Bersyukur Sekali Rakyat Yang Hidup di bawah Kepemimpinan Umar bin Khattab


"Kau sedang menyelidiki sebuah kasus lagi ya?" tanya Ibrahim sambil menepuk pundak sahabatnya.

"Ya, begitulah. Ada laporan lagi dari rakyat yang harus diusut," jawab Muhammad Ibnu Maslamah sambil meluruskan kakinya. Ia bersandar di salah satu tiang masjid.

Masjid selalu jadi tempat pertama sang penyidik mencari kebenaran, dan mengonfirmasi kelakuan miring para pejabat. Ia sudah mengantongi puluhan daftar ulama dan aktivis masjid yang harus ia wawancarai.

"Sudah berapa kasus yang kau tangani?" tanya Ibrahim lagi sambil ikut menyandarkan punggunya ke tiang masjid.

"Dalam waktu dekat ini, setidaknya ada tiga. Pertama, Gubernur Kufah, Saad bin Abi Waqash." Muhammad memulai kisahnya.

"Tunggu! Dia kan termasuk 10 sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk Surga? Wah, bisa kena hukum juga ya?" potong Ibrahim keheranan.

"Tentu saja, siapapun kalau salah harus dihukum. Ia ditegur karena membangun rumah layaknya istana, dengan pagar tinggi, dan punya penjaga di depan rumah.

Katanya pak gub kelelahan, tidak punya jam tidur, dan kehilangan privasi karena rakyat terus menerus datang ke rumahnya. Jadilah ia harus buat pagar dan punya penjaga rumah.

Mendengarnya Amirul Mukminin kesal sekali. 'Tiap pemimpin harus bisa didatangi rakyatnya setiap saat!'" Muhammad menirukan gaya Umar bin Khattab.

"Akhirnya pagar rumah itu dirubuhkan. Penjaganya dipindahkan ke belakang rumah," ujar Muhammad Ibnu Maslamah. 

"Kedua, Gubernur Basrah, Abu Musa Al-Asy'ari. Ia bersalah karena pembantunya memasak makanan yang terlalu mewah. Hasil masakan pembantunya langsung dicicipi oleh Umar bin Khattab loh! Dan benar saja, katanya makanan itu terlalu enak untuk seorang pejabat.

Kau tahu dong ada sumpah jabatan berupa larangan makan mewah. Makanan para pejabat harus sama dengan rakyat biasa," ungkap Muhammad Ibnu Maslamah.

"Ketiga, Gubernur Mesir, Ayyad Ibn Ghanam. Ia kena delik karena punya penjaga rumah dan bajunya mahal-mahal.

Katanya pak gub merasa keselamatannya terancam, 'Rakyat Mesir ini berbahaya, aku takut mereka akan membunuhku'," tutur Muhammad Ibnu Maslamah.

Ibrahim bergidik mendengarkannya, "Waduh menyeramkan sekali rakyat Mesir!"

Bapak penyedik (Muhammad Ibnu Maslamah) malah tersenyum dan berkata, "Kau tahu apa yang Amirul Mukminin katakan? 'Kalau takut mati, kau tak pantas jadi gubernur!' Wah kepala negara kita marah sekali.

Penjaga itu lalu dibebastugaskan. Baju mewah pak gub disita, diganti pakaian sederhana. Pak gub juga dihukum menggembalakan kambing selama satu bulan oleh Umar bin Khattab," Muhammad tak mampu menahan tawa.

"Itu lucu sekali! Dan hukuman menggembala kambing itu sukses menyadarkannya. Pak gub menyadari ia hanyalah orang biasa, tanpa jabatan dan baju mewahnya itu," Muhammad menyelesaikan ceritanya.

"Bersyukur sekali aku hidup di bawah kepemimpinan Umar bin Khattab. Ia benar-benar pemimpin yang adil. Dan kau juga penyidik yang luar biasa! Kudengar kau tak bisa disuap dengan uang berapapun ya!" tanggap Ibrahim sambil tersenyum bahagia.

"Alhamdulillah.. Allah memberiku kesempatan ini. Semoga tak ada rakyat yang terdzolimi, semoga tak ada suara rakyat yang terabaikan, semoga keadilan dan kebenaran selalu tegak, hingga Allah selalu memberkahi negeri ini."

___
*Diolah dari Ceramah Ustadz Agung Waspodo, MPP "Kebijakan Umar bin Khattab pasca Pembebasan Negeri Syam" - Akun Youtube Masjid Raya Bintaro Jaya TV.

[VIDEO]