GAWAT! Anggaran Proyek Kereta Cepat Membengkak, Indonesia Masuk ke Lumpur Hidup!

[PORTAL-ISLAM.ID]  Pembangunan Mega proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung kian disorot terutama soal pembengkakan anggaran dengan kenaikan yang mencapai 27 triliun dan disebut-sebut membebani anggaran negara.
Pembengkakan anggaran ini, turut disoroti oleh mantan sekretaris Badan Usaha Milik Negara (BUMN), bahwa pembengkakan biaya seolah-olah tanpa batas menunjukkan ada masalah serius di proyek itu.

Menurut dia, hal ini dapat menenggelamkan PT KAI itu sendiri dan rakyat, jika lepas dari tanggung jawab pemerintah.

“Pembangunan Kereta Api Cepat sudah bagaikan memasukkan bangsa ini ke lumpur hidup, makin digerakkan bisa menenggelamkan PTKAI dan rakyat,” tegas Said Didu melalui cuitannya di Twitter dikutip Monitor Indonesia, Kamis (13/10).

Untuk itu, ia meminta agar proyek investasi BUMN dan China itu segera diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), sehingga Penyertaan Modan Negara (PMN) yang akan diberikan memiliki landasan hukum yang kuat.

“Karena biaya makin membengkak dan terus tertunda maka sdh selayaknya proyek ini dilakukan audit investigasi utk solusinya,” tukasnya.

Sebagai informasi, proyek KCJB dibangun konsorsium BUMN, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), yang terdiri atas PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Kereta Api Indonesia/KAI (Persero), PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PTPN VIII dengan kepemilikan saham masing-masing 38%, 25%, 25%, dan 12%.

PSBI membentuk perusahaan patungan bersama konsorsium perusahaan Tiongkok, Beijing Yawan, dengan nama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Porsi kepemilikan PSBI di KCIC adalah 60%, sedangkan Beijing Yawan 40%.

Proyek KCJB yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) dibangun mulai awal 2016 dan ditargetkan rampung pada 2019.

Namun, proyek KCJB mengalami cost overrun (kelebihan biaya) dalam pengerjaannya.

Pemerintah akhirnya memundurkan target penyelesaian proyek KCJB hingga Juni 2023.

Adapun pembengkakan biaya proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung ini menjadi 8 miliar dollar AS atau setara Rp 114,24 triliun, bertambah 1,9 miliar dollar AS (Rp 27,09 triliun) dari rencana awal sebesar 6,07 miliar dollar AS yang ekuivalen dengan Rp 86,5 triliun. [MI]