Shehbaz Sharif, Tersangka Korupsi Yang Diangkat Jadi Perdana Menteri Pakistan, Gantikan Imran Khan Yang Dilengserkan

PEMIMPIN baru dari stok lama. Anda pun sudah terlalu tahu: Imran Khan berhasil dilengserkan. Pakistan punya perdana menteri baru: Shehbaz Sharif. Dalam status tersangka. Kasus korupsi. 

Umurnya kini 70 tahun. Shehbaz sudah pernah ditahan enam bulan tapi belum disidangkan di pengadilan. Oktober lalu Shehbaz dikeluarkan dari tahanan –dengan uang jaminan. 

Sampai Imran lengser Minggu lalu, kasus Shehbaz belum juga disidangkan.

Kini Shehbaz perdana menteri. Kekuasaan mungkin bisa menyelesaikan kasusnya –kalau KPK di sana punya mekanisme SP3. "Perkara ini penuh dengan motif politik," ujar Shehbaz berkali-kali.

Waktu itu kakaknya, Nawaz Sharif, menjabat perdana menteri Pakistan. Harus dilengserkan. Dengan segala cara. Termasuk dengan tuduhan korupsi. Sang kakak ditahan. Penahanannya dramatis sekali.
Di tahanan Nawaz sakit. Tidak boleh ditangani dokter pribadi. Harus dokter tahanan. Sakitnya semakin parah. Setelah debat di publik yang seru akhirnya Nawaz diizinkan berobat ke London. Salah satu anaknya memang tinggal di sana.

Kekhawatiran sebagian publik pun Pakistan benar: ia tidak mau pulang lagi –biar pun sudah sembuh. Sampai sekarang belum pernah disidangkan.

Maka adiknya, dan putrinya yang sangat sangat cantik itu, Maryam, diincar KPK sana. Berkali-kali mereka diperiksa dalam kasus korupsi yang melibatkan Sang Kakak. Akhirnya Sang Adik ditetapkan sebagai tersangka. 

Waktu itu jabatan sang adik baru saja menjadi ketua umum partai keluarga ini: PML-N (Pakistan Muslim League Nawaz). Ia baru menggantikan jabatan Sang Kakak yang sedang ditahan.

Sang Kakak tidak diberhentikan, tapi didudukkan sebagai semacam ketua Dewan Syura partai. Sedang Sang Putri, Maryam, menjadi semacam ketua harian di partai itu.

Mereka memang keluarga politik. Juga keluarga kaya raya. Tergolong kaya lama –untuk membedakan dengan fenomena OKB. Perusahaannya banyak: besar dan besar sekali. Pabrik bajanya terkenal. Pabrik gulanya di mana-mana.

Mereka sangat mengerti ekonomi. Mereka suka geregetan melihat pengelolaan ekonomi negara. Lalu terjun ke politik.

Sang kakak berhasil menjadi perdana menteri.

Dijatuhkan.

Jadi perdana menteri lagi.

Dijatuhkan lagi.

Lalu jadi perdana menteri lagi.

Masih dijatuhkan lagi. Bahkan, kali itu, sampai masuk tahanan tanpa fasilitas khusus.

Pertama jadi perdana menteri, di umur 40 tahun, Nawaz mengganti ideologi nasionalis klan Bhutto ke ekonomi liberal.

Privatisasi dilakukan.

Bisnis penukaran uang asing dibuka, infrastruktur dibangun dan ekonomi dikibarkan.

Tapi koalisinya pecah. Terjadi krisis politik. Militer campur tangan lagi.

Nawaz mengatasi krisis dengan membubarkan parlemen. Gagal. Kompromi terjadi: Nawaz setuju mundur, tapi Presiden juga harus mundur dan militer tidak boleh lagi aktif di politik.

Pemilu berikutnya Nawaz jadi perdana menteri lagi. 

Kejatuhan Nawaz yang kedua lantaran dikudeta oleh militer: Jenderal Musharaf. Itu karena ia ingin mengganti panglima militer di sana. Militer ia anggap masih berpolitik. 

Waktu itu Nawaz masih muda. Kaya. Pernah jadi Gubernur Punjab. Ia justru memerintahkan polisi untuk menangkap Jenderal Mushafar. Tentu Nawaz gagal. Bahkan diancam dijatuhi hukuman mati.

Hanya Raja Arab Saudi –yang punya banyak bisnis-- yang menyelamatkannya. Nawaz diungsikan ke Saudi. Sembunyi di sana: 10 tahun. Ia berjanji tidak akan berpolitik selama 21 tahun.

Setelah pulang Nawaz ikut Pemilu lagi. Menang. Jadi perdana menteri kali ketiga. Yang dijatuhkan oleh tuduhan korupsi itu. 

