DUKA DAN PESTA (Antara Kematian Elizabeth II dan Muhammad Al-Fatih)

DUKA DAN PESTA

Mobil Jaguar XF itu berjalan perlahan. Tepuk tangan riuh sesekali terdengar dari kerumunan penonton yang berdiri di pinggir jalan yang terlewati.

Hari ini, Senin (19/9/2022) jenazah Queen Elizabeth II dibawa ke lokasi pemakamannya, Westminster Abbey.

Westminster Abbey adalah gereja dengan arsitektur khas Inggris yang merupakan tempat penobatan raja dan ratu Inggris sekaligus tempat pemakaman mereka.

Sebuah prosesi pemakaman yang megah disiapkan. Mobil yang membawa jenazah berjalan perlahan diiringi pasukan berkuda, marching band, dan segala tanda kebesarannya.

Presiden Amerika Joe Biden hingga Presiden Turki Erdogan mendapatkan undangan untuk menghadiri acara pemakaman tersebut.

Sepertinya pemakaman ini merupakan pemakaman termegah di abad ini. Bak cerita dongeng tentang ratu yang mangkat.

Upacara ini sekaligus menandai berakhirnya prosesi selama 10 hari. Meriam-meriam ditembakkan untuk memberikan penghormatan terakhir.

Tembakan meriam ini mengingatkan ketika Eropa berpesta menandai mangkatnya Sang Pembebas Konstantinopel Sultan Muhammad Al Fatih.

Begitu kabar wafatnya tersiar pada bulan Rabiul Awal tahun 887 H atau 3 Mei 1481 M, penduduk Rhodesia seketika melakukan ibadah untuk mensyukuri kematian Sultan.

Paus di Roma memerintahkan gereja-gereja segera dibuka dan melakukan ibadah khusus untuk mensyukuri berita gembira itu.

Gelombang manusia memenuhi jalan-jalan. Mereka menyanyikan lagu-lagu kemenangan dan kegembiraan, seraya diramaikan dengan dentuman meriam.

Pesta berlangsung di Roma selama tiga hari berturut-turut. Dengan kematian Sultan Muhammad Al-Fatih, mereka merasa terbebaskan dari seorang musuh yang paling berbahaya dan ditakuti.

Bandingkan dengan adab yang dicontohkan Rasulullah SAW saat ada jenazah Yahudi yang dibawa melintas di hadapannya.

Rasulullah SAW berdiri untuk menghormati, yang kemudian “diprotes” sahabat, “Ia seorang Yahudi,” yang dijawab Rasulullah SAW dengan indah, “Bukankah ia juga manusia?”

Sesungguhnya prosesi pemakaman bukanlah akhir, namun awal dari sebuah perjalanan yang sangat Panjang. Apa yang kita saksikan hari ini seharusnya menjadi pelajaran.

Jakarta, 19/9/2022

(Uttiek M Panji Astuti)