"Tembak dia!" Teriak Sang Jendral

"Tembak dia!" Sang Jendral kembali memerintahkan dirinya yang saat itu berdiri di anak tangga. 

"Cepat tembak!" kembali sang Jendral memberi perintah. Kali ini dengan suara yang lebih tegas.

Dengan tangan gemetar, Bharada Richard Eliezer alias Bharada E mengarahkan pistol yang dia pegang ke arah sahabatnya yang berlutut sambil meletakkan tangan di belakang kepala. 

"Tembak!" Suara menggelegar memenuhi ruangan, suara dari sang jendral. 

Sejenak, pikirannya bimbang. Sementara itu, di depannya, sahabatnya menatap nanar, pandangan matanya seolah memohon agar tidak menarik pelatuk.

Dia memejamkan mata sesaat sebelum menarik pelatuk dan memuntahkan anak peluru yang melesat cepat menembus tubuh sahabatnya, bukan sekali, hingga peluru berikutnya meluncur deras menembus bagian tubuh yang lain hingga tubuh sabahabatnya itu jatuh tersungkur.

Dan kemarin, sang Bharada harus mengulang adegan yang sama. Adegan di mana dia dipaksa menghabisi nyawa sahabatnya sendiri.