Sang Adik, Shehbaz, jadi pemimpin politik juga. Di tingkat provinsi: Punjab. Itu provinsi terpenting di Pakistan –secara ekonomi dan sumber daya manusia.

Pakistan adalah Punjab. Punjab adalah Pakistan.

Lohore dan Rawal Pindi ada di Punjab. Ibu Kota Negara yang baru, Islamabad, ada di Punjab.

Puncak jabatan Sang Adik adalah gubernur ''Pakistan Kecil'' itu: Punjab. Dua periode. Dan sekarang giliran Sang Adik yang menjadi perdana menteri.

Imran Khan dari suku Pashtun.

Shehbaz dan Nawaz suku Punjabi.

Imran Khan berangkat dari popularitasnya sebagai atlet olahraga kriket dalam tim juara dunia.

Shehbaz dan Nawaz berangkat dari bisnis kelas konglomerat.

Imran mengibarkan bendera 'perubahan'.

Shehbaz dan Nawaz memperjuangkan pembangunan ekonomi.

"Perubahan tidak bisa dilakukan hanya dengan kata-kata". Itulah kalimat yang diucapkan Shehbaz dalam pidato pertamanya sebagai perdana menteri baru, kemarin. Arahnya jelas: menyindir Imran yang baru saja ia gantikan.

Imran memang masuk ke politik dengan mengusung tema perubahan –nebeng popularitas sukses motto Barack Obama di Amerika. 

Jalan tol Pakistan dibangun di zaman Sharif Sang Kakak. Jalan itu membelah Pakistan dari Selatan (Karachi) ke Utara (Islamabad). 

Poros Pakistan-Tiongkok didirikan di era Sharif Sang Kakak. "Nawaz memang hebat. Saya pendukungnya," ujar sopir yang membawa saya melewati jalan tol itu sebelum pandemi. 

Pun, pelabuhan gajah-bengkak di Gwardar –di pantai selatan Balochistan– diserahkan ke Tiongkok di zaman Nawaz.

Hari pertama sebagai perdana menteri Shehbaz Sang Adik menaikkan upah minimum pekerja. Itu berlaku mundur: sejak 1 April lalu. Ia juga menaikkan gaji pegawai negeri, tentara dan pensiunan. Tarif listrik pun akan diperbaiki –terutama bagi yang miskin. 

Menaikkan gaji adalah langkah konkretnya mengatasi kenaikan harga-harga di banyak bidang: menaikkan daya beli.

Shehbaz juga akan memperbaiki iklim investasi –tapi perusahaan harus memperbaiki gaji buruh. "Pakistan harus jadi surga investasi," katanya.

Terpilihnya perdana menteri baru ini disambut antusias oleh pengikutnya. Mata uang Pakistan, Rupee, ikut menguat. Amerika pasti senang –terkait soal Afghanistan. Tiongkok juga senang –terkait soal bisnis. 

Tapi Imran juga punya banyak pengikut. Mereka demo di mana-mana. Setelah salat isya. Dalam jumlah besar.

Tapi –untuk sementara– Imran memang kalah. Lapangan politik ternyata beda dengan lapangan kriket. Juara dunia kriket ini kalah 0-5 di pertandingan politik di Pakistan. 

Saya sebut kalah 0-5 karena ia dan semua anggota DPR-nya meninggalkan lapangan sebelum pertandingan dimulai.

Tanpa WO itu pun ia sudah kalah 0-5.

Upayanya membubarkan parlemen gagal: 0-1. Mahkamah Agung justru memulihkan status parlemen setelah Presiden Pakistan membubarkannya.

Upayanya menggunakan taktik filibuster (lihat Disway: Taktik Filibuster) juga gagal: 0-2.

Upaya mempertahankan posisi ketua sidang pun gagal: 0-3. Sebagian anggota DPR dari partainya membelot ke Shehbaz dan Nawaz sehingga Imran kehilangan mayoritas.

Upayanya menjadikan ketua DPR sebagai calon perdana menteri baru juga gagal: 0-4.

Dan upayanya untuk memboikot DPR juga gagal: 0-5. Justru sikap WO-nya itu membuat Shehbaz menjadi calon tunggal.

Maka pimpinan sidang yang baru, Ayaz Sadiq, dari SN & Co, langsung mengambil alih pimpinan. Yakni setelah seluruh anggota DPR dari partai PTI-nya Imran meninggalkan DPR. Termasuk Ketua DPR yang memimpin sidang: Shah Mahmood Qureshi. Padahal Qureshi ini sudah telanjur memasukkan dokumen pendaftaran calon perdana menteri dari PTI.

