang yang tengah mendapatkan kekerasan fisik. Dia berdiri tegak, kokoh. Hantaman yang telah merobohkannya ternyata tak membuatnya jera untuk melanjutkan pertengkaran, keplak-keplakan lagi…

Perkawinan itu memang ibadah berisiko. Kalau terjadi masalah, orang luar ngga usah berpihak. Kalau mau gebuk-gebukan ya siapkan fisik yang baik. Kalau jadi korban, tinggal lapor polisi.

Jangan salah, KDRT itu belum tentu dilakukan oleh laki-laki. Perempuan pun bisa ringan tangan sekali nggebukin suaminya. Kalau tak percaya menikahlah atau minimal pacaran dengan Sarpakenaka.

Seumpama bertengkar, kalo ngga digigit urat lehermu ya dikruwes rupamu. Itu sampe petugas kelurahan ngga percaya bahwa kamu penduduk bumi. Lebih ngga percaya lagi ketika kamu masih tetep mau balikan dan indehoi dengan Sarpakenaka.

Mat Dogol
Tinggal di Alengka, juga di Endonesa

*fb