"dr. Tifa benci ya sama Pemerintah?"

"Doktif benci ya sama Pemerintah?"

Eits siapa bilang. Ngga ada kamus hidup saya benci sama apapun dan siapapun.

"Tapi kok nyinyir, apa apa yang dilakukan Presiden selalu salah di mata Doktif?"

Nah itu karena kau ini, Buzzer,  rabun dekat alias susah membaca, dan rabun jauh alias susah melihat.

Saya warga negara yang sangat CINTA kepada Tanah Air saya, INDONESIA. 

Dan saya rakyat yang KRITIS kepada Pemangku Kebijakan.

Kritis itu bukan benci. Kritis itu adalah sikap manusia yang punya otak untuk berpikir dengan basis data. 

Kritis itu definisi saya adalah:

Katakan yang benar adalah benar. 
Yang salah adalah salah.

Kalau Pemerintah bagus ya saya akan katakan bagus. Masalahnya selama ini yang bagus belum kelihatan, ya tidak saya komentari.

Kalau Presiden bener ya saya akan katakan bener. Misalnya tentang kesederhanaan pakai baju cuma hitam dan putih dan bikinan Penjahit langganan, atau sepatu yang murah meriah, dsb, ya saya salut, wong hartanya miliaran kok mau pake baju murahan.

Memangnya saya, pake kerudung Rp 25 ribu aja udah happy banget. Apalagi kalo pake yang Rp 250 ribu (harga kedua ini pasti ngga beli sendiri. Pasti kado. Pasti). 

Balik soal kritis.

"Lalu ini kenapa foto Pak Jokowi dipasang lagi?"

Karena begini, Mesin Tanam Padi ini harganya mahal sekali. Belum maintenance nya. Juga Traktor. Jauuh lebih mahal dari harga kerbau, sebagai alat bajak sawah. 

Siapa yang bisa beli? Petani Besar atau Petani Jelata?

Dibeliin Pemerintah? Atau harus beli sendiri?

Dikasih kredit? Yakin ngga Petani bisa lulus mengangsur setiap bulan?
Sekarang

Yang diperlukan Petani itu apa sebenarnya?

Mesin Tanam padi?

Traktor?

Atau Modal Kerja yang disubsidi Pemerintah, Harga Benih yang murah, 
harga Pupuk yang terjangkau, 
kepastian harga jual gabah, 
kepastian  perlindungan dari Kartel Tengkulak, kepastian pemasaran hasil tani.

Ini semua, pekerjaan Pemerintah, 

Yang tidak tergambar dalam segala foto traktor, mesin tanam, cetak sawah, foto selfi bersama petani, 
Berpayung di tengah sawah di tengah hujan (petani sejati akan tahu itu perbuatan yang sangat berbahaya, bahaya kesambar petir).

Sementara kondisi di lapangan, Petani menjerit-jerit terancam Pinjol, Kredit Bank tak terbayar, jeratan Rentenir,  sehingga satu demi sertifikat tergadai amblas. 
Petani tinggal jadi buruh di bekas sawahnya sendiri.

Jadi Pak Presiden, jikalau kunjungan Anda beruntun dari Kalimantan, Sulawesi, Papua, Jawa Timur, hingga Bali ini betul-betul kemudian menyelesaikan masalah-masalah Petani, saya akan puji dan apresiasi Bapak. 

Masalahnya adalah kalau kunjungan kesana kemari itu adalah untuk sekedar  bikin konten,

Nah itu masalah. Itu masalah. 

Bapak itu Presiden, yang diharapkan menjadi Solution  Creator,  bukan Content Creator.

(dr. Tifa)

*fb penulis 02/12/2021