Membenturkan ISLAM-ARAB dengan Budaya Lokal, Itulah Warisan Adu Domba KOLONIAL

Oleh: Fitriyan Zamzani (Jurnalis Republika)

Saya dulu ndak begitu serius baca "The Wretched of the Earth"-nya Ibrahim Frantz Fanon. Tapi yang ia takutkan dalam buku itu agaknya mewujud dalam diskursus di Indonesia saat ini, bahwa kita orang masih terkungkung dengan pola pikir yang ditanamkan para kolonialis. 

Bukan rahasia, soal budaya Jawa yang adiluhung dan superior ketimbang yang diimpor dari "Gurun" adalah rekayasa budaya kolonialis Belanda. 

Trauma Perang Jawa yang dilancarkan Diponegoro, membuat kolonialis memandang ide-ide revolusioner dalam Islam terlalu berbahaya. Orang-orang Jawa, harus dijauhkan dari Islam sejauh-jauhnya. Terjemahan-terjemahan karya-karya Bahasa Arab dilarang, dan segregasi (pemisahan) komunitas didorong. 

Dalam hal itu, mereka-mereka yang berdalih dengan kukuh membela "budaya Nusantara" melawan "budaya Arab/Islam" atau budaya manapun, sadar maupun tak sadar, bukan sedang membela puak mereka. Mereka sedang melestarikan politik adu domba masa lalu. 

Orang-orang ini, para "pembela budaya", lupa bahwa kebinekaan yang sebegini semarak di Nusantara bisa mewujud karena keterbukaan kita terhadap budaya mereka-mereka yang singgah. Bahasa kita adalah campuran Melayu-Arab-Sansekerta-Portugis-Belanda-Inggris-dll. Pakaian adat kita mengambil unsur dari banyak budaya asing. Makanan-makanan khas kita dipengaruhi kuliner lokal, India, Cina, Timur Tengah, Eropa. Arsitektur kita dibentuk ide-ide dari India, Cina, Timur Tengah, Eropa, Kepulauan Pasifik. Musik kita ada bebunyian lokal dicampur dari Timur Tengah, India, Portugis, dan Cina. 

Fanon menekankan, kita orang bangsa-bangsa yang sempat terjajah ini harus melepas juga pola pikir yang ditanamkan kolonialis dan kembali ke akar. Dalam hal ini, mungkin ada baiknya kita kembali ke jati diri kita orang Nusantara yang terbuka atas hal-hal baik dari luar, dan melepas hal-hal tak begitu baik meskipun ia warisan para leluhur… Dengan begitu, barangkali kita bisa benar-benar merdeka…

(*)