JOKOWI DAN TRAGEDI KANJURUHAN

JOKOWI DAN TRAGEDI KANJURUHAN

Oleh: Farid Gaban (Wartawan Senior)

Sebelum berkunjung ke Malang, Presiden Jokowi mengatakan ingin tahu "akar masalah" mengapa Insiden Kanjuruhan begitu banyak memakan korban.

Di Malang, beliau mengujungi Stadion Kanjuruhan. Apa kesimpulan yang beliau temukan?

"Pintu stadion kecil dan sebagian terkunci. Tangganya curam," kata Presiden Jokowi di depan kamera MetroTV. "Itu yang menimbulkan banyak korban."

Kita sudah lama tahu reputasi Pak Jokowi yang sangat peduli pada detil (micro-management). Kita juga sudah lama tahu obsesi beliau kepada infrastruktur fisik. Masih ingat beliau masuk gorong-gorong?

Tapi, statement di atas benar-benar sangat mengecewakan di tengah duka mendalam warga Aremania Malang.

Jika pintu dan tangga stadion menjadi akar masalah, solusi logisnya adalah membangun stadion baru dengan pintu lebih besar, selalu terbuka dan landai tangganya. Dan soal akan selesai. Tapi dalam mimpi.

Melihat masalah dengan lensa mikro kadang menyesatkan pemahaman kita pada soal yang lebih besar dan mendasar, apalagi jika kita cuma melihat hal fisik.

Atau Presiden Jokowi memang sengaja sedang mengecilkan masalah, untuk menghindari solusi substansial dan struktural dalam kapasitasnya sebagai presiden?

Presiden Jokowi nampak menghindari fakta bahwa polisi menembakkan gas air mata ke arah tribun penonton. Itulah pangkal masalahnya.

Pintu kecil dan tangga curam tak masalah jika orang tidak berebut keluar stadion. Dan orang berebut keluar karena tak tahan paparan gas air mata.

Berdesakan di ruang sempit, kurang oksigen, saling sikut atau injak, itulah yang mematikan. Orang Inggris mengatakan stampede.

Dalam kondisi normal, di ruang terbuka, gas air mata tidak mematikan. Gas ini cuma bikin mata pedih dan sesak nafas.

Polisi yang sering menghadapi demonstran tahu, gas air mata paling efektif membubarkan kerumunan massa atau memaksa orang keluar dari persembunyian.

Menyemprot gas air mata itu ibarat menyemprot asap ke lubang tikus, agar tikus keluar untuk bisa digebah, ditangkap atau dibunuh.

Hal pertama yang harus dipertanyakan Presiden Jokowi adalah apakah polisi paham kondisi pintu dan tangga sebelum menembakkan gas air mata ke kerumunan?

Jika polisi tahu kondisi pintu dan tangga tapi tetap menembakkan gas air mata, jelas itu keteledoran yang mematikan.

Dan itu perkara sangat serius ketika menewaskan 130 lebih orang, menjadikannya salah satu tragedi sepakbola paling buruk di dunia.

Tragedi Kanjuruhan bukan tentang infrastruktur fisik pintu dan tangga, tapi tentang watak dan kapasitas manusia orang-orang yang memegang senjata, bahkan jika itu cuma pelontar gas air mata.

Jika polisi lapangan tak tahu dampak gas air mata terhadap kerumunan di ruang tertutup, kita sedang menghadapi problem serius sistem kepolisian. Apalagi jika tahu tapi tak peduli nyawa orang.***