Mereka tidak hanya WO. Mereka menyatakan berhenti sebagai anggota DPR. Mereka ngambek total. Mereka menyatakan "tidak mau jadi boneka asing".

Imran selalu mengatakan mosi tidak percaya pada dirinya itu hasil dari lobi politik Amerika. 

Pimpinan sidang yang baru, dari partai oposisi, langsung ambil palu. Ia membuka acara dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Quran.

Lalu minta petugas lonceng membunyikan loncengnya selama lima menit. Itu pertanda semua anggota DPR harus memasuki ruang sidang.

Sampai bunyi lonceng berhenti kursi-kursi dari partai pemerintah masih tetap kosong. Pimpinan sidang pun memulai acara pemungutan suara.

"Anggota yang menyetujui mosi-tidak-percaya, silakan ke lobi kiri untuk menentukan pilihan di situ," ujar pimpinan sidang sambil menunjukkan jari ke arah ruangan di kiri ruang sidang pleno.

"Yang tidak setuju mosi silakan ke lobi kanan menentukan pilihan di sana," tambahnya kepada kursi-kursi kosong.

Lembar suara pun dihitung: 174:0.

Lebih separo anggota DPR menyetujui: tidak memercayai lagi Perdana Menteri Imran Khan.

Detik itu kekuasaan Imran Khan berakhir. 

Maka acara berikutnya tinggal satu: pemilihan perdana menteri baru. Tidak sulit. Calonnya tunggal: Shehbaz Sharif. Partai yang dahulu menjadi pesaing abadinya, PPP, kali ini tidak mengajukan calon –pilih bersama lawan lama melengserkan lawan baru.

Sharif Sang Kakak pernah tiga kali jadi perdana menteri. Kini Sharif Sang Adik kali pertama jadi perdana menteri. Dua-duanya dalam status tersangka.

Betapa gembira Sang Kakak –apalagi kalau Sang Adik bisa menyelesaikan urusan perkara korupsinya.

Bagi pimpinan sidang yang baru, mana Sang Kakak dan mana Sang Adik kelihatannya tidak penting. Ia sempat salah menyebut nama Shehbaz menjadi Nawaz.

"Saya ini masih begitu cinta pada Nawaz –shohib, sampai masih terus terbiasa menyebut namanya," ujar pimpinan sidang.

Kenaikan harga-harga telah membuat kakak-adik Shehbaz dan Nawaz ini kembali berkuasa. Maryam nan cantik antre di belakang mereka. Dia juga cerdas dan sangat pandai berpidato. 

Kini Imran harus kembali masuk galadesa –harus road show dari bawah lagi tanpa tahu kapan Pemilu baru akan dilaksanakan.

Awalnya Imran mengira krisis politik ini akan ditutup dengan penyelesaian politik: Pemilu dalam waktu 90 hari ke depan.

Harapan itu ternyata meleset. Status DPR ternyata dipulihkan sehingga tidak harus segera Pemilu.

Shehbaz sendiri punya taktik baru. Ia akan menghilangkan kesan hanya sebagai perdana menterinya orang Punjab.

"Pakistan ini tidak hanya Punjab. Saya akan bangun provinsi seperti Balochistan," katanya. 

Balochistan, basis pendukung Imran, memang miskin. "Saya akan galakkan pendidikan keterampilan untuk anak-anak muda di Balochistan. Jangan hanya memberi mereka senjata api" katanya.

Itu sekaligus menyindir Imran yang awalnya mendapat dukungan besar dari Balochistan. Di provinsi yang suku Pashtunnya sangat besar ini, begitu sering terjadi ledakan bom. Dan serangan senjata api. Dan pembunuhan akibat keyakinan. Provinsi dekat Afghanistan ini begitu miskinnya.

Tragisnya, para pembelot politik yang melengserkan Imran kali ini justru datang dari para anggota DPR dari Balochistan. Koalisi Imran dengan partai lokal di sana pecah. 
Maka Putin di Rusia telah berhasil menjatuhkan Imran di Pakistan –lewat serangannya ke Ukraina.

Kini koalisi oposisi di Pakistan – utamanya PML-N dan PPP– telah naik takhta. Kedua partai masih dalam suasana asyik bulan madu. Pembagian kekuasaan baru akan dimulai -siapa menjadi menteri apa dan siapa dapat apa.

Belajar dari Pilkada di Indonesia, bulan madu Gub dan Wagub, Bup dan Wabup, Walkot dan Wawali umumnya hanya enam bulan.

Di banyak daerah, seperti di daerah penghasil minyak baru Bojonegoro, bahkan, tidak sampai satu bulan.