Analogi Jokowi Milih Presiden Seperti "Pilot" Malah Menampol Dirinya Sendiri

Sama seperti Presiden Jokowi, saya pun buka-buka Nas Daily di Youtube. Entah kenapa, saya, kok, malah berpikir si pilot kedua lebih mirip dia, ya!

Saya ikuti berita tentang sindirannya dalam pidato di HUT Partai Golkar beberapa hari lalu. Dia katakan jangan sembrono, jangan emosional dalam memilih presiden. Sebab presiden itu seperti pilot yang mengangkut banyak orang. 

Katanya, jangan pilih pilot yang menjanjikan rakyat akan duduk di business class dan didiskon tarifnya. Itu tidak masuk akal, meskipun kemungkinan besar orang akan mudah tergiur janji itu. 

Mungkin dia mau bilang jangan pilih Anies Baswedan yang sudah dideklarasikan Partai Nasdem dkk sebagai bakal capres itu, sebab mulut Anies manis dalam berkata-kata. 

Tapi saya kurang suka membahas siapa dukung siapa. Sebab, bagi saya, politik adalah seni mengemas sesuatu menjadi omong-kosong untuk meraih kekuasaan pribadi/kelompok. Contoh 'omong-kosong' itu adalah mengutip Nas Daily di suatu forum politik.

Nama asli Youtuber itu adalah Nuseir Yassin. Lulusan Harvard. Ia lahir dari keluarga Arab-Palestina, agamanya ditulis oleh berbagai media adalah Muslim Non-Religius (saya tak tahu apa maksudnya). Ia pegang paspor Israel. Itulah mengapa pada 2018---Jokowi adalah presidennya---ia ditolak masuk Indonesia. Padahal Nas ingin ke Indonesia demi tujuan konten semata dan tak ada tendensi politik. 

Jadi orang ini ditolak masuk Indonesia tapi kontennya dikutip oleh presiden negara yang menolak itu. 

***

Jokowi justru secara serampangan menafsirkan konten Nas Daily. Ia membuat makna sebenarnya menjauh. Celakanya adalah sosok pilot kedua itu justru lebih mirip dirinya. Coba ingat-ingat janji Jokowi semasa kampanye dan rasakan apa yang terjadi selama ia memerintah. 

Katanya memberantas korupsi tapi KPK lemah semasa kekuasaannya (tanyakan ke ICW yang pernah menyebutnya gagal menjadi panglima pemberantasan korupsi). Katanya menuntaskan kasus HAM Trisakti-Semanggi dll tapi tanyakan saja ke KontraS apa hasilnya. Katanya tidak usah utang, tapi malah mengandalkan utang (Menkeunya bekas eksekutif Bank Dunia, yang dijuluki oleh beberapa kalangan sebagai rentenir global). Katanya, urusan IT adalah urusan sepele dua minggu. Katanya Prakerja bikin orang bisa masuk Pertamina. Katanya BBM tidak naik. Katanya...

Kita kutip cover Majalah Tempo edisi 16-22 September 2019: Janji Tinggal Janji Jokowi!

Kesimpulannya: mulut Jokowi pun semanis madu.

Jadi, jika Anda sudah terlanjur kerasukan madu itu, Anda akan mudah percaya bahwa pemimpin berikutnya harus yang sejalan dengan dia---baca: kesayangannya. 

Siapa dia? Erick Thohir, sang Menteri BUMN, seperti saya kutip dari judul berita Tribunnews: "Kesayangan Jokowi, Erick Thohir Bisa Jadi Presiden atau Wapres."

Narasumber berita itu Menteri Agama cum Ketum GP Ansor, organisasi di mana Erick Thohir sudah mengikuti 'ospek' dengan cara merayap-rayap di tanah beberapa waktu lalu. 

Sampai sebegitunya, ya.

Siapa pasangannya? Ganjar Pranowo, seperti judul berita Warta Kota Live: "Restu Presiden Jokowi akan Jatuh pada Ganjar Pranowo-Erick Thohir, Miliki Elektabilitas Tertinggi".

Begitulah!

Mungkin bait lagu "Everybody Knows" karangan musisi Yahudi-Kanada, Leonard Cohen, lebih tepat menggambarkan situasi pemerintahan Jokowi saat ini:

Everybody knows that the boat is leaking/Everybody knows that the captain lied.

Kapal bocor, kaptennya bohong!

***

Di atas semuanya, yang terpenting adalah memetik inti konten Nas Daily. Bukan tentang pilotnya melainkan membaca secara utuh maksud di balik itu sebagai sebuah kritik ideologi dan praktis politik pemerintahan. Mengapa demokrasi menghasilkan 300 juta orang miskin di India dan otoritarianisme China justru menelurkan 300 juta orang kaya (meskipun Nas tidak menganjurkan otoritarianisme)? 

Nas mengkritik demokrasi dan menghadap-hadapkannya dengan alternatif lain, yakni teknokrasi dan epistokrasi. Semangatnya adalah "... to fix democracy". 

Ia concern terhadap pemegang kekuasaan yang dipilih oleh masyarakat yang tidak tahu cara memilih sehingga menghasilkan pemimpin yang tidak memiliki keahlian dan pengetahuan di lapangan pemerintahan. 

Masyarakat memilih pemimpin tidak berdasarkan rasionalitas tetapi hanya feeling berdasar bujuk rayu. Dalam praktiknya, kerap kali pemilu adalah ajang menguatkan emosi pemilih melalui hoax/fake news dengan tujuan memilih calon tertentu.

Itu pesan yang ada dalam dua kontennya berjudul: "Why I'm Scared of Democracy" dan "Why Democracy Doesn't Work". 

Seharusnya Jokowi tonton video Nas Daily yang berjudul "Why This Country is So Happy". Denmark, Swedia, Norwegia, dan nomor satu Finlandia. Mereka hidup bahagia karena di sana dijamin pendidikan gratis, kesehatan gratis, kebebasan berpendapat, work-life balance, kepercayaan yang tinggi terhadap pemerintahan adil dan bersih... Negara-negara itu bukan negara terkaya seperti USA, China, UK tapi mereka bahagia. 

Duit bukan selalu ukuran kebahagiaan. Happiness is not about what you have but what you do with what you have!

Apa rahasianya? EQUALITY!

Uang negara terbesar dialokasikan untuk hal mendasar seperti pendidikan, kesehatan, dan sejenisnya sebab itu merupakan hak asasi manusia. Pejabatnya jujur, tidak korup sehingga dipercaya. Terdapat kesetaraan antarmanusia tanpa memandang SARA, gender, dsb. 

Itulah yang membuat orang bahagia: ada keadilan, kebebasan, kesetaraan.

Di sini kagak! Contohnya di balik Rp600 ribu/bulan yang dibagikan ke setiap peserta Prakerja, terdapat triliunan rupiah yang dinikmati sebagian kecil pengusaha platform digital yang memiliki akses terhadap kebijakan dan kekuasaan. Di balik gembar-gembor unicorn, terdapat Rp6,4 triliun uang BUMN yang dikasihkan ke perusahaan milik kakak menteri kesayangan Jokowi yang merayap-rayap di tanah itu...

Ketidakadilan-ketidakadilan lain silakan tulis di kolom komentar. Saya yakin banyak dari Anda yang merasakannya.

Salam.

(Agustinus Edy Kristianto)